logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Desember 2005 NASIONAL
Line

Paeman, Pengemis yang Berjiwa Sosial (2-Habis)

Banyak Tetangga yang Utang, Tak Bayar


HASIL MENGEMIS: Rumah jati yang tergolong besar milik Paeman (inzet), hasil dari kerja rutin dia sebagai peminta-minta. - SM/Djito Patiatmodjo

STATUS ekonomi boleh di bawah, tapi jiwa sosial harus selalu berada di atas. Karena itu pula, tak jarang Paeman menjadi jujugan pertama bagi tetangga yang sedang kerepotan. Sering orang datang ke rumahnya untuk pinjam uang. Hebatnya lagi, dia tidak memungut bunga sepeser pun layaknya Datuk Maringgih.

''Rezeki itu datangnya dari Allah untuk manusia, yang tentunya tak akan kita bawa kalau kita mati. Jadi, selagi kita punya dan ada yang membutuhkan, kenapa tidak kita bantu. Toh saya juga mendapatkannya dari bantuan orang lain,'' kata Paeman yang diamini oleh Jarmi dan Suparti.

Sampai di situ, filosofi Paeman yang ingin mematahkan teori sosiologi tentang manusia sebagai makhluk sosial, benar-benar menjadi mentah dan berbalik arah.

Kalau ada yang pinjam uang, berapa dia bisa meminjamkan? ''Ah, ya tidak terlalu banyak,'' ujarnya. Namun menurut Rini, sang istri, tidak tentu sekitar Rp 50.000 hingga Rp 750.000.

Ada yang nggak bayar? ''Ah, tidak tahulah,'' tutur Rini sambil tertawa. Menurut Jarmi, di antara yang meminjam itu ada pula yang sudah lama tidak mengembalikan. Namun Paeman menyikapinya dengan enteng. ''Tidak mengembalikan berarti dia masih repot dan memang tak ada uang untuk mengembalikan. Ya tidak masalah, karena uang tidak akan kita bawa mati.''

Berapa penghasilan mereka dari mengemis? ''Tidak mesti, tergantung situasi perekonomian,'' ucap Paeman.

Menurutnya, kalau sedang ramai, sehari setiap orang bisa mendapatkan minimal Rp 50.000. Namun kalau sedang sepi di bawahnya, atau bahkan menurun sampai separo dari biasanya.

Hasilnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Rini (50) istri Paeman dan Suparti yang tinggal di rumah (tak ikut ''kerja'') kebagian mengelola hasilnya.

Di antara ketiga ''kaipang'' itu, siapa hasilnya yang paling besar? Menurut para warga Jembangan, Kecamatan Batangan, Pati, tempat Paeman bermukim, Jarmi boleh dibilang sebagai ''mesin uang'' dibanding kakak lelakinya, Jasmani ataupun Paeman.

Dahulu, ketika Jarmi masih ngepos di TPI Bajomulya, Juwana, dia tak hanya dikenal sebagai peminta-minta, namun juga sebagai orang ''pemberi berkah''. Setiap nelayan yang akan melaut, hampir pasti minta doa restu pada Jarmi agar hasil tangkapannya melimpah.

Karena diposisikan sebagai ''orang pintar'', maka hasil yang didapat pun sering spektakuler. Betapa tidak, bagi nelayan yang berhasil mendaratkan ikan dengan jumlah banyak, Jarmi pasti ikut kebagian rezeki. Paling tidak, mereka (para nelayan) lantas memberikan beberapa kilo ikan, beras, dan juga beberapa puluh ribu rupiah hasil penjualan ikan.

''Berasnya terkadang kalau sudah terkumpul sampai bisa dijual lagi, karena terlalu banyak untuk dimakan sekeluarga,'' paparnya.

Belakangan ini, Jarmi menjadi ''asisten'' setia sang ayah. Ke mana pun Paeman ''buka praktik'', di situ Jarmi pasti mendampinginya. Maklum, katarak Paeman sudah semakin parah, dia perlu penunjuk arah.

Semula, ketiga ''kaipang'' ini punya daerah operasi sendiri-sendiri. Paeman beroperasi di Pasar Rembang (15 km dari rumahnya), Jarmi di TPI Bajomulyo Juwana (10 km dari rumah), dan Jasmani yang paling agak jauh, di Pasar Tayu, Pati (30 km). Namun belakangan ini Paeman mengembangkan sayapnya hingga ke Kota Solo, tepatnya di lokasi keraton.

Paeman terkadang membawa uang cukup banyak, hasil dari kerjanya itu. Menjelang Lebaran lalu, dia kehilangan uang Rp 600.000 di kamar kecil Masjid Agung Keraton Surakarta. ''Mungkin terjatuh saat saya ganti baju di kamar mandi,'' ujarnya seperti tidak menyesal.

Tentang subsidi langsung tunai (SLT) yang dibagikan pemerintah kepada warga miskin, baru-baru ini, Paeman juga mendapatkannya. Menurutnya, dari jumlah Rp 300.000 dia cuma menerima Rp 200.000, karena yang seratus ribu rupiah dipotong oleh desa untuk diberikan kepada mereka yang belum kebagian.

Kemudian, uang Rp 200.000 yang diterimanya itu, dia sumbangkan ke masjid Desa Jembangan, yang pembangunannya sudah berjalan lima tahun namun hingga kini belum kunjung jadi. ''Saya prihatin dengan pembangunan masjid desa ini, karena sudah lama tak jadi-jadi. Masih memerlukan biaya banyak.''

Lantas, dengan penyakit tumor yang diderita anaknya, apa pernah dicoba diobatkan atau dioperasi. ''Terus terang, kami tidak punya gambaran biaya untuk operasi,'' tandas Paeman tentang penyakit anaknya itu.

Pernah ada wartawan yang mewawancarai Jarmi tentang penyakitnya itu, kemudian dimuat di majalah. Memang ada yang datang dan bermaksud membantu pembiayaan pengobatan. Namun jumlahnya ternyata tak seberapa. Itu saja yang menyumbang datang bersama wartawan, katanya untuk dikorankan kalau dia sudah memberi bantuan. ''Itu terjadi ketika saya dan Jarmi beroperasi di Keraton Solo,'' ungkap Paeman.

Ketika disinggung tentang suka dan dukanya menjadi pengemis, dengan terkekeh-kekeh Paeman mengutarakan, jelas banyak dukanya. ''Apa sampeyan kuat linggih sila sedina saka esuk nganti srengenge ambles, mung nunggu wong seliweran menehi dhuwit (Apa Anda kuat duduk bersila seharian dari pagi hingga petang, hanya menunggu orang lalu-lalang memberi uang)?'' katanya tentang cara yang dipraktikkan saat dia ''bekerja''.

Bukan cuma itu, pengemis pun sering diganggu preman. Pernah ketika ada sekatenan di Solo, dia dikerumuni enam preman karena mereka tahu dia membawa uang banyak. Waktu itu dia tenang saja dan dalam posisi siap. Dia hanya bilang, ''Ayo, rebuten tasku yen kepengin pecah ndhasmu (Ayo rebut tasku kalau ingin pecah kepalamu),'' ujar Paeman menggertak.

Dan anehnya, kelompok preman tersebut ternyata takut. Masyarakat Desa Jembangan tak heran kalau Paeman cerita seperti itu, karena semasa dia masih muda dan sehat, pernah menangkap dua maling sekaligus secara sendirian.

Wah, seandainya saja Paeman konglomerat, bukan cuma masjid desa saja yang dibangunnya, namun semua fasilitas umum di desa yang tergolong tertinggal itu pasti dibenahinya pula. Dia memang terlalu sosial untuk kelas pengemis. (Djito Patiatmodjo-14v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA