| Kamis, 15 Desember 2005 | NASIONAL |
Daya Dobrak Budaya PopMASIH ingat ungkapan ''muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga"? Atau, ingat pulakah Anda tentang komentar, "Ah namanya juga anak muda?'' Ada pula ungkapan yang bernuansa tragis seperti ''only the good dying young'' atau ''hanya orang baik yang mati muda''. Dalam ungkapan terakhir, sering muncul komentar minor, ''Makanya kalau tak mau mati muda, ya jangan jadi orang baik-baik.'' Ungkapan-ungkapan itu, secara tak langsung, menjelaskan bagaimana sosok anak muda yang masih dipandang sebelah mata di dalam kehidupan sosial. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang hanya suka berhura-hura atau sekumpulan orang yang tak punya kontribusi apa pun dalam masyarakat. Benar seperti itukah? Tunggu dulu. Benar, memang ada sekumpulan anak muda, yang tak memiliki orientasi apa pun soal masa depan. Mereka hidup hanya dilandasi semangat hedonistik dan sangat jauh dari kehidupan spiritual. Ada pula yang tak berkreasi sama sekali dan melulu menikmati hasil kreasi orang. Namun, jangan keliru, di antara mereka muncul pula orang-orang muda kreatif, penuh dedikasi terhadap pilihan hidup yang diyakininya, serta menjadi agen aktif perubahan sosial. Di antara mereka muncul pula orang-orang yang mampu menjadi trendsetter (patokan) tertentu. Di bidang ilmu pengetahuan, muncul anak muda yang berprestasi dalam Olimpiade Fisika. Di bidang kesenian, tercatat beberapa nama anak muda (beberapa pengamat kebudayaan anak muda menyebut mereka sebagai generasi baru) yang menghasilkan kreasi berdaya pengaruh besar. Di dunia perfilman, setelah Garin Nugroho, ada nama-nama, seperti, Riri Reza, Rudi Sudjarwo, atau Arya Kusumadewa. Pada kesusastraan muncul beberapa nama, seperti, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, atau Dee. Nama terakhir, bahkan cukup fenomenal, karena sebagai selebriti, dia mampu menjadi semacam jembatan antara dunia serba-''ngepop'' dengan dunia kontemplatif. Dalam teater, nama Teater Garasi membuktikan diri tak hanya bergaung an sich di blantika perteateran, tapi mampu merambah wilayah yang lebih luas, bahkan wilayah pop. Salah satu lakonnya disebut-sebut mengusung semangat ''gue banget'', yang ketika itu menjadi karakteristik dasar anak muda metropolis. Singkatnya, muncul generasi baru yang tak hanya terkungkung di menara gadingnya sendiri, tapi mampu menerabas wilayah yang selama ini dianggap bukan wilayah sebenarnya. Dengan demikian, mereka membuktikan bahwa mereka bukan generasi yang tak berkarya. Mereka memiliki kontribusi yang tak sedikit bagi perubahan sosial. Tak dapat dipungkiri, orang muda merupakan potret dinamika sebuah masyarakat. Sebagai sebuah proses dinamis, apa pun yang dilakukannya selalu menuai kritik, kalau bukan sekadar pertanyaan meragukan. Ya, terhadap mereka yang telah menghasilkan karya pun muncul kebelumpercayaan tertentu. Kebudayaan Ngepop Di bidang apa pun, mereka dianggap piawai dalam soal-soal teknik atau penggunaan medium. Di film misalnya, mereka telah piawai memunculkan teknik-teknik baru perfilman. Di bidang kesusastraan, eksperimentasi teknik penceritaan pun tak kalah hebatnya. Namun, bagaimana dengan isi atau muatan karya yang mereka usung? Mereka masih dianggap dangkal, biasa, atau lebih parah lagi mereka dianggap belum memunculkan ide liar yang mendobrak zaman. ''Tidak. Jangan anggap enteng isi karya-karya mereka,'' tolak Prof Dr H Abdul Djamil MA, pengamat kebudayaan. ''Kalau secara teknik mereka maju, hal itu bukti mereka telah memberikan kontribusi besar dalam bidang garapan mereka.'' Dia mengakui, karya-karya generasi baru itu belum bisa disebut ''mampu'' memengaruhi zaman. ''Itu hasil maksimal mereka. Mereka memang baru bisa menghasilkan kebudayaan "ngepop". Itu kenyataan empirisnya. Namun, hal itu tak bisa dipandang sebelah mata,'' tandas Rektor IAIN Walisongo Semarang tersebut. Hal itu artinya perlu cara pandang yang memakai kaca mata mereka. Yang perlu dicatat adalah mereka seyogyanya diposisikan, menurut istilah Djamil, sebagai kelompok yang berada pada ''process of being''. Mereka masih dalam ''proses mengada''. Dalam proses tersebut, kontribusi yang mereka berikan dalam kehidupan sosial tetap signifikan. Menariknya lagi, secara umum visi kebudayaan generasi baru yang dicatat Djamil adalah semangat dekonstruksi. Mereka akan selalu mendobrak apa pun, yang dianggap telah mapan atau sesuatu yang jadi mainstream (kerangka pola). ''Karena itu, hasil kebudayaan mereka tak lagi monolitik. Tak satu jenis saja, tapi beragam. Hal itu menarik dalam wacana dinamika sebuah generasi,'' paparnya. Dr Andrik Purwasito DEA, pengamat kebudayaan dari Solo, memandang pola biru kebudayaan anak muda banyak ditentukan oleh media elektronik, terutama televisi. Perilaku dan mental mereka lebih banyak berguru terhadap televisi. Ambil contoh, konsepsi kecantikan seorang perempuan yang diyakini generasi baru itu adalah berkulit putih bersih dan badan langsing, seperti yang dilihat di kalangan selebriti. ''Kalangan selebriti dan segala perilakunya diyakini sebagai pembawa kebudayaan, yang selanjutnya diikuti secara umum,'' ungkapnya. Persoalannya, generasi sekarang, menurut Andrik, adalah kelompok yang mengalihkan figur anutannya. Dan sekarang yang selalu menjadi anutan adalah kalangan selebriti. ''Dulu, yang jadi anutan adalah sosok-sosok yang disipilin, seperti, tentara, rajin dan tekun seperti guru, dan pintar seperti dokter atau insinyur. Sekarang, anutannya bisa Rhoma Irama atau malah Ariel Peterpan. Itu adalah konsekuensi logis, ketika televisi jadi penentu kebudayaan,'' ujarnya sembari tertawa. Meskipun demikian, seperti Djamil, Andrik meminta untuk tak memandang mereka sebelah mata. Banyak pula dari mereka yang telah menunjukkan prestasi di berbagai bidang. Dia juga optimistis, setiap generasi pasti memiliki daya tahan tersendiri. ''Ada anak muda yang terkena narkoba, tapi ada banyak yang menentangnya. ada yang penuh semangat hedonistik, tapi ada juga yang bergulat dalam dunia spiritual. Intinya, dalam setiap zaman selalu ada dinamika untuk mencapai harmoni. Ekuilibrium itu kunci untuk memandang dinamika anak muda,'' imbuhnya. Boleh jadi, ciri dasar kebudayaan generasi baru itu bersifat ngepop dan banyak dilahirkan oleh selebriti yang menguasai tayangan televisi. Namun, terhadap pola kebudayaan seperti itu, Prof Dr Agnes Widanti SH CN, pengamat kebudayaan dan keperempuanan, memandang kentalnya ciri maskulinitas di semua item kebudayaan anak muda. ''Tayangan televisi yang memunculkan banyak selebriti, juga iklan-iklan yang memunculkan perempuan sebagai pendongkrak produk adalah ciri maskulinitas. Kebudayan anak muda pun mencirikan hal tersebut,'' urainya. Dia memperinci beberapa aliran yang meneguhkan kelelakian itu. Yakni, sexism, lookism, dan capitalism. Seks, penghambaan dalam penglihatan, dan kapitalisme adalah ciri kebudayaan laki-laki, yang selalu memanfaatkan perempuan sebagai objek. Gambaran seperti itu juga terlihat dalam pola kebudayaan anak muda sekarang. ''Satu hal yang menggembirakan, muncul anak muda di bidang kesusastraan yang berusaha mendobrak dinding tebal patriarki. Sungguh menggembirakan, ternyata yang menjadi agen perubahan itu anak remaja dan perempuan muda. Namun sayang, jumlah mereka sangat sedikit,'' ujarnya. Kalau boleh disimpulkan, pola kebudayaan yang diusung kalangan muda atau generasi baru memiliki warna kental sebagai generasi yang selalu tak puas terhadap kemapanan. Selalu ada semangat mendekonstruksi sesuatu dalam diri mereka. Jadi, boleh saja mereka hanya kelompok yang suka berhura-hura dan hanya peniru taklid selebriti. Mereka boleh saja masih dikungkung kebudayaan lelaki, yang selalu membuat perempuan sebagai sosok inferior. Namun yang penting, mereka juga punya agen-agen yang menolak kemapanan dengan semangat dekonstruksi. Dengan begitu, ciri khas kebudayaan mereka adalah dinamika tanpa henti yang tak bisa dipandang sebelah mata. (Saroni Asikin-35h) |