logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Desember 2005 SEMARANG
Line

Aksi Mogok Karyawan Rodeo Berlanjut

  • Manajemen Tetap pada Keputusannya

SEMARANG - Aksi mogok karyawan PT Rodeo di Jl Kaligawe Km 7, Genuk, Semarang, Rabu (14/12) kemarin berlanjut. Ribuan karyawan bagian produksi tidak melakukan aktivitas kerja. Meski masuk dari pukul 08.00 hingga 16.00, di dalam pabrik mereka tak mengerjakan apa-apa.

Hal itu dilakukan lantaran pihak manajemen tidak memperhatikan tuntutan mereka. Sebagaimana diberitakan kemarin, sekitar 3.000 karyawan perusahaan garmen untuk ekspor itu mogok kerja. Mereka menolak rencana pemotongan tunjangan non-normatif karyawan, yakni uang makan dan transpor 50%, yang akan diberlakukan mulai Januari depan.

Menanggapi aksi tersebut, PT Rodeo melalui Manajer Personalia Timotius Y Soenaryo menyatakan akan memanggil karyawan yang terlibat di dalamnya. Namun pemanggilan itu dilakukan sesuai dengan aturan.

''Karyawan yang tetap ingin bekerja harus kembali masuk seperti biasa. Kalau tidak masuk berarti dianggap mangkir, kalau tidak masuk berturut-turut, yang bersangkutan kami anggap mengundurkan diri. Selama mogok, upah tidak dibayarkan. Karyawan yang keberatan dengan aturan ini dipersilakan mengundurkan diri dengan menerima hak sesuai ketentuan yang ada,'' katanya.

Lantaran dilakukan tanpa izin, dia menganggap aksi tersebut ilegal. Soenaryo menyebutkan, pemotongan tunjangan non-normatif sebagai keputusan final. Hal itu didasarkan pada kondisi keuangan perusahaan yang benar-benar tidak mampu. Jika pada semester mendatang hasil evaluasi menunjukkan perkembangan, kebijakan itu akan dievaluasi.

Penuhi UMK

Perusahaan, jelas dia, telah berupaya memenuhi kenaikan UMK Semarang 23,7% yang ditetapkan pemerintah. Namun karena kondisi keuangan lemah, mereka harus melakukan pemotongan tunjangan non-normatif 50%. ''Mestinya kami bisa meminta penangguhan pemberlakuan UMK, tapi tidak kami lakukan.''

Kenaikan UMK ditambah kenaikan harga BBM untuk industri dengan persentase cukup besar itu amat memukul perusahaan. Belum lagi ditambah dengan penurunan angka penjualan hasil produksi. Dalam kondisi semacam itu pihaknya mengaku kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan garmen dari Thailand.

Soenaryo mengakui, aksi pemogokan tersebut berdampak pada terganggunya proses produksi dan merugikan perusahaan. Namun ia enggan menyebutkan jumlah kerugian yang dimaksud. Hingga Rabu siang, pihak manajeman masih melakukan perundingan dengan wakil karyawan.

Sejumlah karyawan yang dihubungi enggan memberikan keterangan soal mogok kerja yang mereka lakukan. Kendati demikian, mereka menganggap pemotongan tunjangan non-normatif karyawan itu sangat tidak beralasan.

''Bagaimana perusahaan mengalami kesulitan, kalau produksi masih terlihat lancar. Dalam seminggu masih bisa mengekspor lima kontainer,'' ujar seorang karyawan yang enggan disebut namanya. (H6-18n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA