logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Desember 2005 SEMARANG
Line

RS Siapkan Ruang Cadangan

Di-fogging, Penderita DBD Bertambah

SEMARANG - Wabah demam berdarah dengue (DBD) tidak dapat diselesaikan hanya dengan fogging (pengasapan). Upaya yang dilakukan pada rumah-rumah warga itu hanya dapat memutus mata rantai nyamuk dewasa.

Padahal, menurut keterangan Bagian Infeksi Rumah Sakit Dokter Kariadi (RSDK) dokter MM Hapsari SpA, sebelum mati nyamuk dewasa tersebut sudah meninggalkan telur di beberapa tempat. Dikhawatirkan, telur-telur yang nantinya menetas itulah yang menjadi penyebab DBD jika tidak disertai dengan tindakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Namun, lanjut Hapsari, pengertian masyarakat hanyalah sebatas pada pengasapan akan menyelesaikan masalah DBD. ''Hal itulah yang memicu warga untuk selalu meminta rumahnya disemprot (di-fogging-Red) jika ditemukan anggota keluarganya yang terserang DB. Padahal, penyemprotan yang tidak diikuti dengan tindakan PSN juga akan percuma,'' ungkap dia.

Peningkatan pasien itu, ujar dia, diperkirakan akan terus terjadi hingga musim hujan berakhir. Karena itu, masyarakat harus terus waspada.

Berdasarkan pantauan Suara Merdeka, jumlah penderita DBD di beberapa RS di Semarang masih tergolong tinggi. Di RS Telogorejo terdapat 45 pasien yang menjalani perawatan. ''Hingga hari ini (kemarin-Red) masih ada 22 pasien yang menjalani perawatan,'' ungkap Humas RS Telogorejo Drs Nana Noviada Kwartawati MM. Dari jumlah tersebut, 15 pasien anak-anak dan tujuh dewasa. Selama Desember ini belum ditemukan ada korban meninggal akibat DBD di RS tersebut.

Sementara itu, data RS Dokter Kariadi hingga Senin (12/12) menunjukkan, terdapat 54 pasien yang menjalani perawatan akibat penyakit itu. Di RS rujukan tersebut, sepanjang Desember ini tujuh pasien DBD meninggal.

Ruang Cadangan

Di RS Roemani Muhamadiyah, jumlah pasien yang menjalani perawatan hingga kemarin 89 orang. Bahkan, masih ada 37 anak-anak yang menjalani perawatan. Diperkirakan, jumlah pasien akan terus bertambah. ''Selasa (13/12) pada pukul 17.00-00.00, pasien DBD yang datang 13 orang,'' ujar Humas RS Roemani Muhammadiyah, Syaifullah SKom.

Banyaknya pesien DBD di RS itu, ungkap dia, menyebabkan pihaknya harus menyiapkan ruang cadangan. ''Bahkan, ada beberapa pasien yang menjalani perawatan di ruang Bayi Lahir Risiko Tinggi (BLRT).''

Untuk membantu tenaga medis, lanjut dia, pejabat struktural RS yang mantan perawat dikerahkan dalam penanganan pasien. ''Jumlah mereka ada 14 orang dan disebar ke ruangan-ruangan yang lain sesuai dengan kebutuhan,'' ungkap dia.

Banyaknya penderita DBD juga dijumpai di RS Tugurejo. Dalam tiga hari, jumlahnya 21 pasien.

Menurut keterangan Humas RS Tugurejo Dra Ratih Puspita, dari jumlah tersebut 15 pasien merupakan anak-anak sedangkan yang enam dewasa.

Untuk menampung lonjakan pasien, lanjut dia, disediakan 10 tempat tidur tambahan. ''Karena ruang perawatan kelas III penuh, sebagian pasien dipindahkan ke kelas I,'' imbuhnya. (fzm,lin-44j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA