| Kamis, 15 Desember 2005 | SEMARANG |
Utang PDAM Rp 364 MSEMARANG-Hingga saat ini, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Semarang masih menanggung beban utang sebesar Rp 364 miliar. Pelunasan utang itu hanya bisa dilakukan dengan perolehan dari pembayaran para pelanggan. Demikian disampaikan Direktur Umum Drs HMS Soedarsono BBA MM, kemarin, terkait dengan pembahasan usulan kenaikan tarif yang dilakukan perusahaan daerah (perusda) itu. Dijelaskannya, sebetulnya persoalan kenaikan tarif belum sampai pada taraf usulan. Sebab baik besaran maupun tanggal berlakunya masih dalam proses pembahasan. ''Hanya saja, perlu kami jelaskan, penghasilan yang diperoleh PDAM saat ini tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Perolehan yang didapat dari pembayaran pelanggan tidak menutup operasional. Oleh karena itulah, manajemen PDAM membahas usulan kenaikan tarif,'' kata dia. Sebelumnya diberitakan, para pelanggan PDAM menyampaikan keberatan atas rencana kenaikan tarif perusahaan itu. Mereka menilai, perusda itu perlu memperbaiki kinerja dan pelayanan terlebih dahulu, sebelum membicarakan gagasan untuk menaikkan tarif langganan. Sementara itu, anggota Dewan menilai, usulan kenaikan itu merupakan cara pragmatis untuk mengatasi persoalannya. Soedarsono menjelaskan, utang PDAM merupakan sisa-sisa dari periode sebelumnya. Dengan harga jual air bersih rata-rata Rp 2.441 per meter kubik yang berlaku sekarang, kata dia, tidak mungkin bisa mengangsur pelunasan utang perusahaan. Dijelaskannya, manajemen tidak menutup mata atas masih munculnya keluhan dari para pelanggan. Secara terus-menerus pihaknya berusaha melakukan pembenahan internal, terutama terkait dengan keluhan yang disampaikan oleh pelanggan. Secara bertahap, diharapkan keluhan yang terkait dengan kurang lancarnya pasokan air, bisa teratasi. ''Saat ini, PDAM Kota Semarang melayani lebih dari 135.000 pelanggan. Saya kira wajar kalau masih ada keluhan terhadap pelayanan yang kami berikan. Yang jelas, setiap keluhan akan kami tindaklanjuti,'' tandasnya. Soedarsono menjelaskan, secara berkala pihaknya melakukan pengecekan untuk meminimalkan terjadinya ketidaklancaran pasokan air. Keberadaan instalasi pengolahan air di Kudu yang telah beroperasi secara optimal, diharapkan bisa mengurangi keluhan, terutama di kawasan Semarang Timur. (H9-44) |