logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Desember 2005 EKONOMI
Line

Tahun 2005, Kinerja BPR Turun

SEMARANG- Meski pertumbuhan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tidak setinggi tahun lalu, Perbarindo Jateng optimistis BPR tetap bisa berkembang di masa mendatang. Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), inflasi dan tingkat suku bunga yang meninggi benar-benar dirasakan bagi pengelola BPR.

Beberapa persoalan lain juga masih menjadi kendala, salah satunya keberatan pengelola BPR terhadap besaran dana yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) secara bertahap hingga Rp 100 juta yang hingga kini juga belum bisa dipenuhi.

Ketua Perbarindo Jateng H Said Hartono mengungkapkan pengaruh kondisi perekonomian pascakenaikan harga BBM mengakibatkan adanya penurunan kinerja BPR di Jateng hingga 10%.

''Yang paling terlihat menonjol yaitu adanya lonjakan angka angsuran kredit debitur yang seret. Sehingga potensi non-performing loans (NPL) menjadi meningkat. Terlebih lagi, dua bulan terakhir BPR juga dihadapkan pada permasalahan untuk menaikkan suku bunga kredit akibat pengaruh BI Rate yang meningkat,'' katanya Senin (12/12).

Ia menyebutkan umumnya suku bunga simpanan BPR saat ini mencapai 13,5%-16% per bulan. Sedangkan suku bunga pinjaman berkisar 1,35% -1,75% flat.

Lonjakan NPL

Meski angka NPL melonjak, BPR tetap melakukan pengucuran kredit. Oleh karenanya, BPR tidak terlalu ekspansif dalam mengucurkan dana pinjamannya dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya. Saat ini, tingkat NPL BPR di Jateng berada dikisaran 7%.

''Dalam melakukan pengucuran kredit kami mengupayakan analisa yang lebih hati-hati terhadap calon debitur. Syarat untuk mendapatkan kredit kami ketatkan agar NPL benar-benar bisa diantisipasi. Kami mengingatkan kepada SDM BPR agar tidak gegabah dalam meloloskan pengajuan kredit. Kalau tidak diantisipasi bisa jadi bumerang bagi BPR,'' katanya.

Dari sisi jumlah permintaan kredit, Said mengatakan penurunannya juga tidak terlalu besar. Pasalnya, besar nominal kredit yang diajukan pun hanya berkisar Rp 1 juta hingga Rp 10 juta.

Agar BPR mampu tetap eksis di masa mendatang, ia berharap kepada pengelola BPR untuk meningkatkan pelayanan kepada nasabah, terutama tingkat suku bunga agar tidak dipatok terlalu tinggi.

Berkaitan persaingan dengan bank umum yang juga membidik segmen nasabah mikro, Perbarindo Jateng berharap linkage program bisa diterapkan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk tidak mematikan BPR dan LKM, yang selama ini fokus menggarap segmen mikro.

''Selain itu, BPR hendaknya juga bisa melebarkan segmen pasarnya. Selama ini BPR lebih banyak menggarap pasar usaha perdagangan. Sehingga objek garapannya terkesan tumpang tindih,'' katanya. (mhr-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA