| Kamis, 15 Desember 2005 | EKONOMI |
Askrida Targetkan Produksi Rp 32 MSEMARANG- PT Asuransi Bangun Askrida menargetkan produksi 2006 untuk wilayah Jatim dan Jateng mencapai Rp 32 miliar, setelah target tahun ini Rp 28 miliar dipastikan terlampaui. Target 2006 itu dipatok setelah Askrida menyelesaikan konsolidasi internal untuk jaringan di dua wilayah provinsi tersebut yang pada dua tahun terakhir mengalami penurunan produksi secara drastis. Menurut Daryanto, Koordinator Pemasaran Askrida wilayah Jatim dan Jateng, konsolidasi itu mencakup profesionalisme usaha, pembenahan manajemen, dan penguatan terhadap pasar utama (captive market), yaitu aset pemda, serta perusahaan daerah (perusda). ''Ikatan emosional dengan pemegang saham akan menjadi sisi positif untuk pengembangan bisnis tahun depan,'' kata dia dalam siaran pers yang diterima Suara Merdeka, kemarin. Askrida (asuransi umum) didirikan oleh beberapa pemprov di Indonesia. Namun, saat ini hampir seluruh pemprov menjadi pemegang saham Askrida, karena ikut serta menyuntik dana segar untuk meningkatkan modal setor dari Rp 19,9 miliar pada 2002 menjadi Rp 26,59 miliar pada 2004. Daryanto menyebutkan hingga November 2005, Askrida mampu membukukan produksi baru di wilayah Jatim sebesar Rp 24,3 miliar, atau 121% dari target tahun ini Rp 20 miliar. Pencapaian itu, lanjutnya, dipastikan akan berlanjut dengan estimasi total produksi akhir 2005 di wilayah Jatim mencapai Rp 25 miliar-Rp 26 miliar dari penyelesaian sejumlah kontrak yang sedang diproses saat ini. Hal itu, kata Daryanto-yang juga Kancab Askrida Surabaya-sekaligus menunjukkan pertumbuhan signifikan dibanding tiga tahun lalu dengan catatan produksi Askrida di Jatim hanya Rp 13,7 miliar. Sementara untuk wilayah Jateng hingga November 2005 baru mencatat produksi Rp2,08 miliar, atau hanya 23% dari target tahun ini Rp 8,9 miliar. Menurut Kancab Askrida Semarang Novian Syarif Johan, rendahnya realisasi produksi tahun ini disebabkan banyak aset pemda dan perusda di Jateng yang belum dijaminkan. Namun tahun ini Kabupaten Kudus dan Blora sudah menyerahkan risiko asetnya untuk ditutup oleh Askrida dengan nilai pertanggungan, masing-masing Rp 27,16 miliar dan Rp 7,1 miliar. ''Kepercayaan dua pemkab itu akan menjadi faktor pendorong bisnis tahun depan,'' kata Novian.(G2-59) |