SUARA MERDEKA
 
INDEKS EKONOMI Rabu, 14 Desember 2005

SOLO - Kekhawatiran Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jateng Joko Santoso soal kemungkinan mentahnya kembali kesepakatan dengan PLN soal Daya Max Plus, akhirnya benar-benar menjadi kenyataan. PLN yang diharapkan segera merealisasi kesepakatan tak kunjung mengambil keputusan.

JAKARTA-Indonesia pada 2006 sudah wajib membayar kembali utang yang jatuh tempo, setelah selesainya moratorium. Tak tangung-tanggung, Indonesia harus membayar Rp 91,6 triliun. Angka tersebut masih ditambah dengan utang dalam negeri, yang jika ditotal bisa mencapai lebih dari Rp 100 triliun.

JAKARTA-PT Bank Danamon Indonesia Tbk menjual 25% kepemilikan sahamnya di PT DBS Vickers Securities Indonesia (DBSV) kepada DBS Securities Vickers Holding Pte Ltd (10%), DBS Vickers Securities Singapore Pte,Ltd (14%) dan PT Saratoga Sentra Business (1%) senilai Rp 25,7 miliar gross. Perjanjian jual beli bersyarat telah ditandatangani semua pihak, Jumat (9/12) lalu.

JAKARTA-Ibarat menghadapi buah simalakama. Kondisi itulah yang kini dialami Perum Bulog saat melakukan impor beras sebanyak 70.000 ton yang banyak menuai kecaman. Impor itu dianggap merugikan petani, karena harga beras lokal jadi anjlok. Namun Bulog sebagai penyangga stok pangan nasional, sesuai Inpres 2/2005 harus impor untuk mengamankan persediaan beras nasional.

SEMARANG-Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng sedang mempersiapkan Sensus Ekonomi 2006. Sensus 10 tahun sekali ini, akan dilaksanakan secara bertahap hingga 2007. Untuk tahap awal, sensus akan mendaftar kegiatan usaha, kecuali sektor pertanian dengan mendapatkan nama dan alamat usaha, jumlah tenaga kerja dan omzet.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA