logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 14 Desember 2005 NASIONAL
Line

Merengkuh Surga lewat Busana

APAKAH surga itu? Bagi perancang busana, maknanya bisa sangat beragam. Ia bisa bermakna mahkota bunga, gula-gula, keceriaan, atau juga keserbaindahan. Ia juga bisa bermakna sebagai tempat para bidadari ceria dalam busana indah mereka. Tentu saja, pemaknaan itu hadir lewat kreasi rancangan adibusana mereka.

Pergelaran Fashion Tendance 2006 bertema "Fashion Exploration" yang diusung Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) di Plaza Bapindo, Jakarta, kemarin sore hingga semalam, memunculkan "kisah" tersebut. Acara itu didukung PT Sumarecon Agung Tbk, Visa Internasional, dan Caring Colour Martha Tilaar. Sebanyak 66 perancang dari Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Bali, Lampung, Padang, dan Pontianak tampil semalam dua hari (13-14 Desember).

Pada bagian pertama di hari pertama tersaji rancangan busana muslim karya 11 perancang yang dihimpun dalam sesi "Exploration of Eden". Menarik sekali melihat pemaknaan kesebelas perancang mengenai "surga" dan juga konsepsi busana muslim yang sangat beragam. Itu memberi bukti bagaimana kayanya inspirasi para perancang dalam mengeskplorasi tema. Beberapa dari mereka juga punya kecenderungan memasukkan unsur lokal atau etnis tertentu dalam karya busana muslim mereka.

Lihat misalnya "Tabot" karya Mia Ridwan yang memasukkan unsur lokal Bengkulu dalam arak-arakan peringatan Maulud Nabi Muhammad. Dia memunculkan busana dengan dominasi baju kurung longgar, tunika, atau gamis. Karya perancang lain yang memasukkan unsur etnis terjumpai pada "Misty of Borneo" karya Savitri.

Menghadirkan "surga" bisa lewat keceriaan anak muda dalam busana muslim yang cukup "punky" seperti pada karya Dwi Endang Lestari bertajuk "Forever Young".

Boleh dibilang busana rancangannya itu berbeda dari sebagian besar yang tampil semalam. Busana bergaya cukup "punky" dengan tetap bersandar pada busana muslim menjadi pilihan kreasinya. Keceriaan atau kemudaan lebih dimunculkan dengan gula-gula yang dipegang atau "dimakan" model yang memperagakannya.

Kaidah baku

Soal kreasinya yang berbeda, setelah pergelaran Endang mengatakan, "Ada kaidah-kaidah baku busana muslim. Misalnya tidak boleh ketat. Nah, saya memandangnya dari sudut berbeda. Saya bikin kreasi agar anak muda mulai tertarik pada busana muslim. Dan, itu butuh waktu."

Menafsirkan surga bisa juga lewat simbol mahkota bunga dan bidadari. Lihat misalnya karya Anne Rufaidah yang bertajuk "Ladies from Heaven". Beragam interpretasi lain dimunculkan para perancang lainnya seperti keserbabiruan pada "Amazing Blue" karya Toera Imara.

Sesi kedua pada pergelaran hari pertama menampilkan 13 perancang yang dihimpun dalam tajuk "Exploration of Liberty". Sesuai tajuknya, kebebasan menjadi acuan dasar berkarya. Keceriaan plus semangat serba bebas muncul pada hampir semua perancang yang termasuk sesi tersebut. Bahkan, karya yang bersandar pada warna lokal Bali seperti karya Tjok Abi atau Oka Diputra tetap memunculkan semangat kebebasan tersebut.

Pada sesi tersebut, dua perancang yang tergabung pada APPMI Jateng ikut unjuk "kebebasan". Keduanya adalah Jonathan Titi Santosa dengan karya "Rebellion Intones" dan Gregorius Vici dengan " Morocca". (Saroni Asikin-46t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA