logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 14 Desember 2005 MURIA
Line

Gerabah Bersaing dengan Produk Logam

"HARI gini masak masih menggunakan perkakas dapur dari tanah liat?" Ya, jangan heran. Walaupun sekarang ini hampir semua barang-barang rumah tangga antipecah karena berbahan baku logam atau plastik, sebagian ibu di Kabupaten Rembang masih setia menggunakan gerabah.

Karena itu, di kota penghasil garam tersebut masih ada beberapa usaha pembuatan aneka gerabah. Mulai kuali, kendil, wajan, genthong hingga jun yang semuanya dibuat dari bahan baku tanah liat.

Yang pasti, usaha yang ada sejak puluhan tahun lalu itu hingga kini masih tetap bertahan. Sudah barang tentu perkembangannya tak bisa diharapkan.

Namun, para perajinnya tak pernah berhenti beraktivitas untuk mempertahankan usahanya. Meski, di toko-toko banyak dipasarkan perkakas dapur yang berkualitas lebih baik.

Seperti pengakuan para perajin genthong (tempat air) di Desa Kabongan Kidul dan Sidowayah, keduanya di Kecamatan Kota Rembang. Mereka umumnya mengaku tak kesulitan memasarkan hasil produksinya.

Hanya, desain produknya dari tahun ke tahun tak pernah berubah. Menurut warga yang menjadi konsumen "setia" gerabah, bila dilihat bentuknya, perkakas dapur buatan warga Kabongan Kidul dan Sidowayah itu kurang menarik, karena tak bernilai seni.

Dari segi kualitas, juga kalah jauh dengan barang-barang yang terbuat dari plastik atau logam, karena mudah pecah bila terjatuh atau kena benturan.

Namun, di balik kekurangan itu ada kelebihan. Suharti (41) misalnya, warga asal Lasem tersebut mengaku sudah lama menggunakan perkakas dapur yang terbuat dari tanah liat. Alasannya, jika digunakan untuk memasak rasanya lebih sedap.

"Saya juga menggunakan genthong dan kendil untuk tempat air," ujar ibu rumah tangga tersebut.

Masih Disukai

Apa yang dikatakan wanita itu tampaknya tak mengada-ada. Terbukti, dua pedagang asal Jatirogo (Tuban) yang kebetulan bertemu dengan Suara Merdeka di Desa Sidowayah mengungkapkan, kedatangannya ke Rembang hanya untuk kulakan barang-barang gerabah.

"Di daerah saya (Jatirogo) barang-barang gerabah masih disukai orang. Saya tahu, wong setiap hari jualan perkakas dapur dari tanah liat," ujar dia.

Para pembuat barang-barang gerabah umumnya juga mengatakan bahwa perkakas dapur dari tanah liat sangat baik untuk menyimpan air. Semakin lama air tersimpan, rasanya kian segar.

"Jika digunakan memasak, lebih sedap. Maka masih banyak orang yang suka menggunakan gerabah," ujar Radiman, spesialis perajin genthong dan jun.

Persoalan akan timbul ketika jumlah pesanan meningkat. Mengapa, karena mereka menyadari bahwa tak setiap orang mampu memproduksi aneka gerabah dalam jumlah besar.

"Kalau membuat genthong, satu hari paling dapat lima hingga tujuh buah. Itu pun dalam keadaan setengah jadi, karena masih harus dikeringkan dan dibakar," papar Kusni (49).

Gerabah buatan Rembang harganya relatif murah. Genthong besar berkualitas bagus cuma Rp 15.000-Rp 20.000/buah, sedangkan kualitas biasa sekitar Rp 7.000/buah.

Jenis produk lain seperti jun, kuali, wajan, dan kendil harganya kurang dari Rp 5.000/buah. Padahal, untuk membuatnya banyak membutuhkan waktu dan tenaga.(Djamal A Garhan-54s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA