| Rabu, 14 Desember 2005 | MURIA |
"Tak Pernah Melihat Anak Saya Lagi"DI Sebuah bilik sempit berlantai tanah, siang itu Rifai (30), tergolek diam di balai-balai kayu beralas secuil kain dan selembar kantong plastik bekas yang telah dilepas jahitannya. Sementara itu, kaki kanannya diborgol yang disambungkan dengan rantai sepeda sepanjang satu meter dan diikatkan dengan salah satu kaki balai-balai. "Sudah setahun kaki saya dibiarkan terikat seperti ini," katanya. Bahkan lelaki yang ditinggal istrinya lima tahun lalu itu terpaksa harus berak dan kencing di tempat itu juga. Penderitaannya tak hanya berakhir sampai di situ saja. Untuk berpakaian yang pantas pun dirinya juga seakan tak pernah mendapatkannya. "Saya sering dibiarkan setengah telanjang seperti ini," ujarnya sambil menunjukkan (maaf) bahwa dirinya tak memakai celana. Soal makan, ujar ayah dari seorang anak yang kini dititipkan kepada mantan mertuanya di Kecamatan Bae, Kudus itu, hanya diberi sehari sekali. Itu pun hanya nasi tanpa lauk-pauk yang memadai. "Sejak dipasung, juga tak pernah melihat anak saya lagi," ujarnya. Ketika ditanya penyebab dirinya dipasung, Rifai hanya menggeleng pelan. Demikian juga ketika ditanya mengapa kakak perempuannya, Khumiyati (30), tega berbuat seperti itu kepadanya. Padahal, dirinya mengaku tak pernah berbuat yang merugikan satu-satunya kakak perempuannya itu. Demikian juga soal alasan yang menyebutkan dirinya gila dan dapat membahayakan orang lain, hal itu juga dibantahnya. "Saya tak gila. Saya tak gila," akunya. Khumiyati, kakak perempuan Rifai, sejak awal membantah telah memasung adiknya itu selama setahun. Ia hanya mengaku sesekali mengikat kaki adiknya itu karena sering mengamuk dan mengancam keselamatan dirinya, juga anggota keluarganya yang lain. Dia juga mengatakan selalu memberi makan Rifai. "Saya tidak pernah menelantarkannya," tandasnya. Mengenaskan Akan tetapi, berdasarkan pengamatan terhadap kondisi Rifai, lelaki yang hanya lulus SD itu terlihat begitu mengenaskan. Untuk menggerakkan kedua kakinya pun dia harus bersusah payah. Belum lagi tubuhnya yang kurus kering itu menandakan bahwa anak bungsu dari empat bersaudara tersebut tak mendapat makanan yang layak selama ini. Siang itu, oleh Khumiyati, dirinya hanya diberi nasi dan bungkil kelapa. Itu pun dilakukan setelah anggota Polsek Undaan, Kudus dan sejumlah perangkat desa mendatangi rumahnya di RT 8 RW 2, Desa Sambung, Kecamatan Undaan, Kudus. Kapolsek Undaan AKP Ramainulis yang meninjau langsung keadaan Rifai, langsung memerintahkan anak buahnya untuk membawanya ke RSU Kudus. Tak hanya itu, kedua kakaknya, Khumiyati dan Zaenudin, juga dimintai keterangan di Mapolsek terkait dengan nasib adiknya itu. Adapun Kades Sambung Eko Setiadi, kepada Suara Merdeka mengatakan, beberapa waktu lalu keluarga itu memang pernah terlibat masalah, terkait dengan pembagian sepetak sawah seluas 0,5 hektare, peninggalan orang tua mereka, Selimin dan Tarmijah. Tentang gangguan kejiwaan yang dialami Rifai, menurutnya, hal itu tak sampai mengancam keselamatan orang lain."Rifai, menurut tetangganya, dahulu dikenal taat beribadah," ungkapnya. (Anton Wahyu Hartono-15n) |