| Rabu, 14 Desember 2005 | MURIA |
Asmindo Tolak Kenaikan Harga Kayu JatiJEPARA - Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Komisariat Daerah (Komda) Jepara secara tegas menolak rencana Perhutani menaikkan lagi harga bahan baku kayu jati pada awal 2006. "Jika pada 2006 Perhutani menaikkan harga bahan baku kayu industri, maka kami dengan tegas menolak rencana itu," ucap Akhmad Fauzi, Ketua Asmindo Komda Jepara, dalam siaran persnya, kemarin. Dia mengatakan, alasan penolakan itu di antaranya karena hal itu bersamaan dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) awal Oktober 2005, ditambah tingginya suku bunga bank. Dua alasan tersebut dinilai sudah sangat membebani perajin/pengusaha mebel yang menggunakan bahan baku kayu jati. Apalagi pada awal 2005 Perhutani sudah menaikkan bahan baku yang sama hingga 14 persen. "Kami memahami adanya beban yang ditanggung oleh Perhutani, sehingga berniat menaikkan harga. Namun dalam kondisi seperti sekarang, sungguh rencana itu tidak tepat dan bisa berpotensi mematikan usaha kecil menengah (UKM) bidang mebeler. Hal itu juga akan berisiko terhadap kelangsungan atau mengancam nasib tenaga kerja," lanjutnya. Fauzi menjelaskan, jumlah industri permebelan di Jepara, termasuk perajin kecil, mencapai ribuan dengan menyerap lebih dari 300.000 tenaga kerja. Kebutuhan kayu secara umum di Jepara mencapai rata-rata 600.000 m3/tahun, dengan jumlah kebutuhan kayu jati sebesar 70 persen. Kenaikan harga bahan baku kayu jati pada 2005, telah membuat jatuhnya beberapa perajin. "Ada beberapa unit usaha yang tutup," ungkapnya. Tutupnya beberapa unit usaha itu, juga dipicu oleh imbas kenaikan harga BBM sehingga menyebabkan kenaikan biaya produksi rata-rata 20 persen. "Itu akan lebih menyulitkan lagi jika ada kenaikan tarif dasar listrik (TDL) pada tahun depan," ungkapnya. Kenaikan harga bahan baku kayu jati, secara langsung juga akan memengaruhi ketatnya kompetisi produk-produk mebel Jepara dan Indonesia di pasar internasional. "Negara produsen mebel raksasa seperti China dan Vietnam yang lebih kompetitif dalam hal kualitas dan harga, akan menyulitkan produsen asal Indonesia," imbuhnya. (H15-50a) |