logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 14 Desember 2005 MURIA
Line

Urus Karimunjawa Perlu Kantor Satu Atap

JEPARA- Koordinasi antarinstansi yang terlibat dalam pengelolaan kepulauan Karimunjawa Jepara masih kurang padu. Akibatnya, setiap program ataupun proyek untuk pengembangan kawasan wisata bahari dan taman nasional itu belum optimal. Keadaan seperti itu tidak bisa dibiarkan berlarut. Untuk menata Karimunjawa ke arah yang lebih baik, perlu satu wadah semacam badan otorita atau kantor bersama satu atap.

Hal trsebut dikemukakan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip Johannes Hutabarat, menjawab pertanyaan Suara Merdeka di Kampus Kelautan Teluk Awur Jepara. Johannes yang didampingi Ketua Laboratorium Sentral Kelautan dan Oseanografi FPIK Teluk Awur Jepara Suryono mengungkapkan, pemikiran yang disampaikan itu bukan hal yang baru.

Sebab, beberapa tahun lalu sudah pernah dia lontarkan. Usulan itu, kata dia, bertolak dari keprihatinan dan pengalaman selama ini, untuk mengegolkan suatu program atau proyek pengembangan di Karimunjawa tidak mudah.

Sebab, berbagai instansi, baik pusat, provinsi maupun kabupaten tidak mempunyai wadah penghubung yang siap memberikan keputusan atau jawaban dengan cepat terhadap pihak yang ingin masuk Karimunjawa.

Seperti diketahui, kecamatan yang terdiri atas 27 pulau tersebut walau menjadi bagian Kabupaten Jepara, juga ada sejumlah instansi yang mempunyai otoritas. Antara lain, Badan Taman Nasional Karimunjawa --yang berkantor pusat di Kota Semarang-- Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Kehutanan, dan juga Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Menurut Johannes, pamor Karimunjawa yang belum tampak terang hingga sekarang, lebih terletak pada lemahnya koordinasi. "Kami pandang, sarana dan prasarana yang ada di Karimunjawa sudah lumayan bagus. Yang penting, perlunya kesadaran bersama untuk menjaga kelestarian alam, sehingga setiap kegiatan yang bersifat untuk pengembangan. Jangan sampai mendatangkan persoalan baru, misalnya kerusakan lingkungan."

Dikemas Bagus

Pariwisata, urai dia, merupakan sektor yang harus digarap secara tepat, termasuk pemilihan kegiatan yang sesuai dan ramah lingkungan. Pihaknya sudah melontarkan scientific ecotourism untuk Karimunjawa. Sebab, selama ini sudah banyak para ahli dan mahasiswa serta berbagai lembaga yang melakukan penelitian, sekaligus menikmati keindahan alam dan lingkungan Karimunjawa. Jika kegiatan itu bisa dikemas bagus, akan menarik minat lembaga pendidikan dan berbagai pihak yang punya minat besar dalam pelestarian lingkungan.

"Mereka juga ingin mendapatkan informasi yang lengkap apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada saat membuka investasi. Sekarang ini one stop service sudah menjadi tuntutan," tegas Prof Johannes Hutabarat.(kar-17s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA