logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 14 Desember 2005 KEDU & DIY
Line

40 Tahun Tak Bertemu, Para Jenderal Bereuni

SETELAH 40 tahun jarang bertemu karena medan tugasnya yang saling berjauhan di pelosok negeri ini, Minggu malam (11/12) ratusan alumnus Akademi Militer Nasional (AMN) 1965 mengadakan reuni di bekas kampusnya, Akmil Magelang.

Fokus reuni tidak hanya bersenang-senang saling melepas rasa kangen dengan dihibur pemusik Didi Kempot, tapi juga melakukan kegiatan bakti sosial. Antara lain, menyelenggarakan pengobatan massal dan khitanan massal, penyerahan bantuan buku tulis dan bangku sekolah di Mertoyudan, Kabupaten Magelang, serta di Kranggan, Kabupaten Temanggung. Hari berikutnya (12/12), ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta dan TMP Giri Dharma Laya.

Alumnus AMN 1965 yang bergabung dalam Paguyuban Tidar Bakti Tiada Akhir (Tibta) itu, juga menyerahkan buku Bunga Rampai 40 tahun Perjuangan Tibta berikut plakat kepada almamaternya.

''Buku itu kumpulan tulisan rekan-rekan. Beberapa rekan juga menyerahkan kenang-kenangan berupa lukisan dan koleksi buku,'' kata Ketua Paguyuban Tibta, Letjen TNI (Purn) Suyono, saat menyerahkan buku tersebut kepada Gubernur Akmil, Mayjen TNI M Junus P SIP.

Beberapa purnawirawan jenderal hadir pada Reuni Akbar 40 Tahun Tibta itu. Antara lain Letjen TNI (Purn) Tamlicha Ali, Letjen TNI (Purn) Tarub, Mayjen TNI (Purn) Yusman Yutam, mantan Wali Kota Yogyakarta, Kol (Purn) R Widagdo, dan mantan Wali Kota Magelang, Kol (Purn) Sukadi.

Acara lainnya berupa pengarahan dan dialog dengan para taruna Akmil. Mantan Kasum ABRI menjelaskan masalah HAM.

''Menghadapi hal itu, perwira harus cerdas dalam mengambil keputusan, baik dari segi hukum, sosiologis, psikologis, maupun lainnya. Jangan sekadar mengandalkan texbook,'' ujarnya.

Mereka juga berbagi pengalaman dengan para taruna, setelah selama 40 tahun mengabdi kepada bangsa dan negara, serta memberikan tips apa yang harus dilakukan taruna untuk berprestasi dan meningkatkan profesionalime.

''Buku Bunga Rampai 40 tahun Perjuangan Tibta yang akan diluncurkan 19 Desember 2005, sebetulnya ditujukan untuk masyarakat di luar tentara supaya tahu tentang apa, siapa, dan bagaimana kiprah Tibta.''

Mengenai teror bom yang banyak terjadi di negara ini, Suyono menerangkan, hal itu merupakan bagian kecil dari tantangan yang harus ditangani TNI. Masih ada tantangan yang lebih besar, yakni cyberterorism dan bioterorisme. Kedua teror itu tidak kelihatan.

''Contoh serangan bioterorisme, seperti mendadak ada anthraks atau flu burung; sedangkan cyberterorism, misalnya ada penyerangan yang berakibat padamnya listrik secara mendadak selama empat jam, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Kejadian seperti itu, mungkin saja dan kini masih diteliti. Teror yang lebih kuat dan hebat adalah serangan gabungan dari dua senjata itu. Sinergi kinerja teknologi, memungkinkan apa saja bisa terjadi.'' (Doddy Ardjono-36a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA