| Rabu, 14 Desember 2005 | INTERNASIONAL |
Tokoh Suni Tewas Ditembak saat KampanyeRAMADI - Seorang politikus terkemuka muslim Suni tewas ditembak di Irak, Selasa kemarin. Insiden penembakan itu terjadi dua hari menjelang pemilu untuk memilih anggota parlemen baru. Politikus Suni itu adalah Mizhar al-Dulaimi, ketua Partai Irak Progresif Bebas. Dia ditembak sewaktu berkampanye di Ramadi, ibu kota Provinsi Anbar, Irak barat. Ramadi selama ini dikenal sebagai basis gerilyawan. Kota itu merupakan salah satu titik konflik di Irak. Polisi mengatakan, tiga ajudan Dulaimi terluka dalam aksi penembakan itu. Dulaimi sebelumnya berkampanye di televisi. Dia mengimbau rakyat Irak berbondong-bondong memberikan suara dalam pemilu 15 Desember. Banyak kaum Suni mendukung pemilu tersebut. Hal itu berbeda dari pemilu 30 Januari lalu. Waktu itu, sebagian besar warga Suni melakukan aksi boikot. Akibatnya, hanya sedikit wakil mereka di parlemen. Al Qaedah dan kelompok militan lainnya menggambarkan pemilu itu sebagai perbuatan kafir. Mereka bertekad akan terus mengobarkan perlawanan untuk mengubah Irak menjadi negara Islam. Tak Ngotot Sementara itu, Presiden Irak Jalal Talabani kemarin menyatakan tidak akan ngotot berupaya terpilih kembali setelah pemilu legislatif 15 Desember. ''Jabatan ini tidak menggoda saya,'' kata Talabani kepada televisi Al-Arabiya. ''Saya tidak akan mencalonkan diri dengan memanfaatkan kekuasaan presiden yang saya miliki. Berdasarkan konstitusi baru, presiden tidak boleh menggunakan kekuasaan untuk bersaing dalam pemilu.' Talabani adalah salah satu pemimpin suku Kurdi. Dia menjadi presiden dalam pemerintahan sementara Irak, setelah pemilu legislatif 30 Januari lalu. Parlemen hasil pemilu Januari juga telah mengesahkan konstitusi baru. Menurut Talabani, konstitusi baru itu mengurangi sebagian kekuasaan presiden. Keputusan Talabani untuk tidak mencalonkan lagi sebagai presiden memunculkan berbagai spekulasi. Antara lain, dia diduga mengincar jabatan yang lebih berkuasa dalam pemerintahan baru kelak. Uni Patriot Kurdi, partai pimpinannya, merupakan bagian dari koalisi pemerintahan saat ini. Partai itu diperkirakan akan menjadi pemain penting dalam parlemen baru hasil pemilu 15 Desember 2005. Dari Dubai dilaporkan, sebuah kelompok militan mengatakan tidak akan menyerang tempat-tempat pemungutan suara (TPS) dalam pemilu Kamis besok. Namun kelompok itu tetap tidak mendukung pemilu tersebut. ''Berdasarkan prinsip tidak melakukan serangan membabi-buta yang dapat menewaskan warga tak berdosa, kami memerintahkan para pejuang untuk tidak menyerang TPS. Dengan demikian, pertumpahan darah bisa dihindari,'' kata Tentara Islam Irak melalui internet. Dari Washington, Presiden George W Bush mengakui sekitar 30.000 warga Irak tewas sejak perang pecah. Namun dia menekankan pasukan Amerika tidak akan meninggalkan Irak sebelum mencapai kemenangan total atas kelompok perlawanan di negeri itu. (rtr-ben-ant-26) |