logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 14 Desember 2005 INTERNASIONAL
Line

Buntut Kematian Tueni

Lima Menteri Boikot Kabinet Lebanon

BEIRUT - Friksi politik baru terjadi di Lebanon Selasa kemarin, setelah terbunuhnya tokoh pers dan anggota parlemen anti-Suriah, Gebran Tueni. Perpecahan politik itu berlangsung ketika rakyat Lebanon berkabung atas kematian Tueni.

Lima menteri Syiah pro-Suriah mengumumkan mereka memboikot pemerintah lewat aksi protes. Mereka mendesak diadakan investigasi atas gelombang serangan serupa terhadap para pengkritik Damaskus tahun lalu.

Setelah berdebat sengit selama empat jam, pemerintahan PM Fuad Siniora memutuskan untuk mendesak PBB menggelar pengadilan internasional mengenai kasus Hariri.

Pemerintah Lebanon juga mendesak investigasi internasional atas pembunuhan Tueni. Banyak pihak di Lebanon mengarahkan telunjuknya ke Damaskus. Namun Suriah membantah keterlibatannya dalam pembunuhan terhadap Tueni.

Lantaran kecewa pada keputusan kabinet, lima menteri dari gerakan Amal Syiah dan Hisbullah mengumumkan bahwa mereka tidak akan berpartisipasi dalam pemerintahan Lebanon itu.

Mereka juga akan membahas aksi boikot itu dengan kepemimpinan organisasi afiliasi mereka. Menlu Fawzi Salloukh, dari unsur Hizbullah, kemarin mewujudkan aksi boikotnya tersebut. Dia tidak masuk kantor. Dia juga menangguhkan pertemuan dengan seorang pejabat utama PBB.

Namun Amin Gemayel, mantan presiden Lebanon yang anti-Suriah, mendesak para menteri itu mempertimbangkan kembali keputusan mereka. Dia menganjurkan mereka untuk tidak melanjutkan aksi itu dengan mundur dari kabinet.

Bukti Baru

Kematian Tueni terjadi beberapa jam menjelang ketua tim penyelidik PBB Detlev Mehlis mengeluarkan laporan baru atas pembunuhan Hariri. Dalam laporan itu, Mehlis menunjukkan bukti baru tentang keterlibatan para pejabat Suriah dalam aksi pengeboman itu.

Laporan temuan itu diserahkan kepada Dewan Keamanan PBB. Menurut laporan itu, Suriah telah menghancurkan berkas-berkas dokumen yang terkait dengan Lebanon. Suriah juga telah menekan seorang saksi untuk mencabut kesaksiannya.

Mehlis mengatakan, ada 19 tersangka yang berhasil diidentifikasi oleh tim penyidik. Lima orang pejabat Suriah termasuk dalam daftar tersangka yang diinterogasi oleh timnya di Wina awal bulan ini. Mehlis tidak bersedia menyebutkan nama-nama tersangka itu.

Dewan Keamanan meminta Suriah bekerja sama secara penuh dalam investigasi itu. Jika tidak, Damaskus akan menghadapi ''aksi lebih lanjut'' yang bisa memuncak pada pemberlakuan sanksi. Dewan Keamanan akan mendengarkan langsung penjelasan Mehlis Rabu ini.

Laporan tim Mehlis Oktober lalu mengindikasikan, pejabat-pejabat tinggi keamanan Suriah dan sekutu-sekutu mereka di Lebanon terlibat dalam kasus pembunuhan Hariri. Sebanyak 22 tersangka diduga terlibat dalam peristiwa pengeboman pada 14 Februari di Beirut itu.

''Di dalam internal sejak pemaparan laporan itu, investigasi ini terus berlanjut untuk mengembangkan penyelidikan dan memperkuat kesimpulan-kesimpulan kami,'' kata Mehlis dalam laporannya.

Kematian Hariri, salah seorang tokoh penentang dominasi Suriah di negerinya, telah mengubah peta politik Lebanon. Pembunuhan itu mendorong munculnya desakan untuk menarik tentara Suriah dari Lebanon.

Laporan itu menyebutkan, informasi baru mengarah langsung pada para pelaku dan otak konspirasi pembunuhan Hariri.

Dalam laporan itu disebutkan, dinas-dinas intelijen Suriah dan Lebanon telah merekrut agen-agen khusus untuk melaksanakan pembunuhan terhadap Hariri. Tugas agen-agen itu antara lain, menangani alat-alat peledak yang dibuat makin canggih, melakukan ancaman-ancaman terpola terhadap beberapa individu, dan merencanakan aktivitas-aktivitas kriminal lainnya.(rtr-gn-ant-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA