| Rabu, 14 Desember 2005 | BUDAYA |
Dalang Main Ketoprak, Kaku tapi GayengMESKI seorang dalang sudah terbiasa tampil dengan suara keras dan artikulasi jelas, belum tentu dapat menjadi pemain yang bagus dalam pergelaran ketoprak. Perlu penataan bloking, akting, dan intonasi yang benar sebagai layaknya pemain ketoprak di atas panggung. Para dalang yang biasa mengatur dalam setiap kali memainkan padat pakeliran wayang kulit, saat menjadi artis panggung ketoprak harus mau diatur. Tampilannya tidak jarang terlihat kaku. Tapi yang namanya dalang, meski kaku tetap ger. Kiprah para dalang seperti Ki Djoko ''Edan'' Hadiwidjaja sebagai artis di luar profesinya, terlihat pada pementasan ketoprak yang digelar di gedung milik Ki Anom Suroto, di Kebon Seni, Timasan, Pajang, Solo. Pada acara Malem Rebo Legi belum lama ini, dia dan para dalang lainnya tampil dalam lakon Pelangi di Langit Singosari (Wisnu Wardoyo Dadi Ratu). Dalang kondang dari Pudakpayung Semarang, Ki Djoko, dalam lakon tersebut didapuk sebagai Ken Arok. Dia tampil secara penuh dan sesekali kocak namun tetap menjaga konsistensinya sebagai pemian utama. Ini tidak lepas dari sentuhan sang sutradara, Agus Krisbiantoro. Melestarikan Kesenian Serius tapi santai yang ditampilkan para dalang dalam lakon tersebut, membuat penonton yang memadati ruangan dan pelataran gedung enggan bergeres dari tempatnya hingga akhir cerita berdurasi empat jam itu. ''Yang terpenting dalam gelaran ini, saya dapat menunjukan tekat untuk menguri-uri seni ketorpak yang hampir dilupakan. Teman-teman seprofesi juga sependapat untuk melestarikan kesenian yang satu ini sepanjang masa,'' kata Ki Djoko sambil menambahkan awal Januari 2005 akan tampil sebagai dalang di hadapan para transmigran di Sitiung kemudian tampil di Riau. Untuk mewujudkan agar masyarakat dapat menyaksikan ketoprak, Ki Anom Suroto merogoh koceknya sendiri guna mewujudkan lahan dan bangunan gedung lengkap dengan panggung sebagai tempat pentas.(Priyonggo-45) |