| Rabu, 14 Desember 2005 | BANYUMAS |
Banyak Pengungsi Ingin Kembali ke AcehPURWOKERTO- Jika Aceh sudah aman, kebanyakan pengungsi ingin kembali ke kawasan Serambi Makah itu. Sebab, di wilayah itu mereka sudah memiliki mata pencaharian tetap. Itulah penuturan Ahmad Munjaini (40). Pengungsi dari Aceh yang kini tinggal di desa asal, Sidamulih, Kecamatan Rawalo, Banyumas, itu menyatakan hal tersebut saat datang ke Komisi D DPRD, kemarin. Dia ditemui anggota komisi Sri Handayani dan Khabib Mahfud. Ayah tiga anak itu menuturkan kini menumpang di rumah saudara. Dia bekerja serabutan di kampung. Jika kepepet bekerja di Jakarta menjadi buruh karena di desa tak setiap hari ada pekerjaan. Dia juga mencari teman sesama pengungsi dari Aceh. Ada yang tinggal di Lumbir, Rawalo, Wangon (Banyumas), serta Menganti (Cilacap). Saat berbincang-bincang dengan teman senasib itulah dia mengetahui rata-rata mereka berhasrat pulang ke Aceh jika sudah aman. ''Keahlian kami rata-rata bertani, tak bisa jadi tukang.'' Dia dan keluarga meninggalkan Aceh pada Desember 1999 karena daerah itu tak aman lagi. Mereka mengungsi ke Medan beberapa pekan. Di ibu kota Sumatera Utara itu, sang istri melahirkan anak ketiga. Saat itu tanaman karet dan sawitnya mulai bisa dipanen, walau belum semua. Dia tak tahu kondisi kebunnya sekarang. Dia tinggal di Dusun Teladan, Desa Bukit Drien, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur. Dia pun masih menyimpan KTP Aceh dan sertifikat tanahnya. Daerah itu tak terkena tsunami. ''Saat saya hendak meninggalkan Aceh, camat meminta saya tak menghilangkan sertifikat dan KTP,'' katanya. Baru Menikah Selama mengungsi dia mendapat bantuan dari pemerintah 125 kg beras dan uang Rp 300.000 tiga kali. Tahun 2003 dia menerima bantuan lagi Rp 2 juta berupa uang kontan Rp 200.000, Rp 1.675.000 tersimpan di rekening BPR/BKK Rawalo, dan Rp 125.000 untuk sumbangan pengungsi yang baru datang dari Kalimantan. Dia pergi ke Aceh tahun 1985 bersama sang istri, Sumirah. Saat itu mereka baru menikah. Sumirah yang berasal dari Aceh datang ke rumah kerabatnya di Sidamulih. Dia bertemu Ahmad Munjaini dan menikah. Dia menjual tanah warisan di desa Rp 700.000 untuk membeli lahan di Aceh. Khabib Mahfud berharap pemerintah membantu para pengungsi kembali ke Aceh. Perlakuan pemerintah kepada pengungsi setidaknya sama dengan pada calon transmigran. ''Pada dasarnya mereka transmigran juga. Bahkan lebih mapan karena sudah punya lahan.'' Kepala Bidang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Adi Pramono mengatakan, pengungsi yang tinggal di wilayah itu 96 keluarga. Mereka meliputi 55 keluarga dari Timor Timur dan 41 keluarga dari daerah lain. Dinas itu mengurusi pengungsi selama di Banyumas. Pernah ada bantuan Rp 3,5 juta/keluarga. Pada saat pendaftaran hanya 91 keluarga, tetapi saat dibagikan menjadi 96 keluarga. Akhirnya pengungsi non-Timor Timur sepakat bantuan dibagi rata. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Suyatno menyatakan sejauh ini belum ada pemberitahuan dari Aceh mengenai keamanan. Sementara itu, seorang pengungsi dari Aceh yang tinggal di Jatilawang, Banyumas, akan mengikuti transmigrasi ke Solok, Sumatera Barat. (bd-53) |