logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 14 Desember 2005 BANYUMAS
Line

Wulan, Dokter Hewan Juara I Nasional

BAGI sebagian dokter hewan, profesi dokter manusia lebih menguntungkan. Pasien manusia akan mendatangi dokter, sedangkan dokter hewan kebanyakan mendatangi pasien. Apalagi bagi dokter yang buka praktik di kota kecil. Pasien manusia biasanya juga tak rewel soal tarif periksa.

''Kalau pasiennya hewan, yang rewel pemiliknya. Di kota besar, tarif sekali suntik seekor sapi termurah Rp 50.000. Di Purbalingga tidak bisa. Apa tega memintai pemiliknya yang hanya seorang penderes Rp 50.000? Akhirnya saya suruh dia bayar obatnya Rp 35.000,'' kata dokter hewan Maria Sri Maharsi Wulan.

Wulan tak jarang tidak memperoleh bayaran sama sekali karena pemilik ternak yang sakit tak punya uang. Mereka utang. Namun semangatnya tidak kendur.

Kerelaan hati ibu tiga anak itu justru membuatnya sering mendapat rezeki tak terduga. Saat kehabisan beras, tiba-tiba ada orang datang membawa beras. Ternyata orang itu mau membayar utang dengan beras karena dulu tak bayar setelah ternaknya diobati.

''Padahal, saya sudah lupa. Pernah juga saya membayangkan, wah enak nih kalau siang-siang makan buah-buahan. E, tak berapa lama ada orang mengirim buah-buahan. Jadi pesan saya kepada rekan seprofesi yang lebih muda, bekerjalah semaksimal mungkin untuk kepentingan masyarakat. Tuhan tidak tidur,'' ujar wanita asal Yogyakarta itu.

Ketekunannya selama 15 tahun bekerja di Purbalingga membuahkan prestasi. Wulan menjadi juara I dokter hewan pos kesehatan hewan tingkat nasional 2005.

Penghargaan dalam rangka ketahanan pangan itu dia terima 9 Desember lalu. Dia mendapat kesempatan berjabat tangan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tunjukkan Prestasi

Kepala Pos Kesehatan Hewan Bobotsari itu berharap para dokter hewan menunjukkan prestasi di daerah masing-masing. Sebab, saat ada pertemuan nasional dokter hewan pos kesehatan hewan di Bogor bulan lalu, banyak peserta menyatakan ingin kembali ditarik ke pusat karena merasa tak diurus pemerintah daerah.

''Tunjukkan dulu prestasi. Lakukan hal-hal yang membuat kepala daerah melirik kita. Seperti pengobatan massal ternak, pengamatan penyakit. Layani masyarakat secara sukarela. Hal itulah yang saya lakukan sehingga dilirik Bupati Purbalingga,'' ujarnya.

Wajar jika dia bangga. Sebab, dengan kerja keras selama ini pemerintah mengalokasikan dana APBD Rp 137 juta untuk revitalisasi Pos Kesehatan Hewan Bobotsari.

Proyek itu meliputi renovasi kantor, rumah dinas, pengadaan peralatan kantor, peralatan klinik hewan, dan operasional pos.

Dokter hewan yang suka bercanda itu juga mendapat beberapa piagam penghargaan. Misalnya, dari Menteri Pertanian sebagai dokter hewan pos kesehatan hewan berprestasi tahun 1996, dari Bupati Purbalingga sebagai petugas pelayanan kesehatan hewan terbaik 2005, dan dari Kepala Dinas Peternakan Jawa Tengah sebagai petugas pelayanan kesehatan hewan terbaik 2005. (Arief Noegroho-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA