| Selasa, 13 Desember 2005 | PANTURA |
Sudah Punya Anak 19, Hamil Lagi"JANGAN takut punya banyak anak. Meskipun susah, tetap banyak senangnya," kata Halimah binti Tawali (51), warga Kelurahan Jenggot, Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, dengan nada enteng. Bagi banyak orang, mungkin susah juga mempercayai kata-kata ibu yang telah melahirkan 19 anak dari rahimnya itu. Ketika Suara Merdeka berkunjung ke rumahnya yang sederhana, istri dari Mas'ud (53) tersebut bahkan tengah mengandung anaknya yang ke-20! Halimah mengaku lebih merasakan senang daripada susah, meskipun repot dalam mengurus anak-anaknya. Bayangkan, dia hampir tidak pernah keluar rumah, kecuali mengantarkan anak ke sekolah atau imunisasi. "Buat apa ke luar rumah, wong di rumah sudah ramai dengan anak-anak," katanya, sambil menggendong si bungsu Sabrina yang pada tanggal 24 Desember nanti genap berusia satu tahun. Sejak bangun tidur pada pagi hari, Halimah bersama suaminya harus berbagi tugas mengurus anak-anak. "Saya biasanya mandi dulu, kemudian shalat subuh dan ngaji, sementara suami masak air," ujarnya. Setelah bergantian shalat dan mengaji, suami memasak dibantu anak perempuannya yang agak besar. Halimah memandikan dan memberi makan anak-anaknya yang masih kecil. Ketika harga BBM naik, dia mengaku sempat pusing mengatur pengeluaran. Untuk makan satu keluarga, dalam sehari saja dibutuhkan sedikitnya dua kilogram beras dan dua liter minyak tanah. Ditambah lauk sederhana seperti tempe, kerupuk, dan sayur, keluarga tersebut membutuhkan uang sedikitnya Rp 60.000/hari. "Itu belum termasuk uang saku, jajan anak-anak, susu, dan biaya sekolah," katanya. Padahal, kini suaminya tidak lagi bekerja. Dulu Mas'ud bekerja sebagai buruh batik di Bali, namun kemudian berhenti untuk membantu istrinya mengurus anak-anak. Untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, mereka mengandalkan bantuan ketiga anak mereka yang sudah dewasa, yaitu M Yusron (anak pertama), M Ridho (keempat), dan M Ikhwan (keenam) yang bekerja sebagai buruh batik. Melahirkan di Becak Namun, meskipun kondisi ekonominya pas-pasan, Halimah dan Mas'ud mengaku jarang bersedih. "Kalau tidak punya uang memang terkadang sedih juga. Tetapi, hanya sebentar. Setelah melihat anak-anak, hati jadi senang lagi. Pokoknya pasrah saja, Allah pasti memberi rezeki," ujarnya, sambil tersenyum. Kepasrahan itulah yang rupanya membuat dia tak pernah takut menghadapi hidup dan tetap sehat meskipun telah sembilan belas kali hamil dan melahirkan. "Saya pernah diberi tahu dokter. Katanya, perut saya bisa bengkah (ambrol-red) jika terus hamil. Tetapi saya tidak takut. Pasrah saja, ternyata sehat," tandasnya. Sebagian anaknya dilahirkan dengan bantuan dukun bayi, sebagian lainnya atas bantuan bidan. Semuanya dilahirkan secara normal dan mudah. Romlah (10), anaknya yang ke-12, bahkan lahir di atas becak. "Waktu itu saya sudah ngempet (menahan-red). Lha kok mak jebrol dia lahir di becak," tuturnya, sambil menunjukkan bocah perempuan kuning langsat di sebelahnya. Meskipun selalu sehat saat hamil dan melahirkan, dia mengaku tidak punya resep khusus. Dia hanya rajin minum jamu dan memasrahkan hidup pada Tuhan. Ketika menikah pada 1974, dia sebenarnya tidak bercita-cita punya anak banyak. Namun Tuhan berkehendak lain. Tiap tahun dia melahirkan dan punya anak. Hingga tahun keenam pernikahannya, Halimah dan Mas'ud sudah dikaruniai enam anak. "Tahun 1987-1990 saya pindah ke Bali, karena suami bekerja di sana. Pada waktu itu kami sudah punya anak sembilan," katanya. Setelah bolak-balik Pekalongan-Bali, pada 1998 Halimah kembali ke Pekalongan hingga sekarang. "Kini anak saya sudah 19, 10 laki-laki dan sembilan perempuan. Tiga orang telah meninggal," tambahnya. Dengan tersenyum, sambil mengelus perutnya yang tengah hamil empat bulan, dia berkata: "Kalau boleh minta, saya tak ingin hamil lagi. Tetapi kalau diberi lagi ya, ndak apa-apa. Saya lebih takut ikut KB," tegasnya. (Muhammad Burhan-58) |