logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 13 Desember 2005 NASIONAL
Line

Derai Tawa Berubah Jadi Rintihan

BEBERAPA menit sebelum kecelakaan, empat buruh garam asal Desa Mangun Legi, Kecamatan Batangan, Pati masih sempat bercanda dengan teman-temannya. Akan tetapi, selepas pukul 07.00 WIB mereka pergi untuk selama-lamanya. Tabrakan maut itu telah merenggut nyawanya. Dan, suara derai tawa mereka tiba-tiba berubah menjadi rintihan dan isak tangis, ketika truk yang mereka tumpangi bertabrakan dengan mobil lain.

Suasana Desa Mojowarno, Kecamatan Kaliori, Rembang, di mana para korban bertempat tinggal pun dilanda duka. Banyak warga terutama kaum wanita yang menangis.

Dengan suara tersendat-sendat, Sartoni dan Sumadi menyatakan bersyukur karena mereka lolos dari maut. Namun di balik itu mereka bersedih, karena kehilangan empat tetangga sekaligus teman bekerja.

Dikatakan, kejadian yang sangat menyedihkan itu dirasakan seperti mimpi. Sebab beberapa menit sebelum kecelakaan mereka masih bercanda. Bahkan ketika dalam perjalanan naik truk, mereka tak henti-hentinya saling meledek.

Derai....

(Sambungan hlm 1)

Peristiwa itu sendiri, menurut Sartoni dan Sumadi, dilukiskan sangat mengerikan. Pada awalnya mereka bersama korban meninggal dunia dan luka berat berangkat bekerja pukul 06.00. Mereka berangkat dengan naik truk. Tujuannya adalah untuk mengangkut garam dari gudang Kaliori untuk dibawa ke Batangan.

Namun sebelum pekerjaan itu terlaksana, truk yang mereka tumpangi bertabrakan dengan Toyota Innova dan terguling hingga dua kali.

''Setelah itu saya tidak ingat apa-apa. Saya baru sadar kalau terjadi kecelakaan setelah di rumah sakit,'' ucap Sumadi.

Bagaimana kok bisa lolos dari maut?

Kedua orang itu mengungkapkan, pada saat peristiwa terjadi sudah tidak ingat apa-apa. ''Ya hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan nyawa saya,'' tutur Sumadi.

Menurut dia, korban tewas (Kailan, Toyo, Suwari, dan Sumardi) merupakan teman bekerja yang baik. Itu sebabnya mereka merasa sangat kehilangan.

"Mereka seperti saudara sendiri.''

Kematian empat pekerja garam, oleh keluarganya dirasakan sangat cepat. Lebih lagi mereka menjadi tumpuan hidup keluarganya, utamanya anak dan istri. Para keluarga korban benar-benar sangat terpukul atas kejadian tersebut. Seharian mereka mengurung diri di dalam kamar. Dari luar terdengar suara tangis yang menyayat hati.

Kasubbag Lantas Polwil Pati Kompol Taufik RH SIK menepis anggapan kecelakaan itu berbau mistik.

Menurut dia, kecelakaan itu masih dalam penyelidikan. Bisa saja disebabkan oleh faktor manusia, kendaraan, jalan, dan alam.

Banyak peristiwa kecelakaan yang disebabkan oleh faktor manusia, misalnya pengemudi ceroboh atau kurang hati-hati menyeberang jalan.

Kemudian kendaraan yang tak laik jalan, kondisi jalan yang licin, atau faktor alam juga bisa menyebabkan kecelakaan lalu-lintas. Jika salah satu dari masalah tersebut ada yang tidak beres, maka besar kemungkinannya akan terjadi kecelakaan.

Khusus kecelakaan di Rembang, menurut Taufik, hal itu lebih condong disebabkan oleh kecerobohan pengemudi. Jika pengemudi Innova mau bersabar, mungkin tak akan terjadi kecelakaan.

Namun di luar itu, dia mengutarakan, kondisi jalan pantura di wilayah Rembang tergolong sempit. Bahkan tidak sedikit jalan yang memiliki bahu jalan curam, sehingga rawan terjadi kecelakaan.

''Keadaan jalan seperti itu juga ikut mendukung terjadinya kecelakaan,'' tandasnya.

Ketika disinggung soal upaya polisi untuk menekan angka kecelakaan, ia mengemukakan, pihaknya sudah bekerja secara maksimal. Misalnya, melakukan penyuluhan tertib lalu lintas kepada masyarakat.

Selain itu, beberapa tempat rawan kecelakaan dijaga polisi, atau setidaknya diberi tulisan yang berisi peringatan kepada pemakai jalan. Pihaknya juga menindak tegas kepada pelanggar lalu lintas yang berpotensi terjadi kecelakaan.

Ditanya tentang tingkat pelanggaran lalu lintas di wilayah hukum Polwil Pati, Taufik menuturkan, masih cukup tinggi. Setiap tahunnya rata-rata ada 50.000-60.000 pelanggar yang diproses secara hukum.(jl-14v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA