| Selasa, 13 Desember 2005 | NASIONAL |
Komponis di Tengah Musik Industri
MENJAMURNYA musik industri atau musik pop (populer) pada satu sisi memberikan banyak manfaat bagi anak bangsa. Bahkan, dengan keunggulan-keunggulan musik industri, musik Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Coba tengok grup musik semacam Dewa, Slank, Padi, Peterpan, Radja, /rif, Jikustik, Cokelat, Boomerang, Gigi, dan Sheila on Seven. Grup musik mayor label yang menyajikan lagu easy listening itu sangat digandrungi anak muda. Mereka sanggup mengalahkan grup musik luar negeri yang jumlahnya saabrek. Bahkan, kelompok musik itu mampu manggung di beberapa negara Eropa dan Asia. Itu baru kelompok musik, belum penyanyi solonya. Seperti Ari Laso, Baim, Audi, dan Rosa. Namun musik industri tidak seluruhnya dipandang positif. Para pemusik yang masih menyimpan idealisme, menilai musik industri itu justru mengganggu dan meracuni proses kreativitas atau imajinasi para pemusik. Pasalnya, para pemusik harus bisa mematuhi permintaan produser untuk memenuhi selera pasar. Sebab, karya mereka hanya dihargai sebatas berapa banyak kaset atau VCD yang terjual. Berangkat dari rasa keprihatinan itulah Pekan Komponis yang sudah lama beku mulai dicoba untuk dihidupkan kembali oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Pekan Komponis yang dimulai sejak 1979 itu baru bisa digelar untuk kesebelas kalinya tahun ini. Dalam Pekan Komponis XI yang digelar mulai 7 hingga 10 Desember, DKJ menggandeng Taman Budaya Surakarta (TBS) dan STSI Solo. ''Inilah untuk kali pertama Pekan Komponis diadakan di luar Jakarta,'' kata Ketua DKJ Agus Sarjono. Miskin Sarana Ada 12 komponis dalam 10 grup dari 9 kota yang ditampilkan. Yaitu Haris Mahmud (Sanggar Tradisional Maru-Makasar), Ade Rudiana (Idea Percussion-Bandung), Subiyantoro (Kelompok Musik Enco Gamelan Performance-Sidoarjo). Nelson Grimandi Setiawan Ilot, Zaki Andiga, Andreas Arianto Yanuar (The Circle-UPH Karawaci), Purwa Askanta (STSI-Solo), Tony Maryana (Kesper ISI-Yogyakarta), Yovieal Tripurnomo Virgie (Cikini 73 Ensemble IKJ-Jakarta). I Ketut Garwa (Kelompok Musik Kolaborasi Instrumen ISI-Denpasar), Moritsa Tahe (Komunitas Maestro-Aceh), dan Sugiyanto (Kelompok Los STSI-Solo). Agus Sarjono mengemukakan, banyak sekali sekolah musik di Indonesia yang berkualitas, namun hanya sedikit komponis yang dihasilkan. Biasanya dari sekolah musik itu hanya lahir para pemusik yang terpaksa lari ke dunia musik industri, musik populer. Minimnya komponis yang lahir dari sekolah musik lebih disebabkan oleh sedikitnya sarana. Menurut Agus, Pekan Komponis merupakan salah satu sarana untuk ajang aktualisasi dan kreativitas para komponis di luar musik industri. Ibarat pohon, musik industri adalah pohon yang masuk taman. Sedangkan musik ''aneh'' yang dilahirkan para komponis ibarat pohon yang masuk hutan. Lagi pula hutannya masih perawan, masih angker, sehingga sulit atau bahkan tidak bisa keluar. Dia mengatakan, untuk mengapresiasi musik para komponis, baik untuk memainkan atau sebatas menikmati butuh imajinasi luas. ''Kami berharap dari ajang Pekan Komponis mampu melahirkan para komponis andal yang masih punya jiwa idealis. Kalau tidak kita mulai sekarang kapan lagi. Lagi pula komponis legendaris kita yang masih hidup hanya bisa dihitung dengan jari,'' kata Agus. Imajinasi Tinggi Ya, daya imajinasi dan proses kreativitas para komponis muda yang ikut ambil bagian dalam Pekan Komponis XI cukup tinggi. Apa pun bisa menjadi inspirasi dalam bermusik. Benda apa pun juga bisa digunakan sebagai sarana penghasil bunyi yang tidak asal bersuara. Imajinasi dan daya kreativitas para komponis muda itu liar, menembus batas budaya, ideologi, bahkan agama. Salah satu contoh, komponis muda Tony Maryana ketika tampil bersama kelompok musiknya Kesper-ISI Yogyakarta, menggunakan alat-alat rumah tangga seperti piring, wajan, ember, mangkok, dan anglo sebagai sarana untuk penghasil nada. Pria kelahiran Bandung 8 Oktober 1978 ini juga menggunakan air dalam ember untuk menghasilkan suara blekutuk-blekutuk dan ambril (amplas) untuk bunyi esek-esek. Menurut Tony, komposisi musik yang dihasilkan yang diberi judul Putaran No 1 dan Putaran No 2 adalah sebuah karya untuk alat metal dan tanah dengan pendekatan modal, cylic (putaran), dan eksplorasi dua perbedaan panjang dan rhythm. Yaitu alat-alat itu diaplikasikan sebagai parameter timbre, kenyaringan, dan temporary tekstur. ''Perubahan parameter tidak terjadi secara bertahap, tapi statistik dan umum sekali, sehingga terasa lamban. Sehingga untuk menikmati irama dibutuhkan kesabaran,'' kata dia. Kelompok Musik Kolaborasi Instrumen STSI Denpasar ikut tampil mencoba menampilkan komposisi baru. Komponis I Ketut Garwa mencoba menembus batas budaya dan ideologi dengan memadukan unsur/eleman musik yang ada dengan harapan ide-ide yang berkembang. Alat-alat itu seperti bedug (China), kendang (Jawa), tifa (Papua), dan rebana (Arab). ''Alat sangatlah berpengaruh terhadap kandungan rasa estetis. Maka dengan eksplorasi alat dan mengolah teknik permainan serta mengutamakan konsep harmonis dan disharmonis dapat menghasilkan bentuk karya komposisi musik yang sesuai dan tercermin dalam sebuah garapan,'' kata Ketut. Pendiri grup Band Krakatau, Dwiki Darmawan, yang juga dikenal sebagai komponis andal musik jazz dan etnis, mengemukakan, kegiatan Pekan Komponis sangat positif, karena itu harus diteruskan. Dia berpesan, jangan sampai Pekan Komponis terhenti hanya karena dana. Menurutnya, Pekan Komponis menunjukkan pada masyarakat bahwa musik di Indonesia sangat beragam dan variatif. ''Di luar musik industri kita punya kekayaan musik yang luar biasa,'' tandas dia yang juga pengurus DKJ itu. Dalam Pekan Komponis, tambah istri Ita Purnamasari itu, para komponis muda diberi kebebasan untuk berekspresi dan berimajinasi tanpa dibatasi batasan-batasan seperti dalam musik industri. Namun dia menyayangkan, penghargaan masyarakat terhadap kegiatan seperti itu dinilai masih kurang. Hal ini tentu saja berbeda dari luar negeri. Meski peminat juga sedikit, namun mereka tetap fanatik dan setia.(Langgeng W-14t) | ||||