| Selasa, 13 Desember 2005 | NASIONAL |
Tanpa Prioritas, Prestasi Akan Makin TerpurukSEJAK keikutsertaannya pada ajang SEA Games 1977 di Kuala Lumpur Malaysia, kontingen Merah-Putih telah sembilan kali menjadi juara umum. Pencapaian itu memang tidak secara berturut-turut. Namun, dominasinya baru bisa terpatahkan pada penyelenggaraan 1985 di Bangkok dan 1995 di Chiang Mai, keduanya oleh tuan rumah Thailand. Meski saat menjadi tuan rumah pada 1997 Indonesia berhasil kembali merebut gelar juara umum, sejak 1999 di Brunei Darussalam kontingen Indonesia hanya mampu bertengger di posisi tiga besar. Tidak juga beranjak. Pada SEA Games 2005 yang baru saja berlalu di Filipina, kita sungguh dibuat terperangah. Negara dengan penduduk 217 juta jiwa ini hanya mampu menempati urutan kelima, setelah mengoleksi 49 medali emas, 79 perak dan 89 perunggu atau total 217 medali. Berada di bawah Filipina, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Lalu, apakah yang salah dengan dunia olahraga kita? Mengapa kita bak bergerak ke belakang justru ketika negara-negara lain maju pesat? Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menpora) Adhyaksa Dault, bahkan sampai mengatakan bahwa dunia olahraga Indonesia saat ini sedang berada pada kondisi "siaga satu". "Dunia olahraga kita sedang berada dalam kondisi siaga satu. Tidak usah mencari kambing hitam atas buruknya prestasi olahraga nasional. Sekarang ini, saatnya berorientasi pada solusi. Harus ada perubahan pada praktik sistem olahraga nasional," katanya. Menurut dia, penyebab pertama turunnya prestasi Indonesia karena semua unsur yang terlibat dalam olahraga nasional tidak berada dalam sistem yang padu. Mereka berjalan sendiri-sendiri. "Sejak jatuhnya sistem pemerintahan Orde Baru, semua komponen olahraga berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada pengelolaan manajemen dan koordinasi yang terpadu antarinstansi terkait dan para stakeholder," tutur Adhyaksa. Terpadu Bandingkan dengan Thailand yang Komite Olimpiade Nasional-nya didukung oleh tujuh kementerian yang bergerak di bawah koordinasi satu komando terpadu. Jangankan mengharapkan semua instansi terkait berjalan dalam gerak langkah terpadu, pembagian tugas dan kewajiban masing-masing komponen saja hingga saat ini belum jelas dan disepakati oleh antarinstansi terkait. ''Ini saatnya Menpora harus mengambil inisiatif untuk melakukan reinterpretasi terhadap tugas dan tanggung jawab semua pihak yang terlibat dalam pembinan dunia olahraga nasional. Bagaimana pun juga, dia yang sekarang menjadi koordinator bidang keolahragaan nasional yang dulu ada di tangan KONI,'' kata MF Siregar, teknokrat olahraga. Apalagi dengan telah ditetapkannya Undang Undang Sistem Keolahragaan Nasional yang menyebutkan adanya institusi baru, Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Padahal, sudah bertahun-tahun Indonesia tidak bisa menafikkan keberadaan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sebagai wadah resmi tempat bergabungnya seluruh induk organisasi cabang olahraga. Jika dijabarkan mentah, pembinaan olahraga justru akan berantakan karena hampir pasti akan ada dua ''matahari'' yang memayungi olahraga Indonesia. ''Pilah dulu tanggung jawab dan kewajibannya. Itu harus dilakukan agar birokrasi yang dibentuk tidak justru menjadi penghalang pembinaan. Terutama sejak adanya UU Sistem Olahraga Nasional, Kementerian Olahraga, kemungkinan KOI, dan masih kuatnya KONI,'' tambahnya. Agar roda pembinaan bisa berputar, setiap unsur harus memahami tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Kemudian, semua pihak harus saling menghormati kewenangan pihak lain sehingga langkah yang diambil tidak lagi parsial, temporal dan situasional. Deskripsi kerja yang jelas akan membuat siapa saja yang ingin memberikan sumbangsih memajukan dunia olahraga nasional memiliki ruang artikulasi cukup. Semua elemen yang terkait harus siap menyambut dengan tangan terbuka keterlibatan masyarakat luas dalam proses kerja mereka dan bukan melanggengkan budaya nonpartisipatori, sehingga semua komponen dapat nyaman bekerja dengan kuasnya masing-masing di atas kanvas yang sama. Kemudian pada waktu yang ditentukan masyarakat Indonesia bisa menikmati sebuah lukisan indah yang tercipta dari goresan tangan para insan olahraga kita. Kompetisi Rutin Penyebab kedua adalah tidak adanya sistem kompetisi rutin, berkelanjutan dan terpadu. KONI selayaknya mengambil inisiatif untuk merumuskan konsep kompetisi nasional yang aplikatif dalam bentuk agenda kegiatan tahunan yang terjadwal dan teroganisasi rapi. Tugas KONI tidak cukup hanya mempersiapkan semua cabang olahraga agar siap menghadapi ajang kejuaraan multi-event, tapi juga menggagas sistem kompetisi yang tidak tumpang tindih dan jelas tahapan-tahapannya, mulai dari level pra-junior hingga pasca-junior. Usulan agar pada hari ulang tahun tiap badan usaha milik negara (BUMN) dimanfaatkan untuk mengadakan event kejuaraan nasional perlu dimatangkan. Termasuk mendukung langkah para gubernur menyelenggarakan kejuaraan-kejuaraan daerah. Melihat sejarah dan pengalamanannya, KONI diharapkan mampu menjadi pioner di tengah suasana sistem keolahragaan baru yang menuntut akuntabilitas terhadap program-program yang dijalankan, makin terbuka, pragmatis dan haus akan terobosan. Penyebab ketiga adalah karena kita seringkali terjebak dengan pola persiapan instan, seperti pelatnas, dan kurang memberikan porsi pada pelatihan jangka panjang. "Sudah saatnya kita menekankan pada pembinaan jangka panjang seperti program Indonesia Bangkit dan sudah bukan jamannya lagi kita hanya terfokus pada pola persiapan instan seperti pelatnas," ungkap Kepala Satuan Kerja Pelatnas SEAG ke-23 Manila, Djoko Pramono. Ia mencontohkan bahwa di arena pertandingan, atlet yang dipersiapkan melalui program jangka panjang terbukti lebih siap jika dibandingkan atlet yang hanya menjalani pelatnas. "Setelah punya program jangka panjang yang terarah, semua ukuran kemajuan prestasi harus mengacu pada standar kejuaraan di tingkat Asia dan dunia serta olimpiade. Kita harus kembali ke khittah semula yaitu mempersiapkan atlet agar mampu berbicara di tingkat dunia," kata Djoko, yang juga menjabat sebagai ketua Program Indonesia Bangkit itu. Peringatan agar kita kembali ke khitah itu rasanya sangat relevan sekarang, karena kita sudah terlalu sering silau dan terlena dengan target-target jangka pendek. ''Tapi kita juga tidak bisa melupakan pentingnya faktor dana. Selama dana untuk olahraga masih minim, jangan pernah berharap kita bisa bicara di tingkat internasional,'' tambah mantan Komandan Korps Marinir itu. Anggaran pembinaan pemuda dan olahraga yang superminim, hanya Rp 295 miliar atau 0,06 persen dari total APBN 2006, jauh berbeda dengan anggaran pendidikan yang dialokasikan sebesar Rp 32 triliun. KONI bahkan cuma mendapat jatah Rp 150 miliar. ''Sebagai catatan, Vietnam berani menganggarkan dana 4 persen dan Malaysia 5 persen dari total APBN-nya untuk olahraga. Kita? Jauh dari itu.'' Bahkan anggaran olahraga Indonesia tidak mampu melampaui angka transfer David Beckham dari Manchester United ke Real Madrid yang senilai Rp 330 miliar. Apalagi melampaui atau setidaknya menyamai jumlah kekayaan pesepakbola terkaya Inggris yang juga adalah suami Victoria, mantan anggota Spice Girl, itu yakni senilai 75 juta poundsterling. ''Kita harus mengatur siasat. Kondisi keuangan negara sedang krisis, sudah seharusnya kita menentukan prioritas perhatian pada cabang-cabang yang berpotensi besar untuk merebut prestasi di kancah internasional,'' kata Deputi Menpora Bidang Pemberdayaan Olahraga, Prof Dr Djohar Arifin Husin. Menurut dia, Indonesia tidak bisa lagi berlagak bak manusia super yang bernafsu menyokong semua cabang dengan kantong yang tidak berisi dana cukup. Apalagi kantong itu mulai robek di sana-sini karena seringnya dirogoh. Usulan Ketua Umum PB PASI, Muhammad "Bob" Ha-san, mungkin bisa menjadi pilihan. ''Seharusnya, cabang olahraga dengan medali massal, seperti atletik dan renang, mendapatkan prioritas pembinaan. Selama ini konsentrasi kita -terutama pemerintah di daerah- hanya terhadap sepak bola yang lebih banyak memberikan kita rasa malu di kancah internasional,'' tegas Bob. ''Kalau titik prioritas kita masih pada cabang yang digemari tapi tanpa prestasi, ya seterusnya kita akan menjadi penonton. Menjadi penggemar. Tidak menjadi orang berperstasi.'' (Budi Yuwono, Gunarso-40) |