logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 13 Desember 2005 MURIA
Line

Sejak Setahun yang Lalu

Kakak Tega Pasung Adik Sendiri

KUDUS - Kisah hidup yang begitu pilu menimpa Rifai (30), warga RT 8 RW 2, Desa Sambung, Kecamatan Undaan, Kudus. Duda yang ditinggal mati istrinya, Nasijah (28), lima tahun yang lalu itu, sudah setahun ini dipasung oleh saudaranya sendiri di sebuah bilik sempit di belakang rumahnya.

Kaki kanan lelaki bertubuh kurus kering itu dipasangi sebuah borgol yang dikaitkan dengan rantai sepeda sepanjang satu meter, sedangkan ujung rantai yang lain diikatkan ke salah satu kaki balai-balai, tempat ia tidur selama setahun terakhir.

"Sudah setahun ini kaki saya diborgol seperti ini," katanya kepada Suara Merdeka, Senin (12/12).

Karena keadaan tersebut, untuk sekadar buang air besar atau buang air kecil, ayah satu anak --yang kini dirawat mertuanya di Kecamatan Bae, Kudus-- itu juga harus melakukannya di tempat tersebut. Bahkan saat ditemui, Rifai dalam keadaan lemas, karena belum diberi makan oleh kakak perempuannya, Khumiyati (35).

Selain itu, anak terakhir pasangan Selimin (alm) dan Tarmijah (75) tersebut juga dalam keadaan setengah telanjang karena tak memakai celana.

"Sehari saya hanya diberi makan satu kali, tanpa lauk dan sesekali diberi sambal," katanya pelan.

Sementara itu, kakak perempuannya, Khumiyati, mengaku terpaksa memasung adik terkecilnya itu karena dianggap gila dan berulang-ulang mengancam keselamatan keluargannya.

Rifai memang tinggal serumah dengan kakaknya itu, setelah istrinya meningggal dunia, dan dibuatkan sebuah kamar di bagian belakang.

"Rifai sering ngamuk-ngamuk, makanya saya borgol seperti itu," ujarnya.

Namun dirinya membantah bahwa pemasungan tersebut sudah berlangsung setahun. Menurutnya, hal itu dilakukan hanya bila adik bungsunya itu mulai mengamuk. "Dia memang agak terganggu jiwanya," katanya.

Merasa Terancam

Kakak kedua Rifai, Zainuddin (40), mengatakan, soal pemasungan tersebut memang dilakukan adiknya, Khumiyati, beberapa waktu lalu. Penyebabnya, menurut dia, adik perempuannya sering merasa terancam oleh ulah Rifai yang terkadang, kalau sedang kumat, sering mengamuk. "Borgol tersebut dipinjam dari seorang tetangga bernama Ratno," katanya.

Salah seorang tetangga Rifai, Ngatmin (45) dan Afi (23) menyatakan, sebenarnya mereka sudah mengetahui keadaan Rifai sejak dulu. Namun, jelas mereka berdua, karena masalah itu mereka anggap urusan keluarga, dibiarkan saja.

Sebuah sumber kepada Suara Merdeka mengatakan, pemasungan tersebut dilakukan karena persoalan warisan. Masih menurut sumber tadi, baik Zainudin maupun Khumiyati, berkeinginan menguasai tanah warisan berupa sawah seluas 0,5 hektare, peninggalan kedua orang tua mereka.

Ketika hal itu ditanyakan kepada Khumiyati, istri Samsudin, ketua RT setempat, membantah hal itu. Menurutnya, dia terpaksa memasung adiknya karena memang yang bersangkutan sering marah-marah dan membahayakan dirinya, juga anggota keluarganya yang lain.

Kapolsek Undaan AKP Ramainulis beserta Kades Sambung Eko Setiyadi yang datang ke rumah Rifai langsung memutuskan untuk membawanya ke RSU Kudus karena kondisinya yang dianggap sangat mengkhawatirkan. Selanjutnya, kedua kakak Rifai, Zainudin dan Khumiyati, Senin (12/12), langsung dimintai keterangan pihak Polsek, terkait dengan peristiwa tersebut.

"Kami masih akan menunggu kepastian, apakah benar Rifai menderita gangguan jiwa atau tidak," tandas Ramainulis. (H8-15n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA