logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 13 Desember 2005 SEMARANG
Line

Kegagalan Jadi Awal Keberhasilan

KEGAGALAN dalam menjalin bahtera rumah tangga tidak selalu membuat seorang wanita menjadi terpuruk. Bisa saja kejadian pahit tersebut membuat seseorang menjadi lebih tegar dalam menghadapi tantangan hidup. Seperti pada Yuliana (40), Agency Manager PT Asuransi Bakrie Life.

Setelah dua kali gagal mengarungi bahtera rumah tangganya, dia justru menjadi semakin tegar. Hal itu terlihat dari keberhasilannya meniti karier. Salah satu alasan yang memicunya untuk terus mengembangkan karier adalah kebahagiaan ketiga anaknya.

''Alasan itu terbukti ampuh membuat saya menjadi kuat,'' tegasnya di sela-sela seminar tentang perekrutan di kantor PT Asuransi Bakrie Life, belum lama ini. Selain itu dia juga ingin menunjukkan, tidak selamanya seorang single parent gagal mengasuh anak-anaknya.

Kariernya sebagai agency manager tak diraihnya dengan mudah. Perjuangannya diawali sebagai seorang agen di perusahaan asuransi tempatnya bekerja tersebut pada 2002. Dia harus mencari nasabah agar bersedia bergabung ke asuransi tersebut. Pada waktu itu, pendapatannya Rp 2 juta per bulan. ''Saya tipe orang yang tidak gampang puas dan mudah tertantang. Dengan kemauan dan kerja keras, saya yakin dapat memperoleh hasil yang lebih tinggi lagi,'' tuturnya.

Dengan kerja keras dan kepercayaan diri yang dia yakini bisa menjadi kunci keberhasilan, dia mampu membuktikan kemampuannya. Pendapatan yang hanya Rp 2 juta per bulan dalam dua tahun naik menjadi Rp 75 juta per bulan. ''Ini terjadi selama enam bulan dan sampai saat ini saya anggap sebagai puncak dari pendapatan yang saya peroleh,'' ungkap dia.

Meski sudah menjadi agency manager, wanita ini mengaku tidak pernah membeda-bedakan nasabahnya. ''Nasabah saya beragam. Mulai dari tukang parkir, pembantu rumah tangga, penjual mi hingga pengusaha besar,'' ucapnya.

Bukan berarti semua nasabah tersebut dia peroleh dengan mudah. Pengalaman pahit ditolak nasabah pun sudah pernah dialaminya. ''Ada seorang pengusaha asal Wonosobo yang waktu itu berniat untuk bergabung,'' kisahnya. Bersama dengan leader-nya, dia berangkat ke daerah dingin tersebut dengan mengendarai mobil. Cuaca gelap dan berkabut menyambutnya setiba di sana.

Pengusaha tersebut setuju untuk bergabung dengan premi Rp 50 juta. ''Namun, dia hanya mau menandatangi berkas-berkas yang ada pada keesokan harinya.''

Nasib mujur ternyata belum berpihak pada dirinya. ''Keesokan harinya pengusaha tersebut memutuskan untuk tidak jadi bergabung. Dengan alasan, istrinya tidak menyetujui,'' kata Yuliana. Dengan lapang dada, dia mampu menerima kenyataan itu. ''Ini sudah menjadi risiko pekerjaan,'' ujarnya.

Jalan-jalan ke luar negeri menjadi kegiatannya hampir setiap tahun. Seluruh biaya ditanggung perusahaan atas keberhasilan pencapaian premi Rp 600 juta per tahun. ''Saya selalu mengajak anak-anak karena tidak bisa jauh dari mereka,'' tutur ibu dari Roy Saputra, Rio Saputra, dan Rendi Saputra itu. (Roosalina-44j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA