| Selasa, 13 Desember 2005 | INTERNASIONAL |
Masri Minta Merkel Jelaskan KasusnyaULM - Khaled el-Masri berbicara dengan tenang, namun penjelasannya yang panjang lebar dan datar hampir tidak mengubah ekspresi mereka. Saat itu, dia menyatakan lagi tujuan yang menjadi obsesinya. ''Saya ingin tahu bagaimana hal ini bisa terjadi dan mengapa mereka melakukannya pada saya,'' kata dia. Cerita Masri - bahwa dia ditangkap di Makedonia pada akhir 2003, diserahkan ke agen-agen AS, diterbangkan ke Afghanistan, dan dipenjara selama beberapa bulan sebagai tersangka teroris - kali pertama disiarkan Januari tahun ini. Namun, baru pekan lalu tuduhan-tuduhan yang dilontarkan warga Jerman itu menjadi pembicaraan ramai. Nasib yang dialami Masri itu segera menjadi berita utama di seluruh dunia. Pemerintahan baru Jerman di bawah Kanselir Angela Merkel didesak agar melakukan penyelidikan. Hal itu juga merepotkan upaya pertama Merkel untuk memperbaiki hubungan dengan Washington setelah tiga tahun tegang akibat penentangan pemerintah sebelumnya terhadap perang Irak. Dengan menggugat Badan Intelijen Pusat AS karena keliru memenjara orang, Masri melontarkan tantangan hukum unik terhadap praktik kontroversial ''rendition'' - memindahkan para tersangka teroris secara diam-diam ke luar AS dan menginterogasinya di tempat-tempat di luar jangkauan sistem hukum. Alami Kemajuan Pria 42 tahun itu mengatakan dia tidak tertarik terjun ke politik dan satu-satunya harapan dia adalah publisitas yang dia lakukan akan memperbesar peluangnya untuk mengetahui mengapa dia ditahan selama lima bulan sebelum dibebaskan pada Mei 2004. Namun pengacaranya, Manfred Gnjidic, yakin kejadian-kejadian pekan lalu - termasuk pernyataan penting Merkel bahwa Amerika mengaku salah dalam kasus Masri - telah membuat kasus itu mengalami kemajuan. Dengan Masri di sampingnya, dia mengatakan dalam wawancara dengan Reuters bahwa dia telah menulis surat kepada Merkel untuk minta perincian lebih lanjut. Dia juga minta Kanselir ''menghilangkan kebingungan'' yang muncul ketika para pejabat AS kemudian membantah telah mengeluarkan pengakuan semacam itu. Amerika Serikat mengatakan ''rendition'' adalah praktik yang telah dilakukan selama satu dasa warsa yang menghasilkan intelijen vital untuk melindungi Amerika dan sekutu-sekutunya dalam perang melawan terorisme. Washington membantah melakukan penyiksaan sendiri - dugaan yang ditujukan kepadanya dalam gugatan Masri - atau meminta negara lain melakukan penyiksaan itu. Dibahas Parlemen Kasus Masri tampaknya memperoleh momentum dalam politik Jerman pekan ini, saat menteri dalam negeri, luar negeri, dan kehakiman diperkirakan memberi kesaksian di depan komite parlemen dan Bundestag, atau majelis rendah. Parlemen akan membahas masalah itu Rabu besok. Pembahasan akan dipusatkan pada sejumlah pertanyaan tak terjawab, termasuk apakah pemerintah Jerman atau pejabat keamanan mengetahui keadaan Masri saat masih ditahan Amerika. Dan jika tahu mengapa mereka tidak berbuat apa-apa. Dalam wawancara itu, Masri dan Gnjidic mengatakan para interogator di Afghanistan juga punya banyak informasi tentang kehidupan dan kontak-kontak Masri di kota kelahirannya Neu Ulm. ''Mereka tahu sangat banyak tentang kehidupan pribadinya, keadaan sekeliling, dengan siapa dia berhubungan, berbelanja, dan kepada siapa dia meminjamkan mobilnya,'' kata Gnjidic. Hal itu mendorong media Jerman bertanya apakah dinas-dinas keamanan mereka memberi informasi kepada badan keamanan Amerika tentang Masri sehingga dia diculik. Namun dugaan itu dibantah sebagai ''memalukan'' oleh Menlu Frank-Walter Steinmeier. Masri mengatakan dia meminjamkan mobilnya kepada Reda Seyam, tokoh Islam radikal yang sedang disidik kejaksaan Jerman atas dugaan mendukung terorisme. ''Saya berbelanja dengan dia beberapa kali, saya membantunya pindah rumah, dan sebagai ungkapan terima kasih dia mengundang saya dan keluarga untuk makan malam,'' jelasnya. Dia bantah bahwa dia sendiri punya pandangan militan. (rtr-niek-26) |