| Selasa, 13 Desember 2005 | INTERNASIONAL |
Sebagian Warga Irak Mulai Coblos Pemilu LegislatifBAGDAD - Pemilihan parlemen dimulai Senin kemarin di rumah sakit-rumah sakit, kamp militer, dan bahkan penjara di seluruh Irak. Amerika Serikat berharap bisa membantu memadamkan perlawanan sehingga pasukan AS bisa mulai ditarik pulang. Pemerintah Irak mengumumkan akan menutup perbatasannya, memperpanjang larangan keluar rumah, dan membatasi perjalanna domestik mulai Selasa ini - dua hari sebelum pemilihan utama dimulai - untuk mencegah kelompok perlawanan mengacau pemilihan. ''Kami sangat siap melaksanakan pemilihan, dan kami bertekad mengadakan pemilihan,'' kata Mendagri Bayan Jabr. ''Kami berharap semua orang berpartisipasi dan hari pemilihan aman. Kami berada pada titik waktu bersejarah.'' Para pemilih akan memilih parlemen konstitusi penuh pertama sejak jatuhnya Saddam Hussein pada tahun 2003. Parlemen yang beranggotakan 275 orang yang menjabat selama empat tahun itu kemudian akan memilih pemerintahan baru. Para pejabat AS berharap pemilihan itu bisa memperoleh kepercayaan dari kelompok minoritas Suni Arab - dasar perlawanan. Dalam satu pernyataan Minggu (11/12), komisi pemilihan Irak menyatakan tengah menyelidiki melonjaknya jumlah pemilih baru di Kirkuk ''yang sulit dijelaskan''. Suku Kurdi ingin memasukkan kota kaya minyak di Irak utara itu ke daerah otonomi mereka, gagasan yang ditolak keras dua kelompok etnik lain di kota itu, Arab dan Turkomen. Saddam Punya Hak Meski sebagian besar dari 15 juta pemilih yang memiliki hak pilih akan memberikan suaranya Kamis lusa, tentara, polisi, pasien rumah sakit, dan para tahanan yang belum terbukti melakukan kejahatan, memberikan suaranya kemarin. Para pejabat mengatakan Saddam - yang dipenjara dan sedang mengadapi persidangan atas kematian lebih dari 140 orang Syiah pada 1982 - punya hak memberikan suaranya namun tidak diketahui apakah dia akan menggunakan haknya atau tidak. Tersangka gerilyawan yang ditahan di AS dan Irak namun belum diputus salah, juga boleh memberikan suaranya, kata sejumlah pejabat Irak. Pada Selasa ini, sekitar 1,5 juta pemilih Irak yang tinggal di luar negara itu bisa mulai memberikan suaranya selama dua hari di pusat-pusat pemungutan suara di 15 negara, termasuk AS, Kanada, dan Australia. Para pemilih harus memiliki paspor, KTP atau kartu dinas militer, dan memasukkan jarinya ke dalam tinta untuk mencegah mereka memberikan suaranya lebih dari sekali. Karena keamanan yang sangat ketat, kampanye-kampanye dilakukan lewat iklan media, baner warna-warni dan poster di jalan-jalan, dan konferensi pers. Sebagian besar perhatian dipusatkan pada Suni Arab, yang memboikot pemilihan 30 Januari lalu untuk memprotes berlanjutnya kehadiran militer AS di Irak. Karena sebagian besar kaum Suni Arab tetap di rumah, kelompok Syiah dan Kurdi memenangi lebih dari 220 dari 275 kursi parlemen - langkah yang memperburuk ketegangan etnik dan meningkatkan perlawanan yang didominasi Suni. Kali ini, lebih banyak kandidat Suni Arab ikut bersaing, dan perubahan undang-undang pemilihan untuk mengalokasikan lebih banyak kursi berdasarkan provinsi bukannya partai, menjamin blok Suni yang lebih besar di parlemen mendatang. Dubes AS Zalmay Khalilzad mngimbau seluruh warga Irak memberikan suaranya. Dia mengatakan kepada wartawan di Sulaimaniyah Minggu lalu: ''Kita membutuhkan pemerintah yang menyatukan Irak.'' Jumlah pemilih yang memberikan suaranya Januari lalu sekitar 58 persen, namun kurang dari lima persen di Provinsi Anbar, yang didominasi Suni dan menjadi pusat perlawanan. Para pejabat AS berharap banyaknya kaum Suni yang memberikan suaranya dan kuatnya blok Suni dalam parlemen baru bakal membantu menumpas kekerasan, sehingga AS dan mitra koalisinya bisa mulai menarik pulang pasukannya pada tahun 2006.(ap/yahoo-niek-26) |