logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 10 Desember 2005 MURIA
Line

Usulan Aktifkan Lapangan Terbang di Cepu

Menunggu Kemauan Pihak Terkait

IHWAL rencana pengaktifkan kembali lapangan terbang di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora sebenarnya mulai bergulir sejak akhir 2003. Saat itu, Pemkab Blora bersama Dinas Perhubungan Provinsi Jateng melakukan pertemuan dengan Pusdiklat Migas Cepu di Semarang.

Saat itu muncul wacana untuk mengaktifkan lapangan terbang itu dalam kegiatan eksplorasi migas di Blok Cepu. "Dulu memang kami pernah melakukan pembicaraan tentang lapangan terbang ini dengan Pemkab Blora dan Dinas Perhubungan Provinsi. Dalam pertemuan ini mereka memunculkan wacana bahwa lapangan terbang ini akan diaktifkan. Namun sampai sekarang pembicaraan serupa belum pernah lagi dibicarakan. Kami juga belum mengetahui tindak lanjutnya seperti apa," ujar Kepala Bagian Humas Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Migas Slamet Suwito.

Sementara itu, pada tahun ini Pemkab Blora telah mengalokasikan dana perbaikan jalan desa yang menjadi akses ke lapangan terbang tersebut. Perbaikan jalan dengan panjang 3.320 meter lebar empat meter di Desa Mulyorejo menuju Desa Kapuan itu hingga kini telah mencapai 95%. Total anggaran yang digunakan untuk pembangunan jalan itu mencapai Rp 526 juta.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Drs Bondan Sukarno menegaskan, perbaikan jalan di dua desa itu dilakukan karena sudah lama rusak. Menurut dia, tidak ada kaitan antara perbaikan jalan dan lapangan terbang di Desa Ngloram.

"Karena sudah lama rusak dan warga menghendaki perbaikan, kami mengalokasikan dana untuk perbaikan jalan desa itu," ujarnya.

Bondan mengatakan, pada tahun depan pihaknya juga berencana memperbaiki jalan dari Desa Kapuan ke Desa Ngloram.

"Perbaikan jalan dari Desa Mulyorejo ke Desa Ngloram memang sudah direncanakan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun karena keterbatasan dana, tahun ini perbaikan jalan baru bisa dilakukan di Desa Mulyorejo menuju Kapuan. Insya Allah tahun depan kami akan memperbaiki jalan dari Desa Kapuan menuju Desa Ngloram," ujarnya.

Lapangan terbang itu hanya berjarak tujuh kilometer dari pusat Kota Cepu. Hanya sekitar 20 kilometer dari sumur minyak Banyuurip dan sumur minyak Jambaran di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jatim.

Selepas dari pertigaan Desa Mulyorejo, untuk sampai ke lokasi lapangan, terlebih dahulu harus melewati jalan di Desa Mulyorejo, Desa Kapuan, dan Desa Ngloram.

Pada 2003 hingga 2005 ini jalan menuju lapangan terbang itu rusak cukup parah. Sebab, jalan di tiga desa itu juga dilalui truk pengangkut pasir dari Sungai Bengawan Solo. Kelas jalan dan beban muatan yang tidak seimbang menyebabkan jalan tersebut cepat rusak.

Juwahir, warga yang tinggal di sekitar lapangan terbang itu mengatakan, sejak 1980 lapangan terbang milik Pusdiklat Migas itu sudah tidak difungsikan. Didampingi istrinya, Juwahir menceritakan, saat baru selesai dibangun pada 1971, lapangan udara seluas sekitar 25 ha itu sering disinggahi pesawat terbang kecil. Hal itu cukup beralasan, sebab panjang landas pacu lapangan tersebut hanya sekitar satu kilometer dengan lebar tak lebih dari 20 meter.

Menurut dia, setiap pekan lapangan terbang itu rata-rata didarati tiga pesawat. Lama-kelamaan menyusut dari dua kali seminggu menjadi sekali saja. Terakhir, sekitar 1980 lapangan ini tidak dioperasikan lagi.

"Saya tidak tahu persis apa alasannya," ujar Juwahir yang juga kepala dusun di desa itu.

Ia menceritakan, saat itu masyarakat "diminta" merelakan sawah dan tegalannya dibeli untuk pembangunan lapangan terbang. Masyarakat di desanya juga tidak diberi akses untuk menikmati manfaat lapangan terbang tersebut.

"Di sekitar lapangan terbang dibangun pagar kawat keliling. Masyarakat waktu itu hanya menurut, takut diapa-apakan," tandasnya.

Seiring dengan tidak difungsikannya lagi lapangan terbang itu, masyarakat beramai-ramai mencabuti pagar kawat keliling tersebut dan menjualnya. Dengan demikian, masyarakat bebas berlalu-lalang di sekitarnya.

Juwahir berharap warga dilibatkan dalam perencanaan sekaligus pembangunan lapangan terbang tersebut. Kejadian pada masa lalu, yakni masyarakat tidak diberi akses untuk beraktivitas di sekitar lapangan terbang, mereka harap tidak terulang lagi.

"Setidaknya masyarakat dibuatkan akses jalan agar bisa tetap beraktivitas sebagaimana biasanya," pintanya. (Abdul Muiz-54n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA