| Sabtu, 10 Desember 2005 | MURIA |
Bertahan di Tiga BupatiPernah Dikeroyok Tukang BecakJANGAN berharap kita bisa melihat sepeda motor atau mobil parkir di halaman depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora. Ketika kendaraan masuk halaman gedung yang berlokasi di Jl Pemuda ini, sepasang mata petugas piket selalu mengawasi laju kendaraan tersebut. Begitu kendaraan berhenti, petugas itu langsung memberi aba-aba untuk parkir di tempat semestinya, yakni di belakang kantor. Peluit pun dibunyikan jika pengemudi tidak memperhatikan aba-aba tersebut. Meski usianya cukup tua, yakni 55 tahun, petugas berseragam cokelat tua itu masih terlihat energik dan tegas. Tanpa kompromi, setiap kendaraan yang berhenti di depan kantor Pemkab pun dihalaunya. ''Prosedurnya memang seperti itu. Jadi, saya melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur tersebut,'' ujar Margono Hadi Suwito, nama lengkap petugas tersebut. Pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja di Kantor Polisi Pamong Praja, Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Pol PP Kesbanglinmas) itu sudah sejak 1985 bertugas sebagai penjaga kantor Pemkab. Setiap tamu yang hendak menemui pejabat, lebih-lebih Bupati, lebih dahulu harus lapor kepadanya. Sebuah buku tamu pun dia persiapkan di atas meja untuk menulis nama, alamat, maksud, dan tujuan setiap tamu yang datang. ''Setiap tamu harus menuliskan identitasnya di buku tamu ini,'' katanya. Pria yang sudah dikarunia tiga orang cicit, 12 cucu dari kelima anaknya ini mengatakan, kali pertama bekerja di Pemkab ia menjadi tenaga honorer pada 1970 dan langsung ditempatkan di bagian yang langsung berhubungan dengan ketertiban masyarakat. Bahkan hingga kini pun dia tetap bertahan di lingkup tugasnya tersebut. ''Sejak pertama bekerja hingga sekarang saya tetap ditugaskan di Kantor Pol PP Kesbanglinmas, meski tempat tugasnya berbeda-beda,'' tandasnya. Margono menyebutkan beberapa tempat yang pernah disinggahinya untuk melaksanakan tugas tersebut, antara lain kantor DPRD, pendapa rumah dinas Bupati dan kantor Pemkab, selain tugas di lapangan untuk menjaga ketertiban masyarakat. Pengalaman Pahit Karena itu, tidaklah mengherankan jika pengalaman pahit dan manis masih terekam di benaknya. Menurut warga Desa/Kecamatan Jiken ini, pengalaman pahit yang masih diingatnya hingga kini adalah ketika ia dikeroyok beberapa tukang becak. Margono menceritakan, peristiwa itu terjadi pada 1984. Saat itu ia bersama petugas Pol PP lainnya tengah melakukan penertiban di sekitar Pasar Blora. Beberapa tukang becak diminta tidak parkir secara sembarangan di lokasi pasar. Namun permintaan tersebut tidak dihiraukan tukang becak. Mereka, menurut Margono, melakukan perlawanan kepada petugas. Tanpa diketahui asal-muasalnya, tiba-tiba beberapa tukang becak mengeroyok dirinya. Suami Siti Aisyah ini pun tidak tinggal diam. Ia meladeni perlawanan tukang becak tersebut. ''Saya masih ingat betul, waktu itu saya memukul seorang tukang becak hingga beberapa giginya tanggal,'' ungkapnya. Beruntung peristiwa tersebut tidak berlanjut ke proses hukum. Waktu terus berjalan hingga akhirnya Margono ditugasi sebagai penjaga kantor Pemkab. Yang menarik, meski Bupati Blora sudah berganti tiga kali, yakni dari Bupati Sumarno ke Bupati Sukardi dan ke Bupati saat ini, Ir H Basuki Widodo, Margono tetap setia bertugas di kantor tersebut. Bahkan dia berharap bisa bertugas di tempat ini hingga pensiun pada 2007. ''Kalau bisa tidak usah pindah tugas lagi. Saya kan sebentar lagi pensiun,'' ujarnya. PNS dengan pangkat/golongan IIB ini mengatakan, di tempat tugasnya ini ia bisa mengenal lebih dekat Bupati dan pejabat-pejabat lainnya. Namun bukan berarti ia paham karakteristik dua orang mantan bupati dan bupati saat ini serta pejabat-pejabat di lingkungan Pemkab. ''Kalau ditanya sifat-sifat mereka, saya kurang paham. Menurut saya semua baik-baik,'' katanya. (Abdul Muiz-15n) |