| Sabtu, 10 Desember 2005 | MURIA |
Jumlah Penderita Kusta di Rembang Turun
REMBANG - Jumlah penderita kusta di Kabupaten Rembang sejak 2003 hingga 2005 kini cenderung menurun. Bila pada 2003 tercatat 96 pasien, 2004 sebanyak 89 orang, pada tahun ini "hanya" 78 orang. Demikian dikatakan Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) dokter Endang Hartuti. Dia juga mengatakan, meski dari tahun ke tahun jumlah penderita kusta terus menurun, hingga kini daerahnya belum bisa terbebas dari penyakit yang disebabkan kuman Mycobacterium leprae tersebut. Bahkan bila dibandingkan dengan daerah lain di Jateng, Rembang perlu mendapat perhatian khusus. Berdasarkan hasil pendataan DKK pada 2003, jumlah penderita kusta 96 orang. Kemudian pada 2004 jumlah penderita menurun menjadi 89 orang, sedangkan tahun ini turun lagi menjadi 78 orang. Endang yang dihubungi Suara Merdeka di ruang kerjanya kemarin megatakan, jenis penyakit kusta yang menyerang warganya ada dua macam, yaitu jenis basah dan kering. Tanda-tanda kusta jenis basah, timbul benjolan merah hingga berlanjut menjadi muka bopeng. Bila sudah masuk pada stadium tertentu bisa menimbulkan cacat tubuh, misalnya jari-jari tangan atau kaki lepas. Jika ada warga yang terkena penyakit kusta jenis basah, cara pengobatannya butuh waktu setahun. Bila aturan pengobatan tersebut tidak dipenuhi, mustahil penderitanya bisa disembuhkan. Kemudian tanda-tanda kusta jenis kering, timbul bercak putih seperti panu. Pada proses berikutnya akan terjadi mati rasa, terutama pada daerah yang muncul bercak putih tersebut. Setelah itu, bisa menimbulkan cacat tutuh seperti penderita kusta jenis basah. Cara pengobatan penderita kusta jenis kering ini hanya membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Namun harus dilakukan secara rutin dan tidak boleh terputus. "Kami juga menyediakan pengobatan gratis untuk penderita. Caranya mudah, penderita harus mau datang ke puskesmas atau rumah sakit," ucap Endang. Disinggung tentang penyebab penyakit kusta, dia mengatakan, penyakit kusta itu bukan penyakit akibat kutukan Tuhan, tetapi ditimbulkan oleh bakteri. Karena itu, warga diminta tetap menjaga kebersihan lingkungan. Tujuannya agar bakteri tersebut tidak berkembang. Diakuinya, penyakit kusta itu menular, tetapi proses penularannya membutuhkan waktu lama. "Kalau cuma berjabat tangan dengan penderita kusta, tidak ada masalah," ujarnya. (jl-54n) |