| Sabtu, 10 Desember 2005 | MURIA |
Butuh Uluran TanganDarmi Tergolek 19 Tahun sejak SDTUBUH wanita kelahiran 30 tahun lalu itu tergolek di sebuah ranjang beralaskan tikar. Nasib Darmi, nama wanita itu, memang tidak seberuntung wanita lain seusianya. Kelumpuhan yang dideritanya sejak kelas V SD itu membuat hidupnya terpasung. Tubuhnya pun mengurus dengan raut wajah pucat pasi. Menurut ibunya, Satipah (60), kelumpuhan itu bermula ketika tengah bermain di sekitar rumah, Darmi terjatuh. Warga RT 2 RW 1, Desa Dersalam, Kecamatan Bae itu tidak menyangka kejadian tersebut akan mengubah hidup buah hatinya. "Pada awalnya tidak terjadi apa-apa. Namun, lambat laun dia mengeluh kakinya sakit," kata wanita yang dikaruniai dua anak itu. Akibat impitan ekonomi, Satipah hanya dapat membawa buah hatinya ke seorang juru pijat. Maksud hati ingin mengobati, namun ternyata langkah tersebut malah membuat Darmi lumpuh. Mendapati kenyataan itu, kendati dengan bersusah payah, dia pun membawa Darmi berobat. Tidak kenal menyerah, Darmi digendong untuk mendatangi sejumlah dokter. "Darmi sudah wareg suntik. Saya kurang jelas apa kata dokter, yang pasti, dia disuntik dan diberi obat. Namun tidak ada perubahan, hingga akhirnya saya pun pasrah, karena saya sudah tidak mempunyai ongkos lagi," ungkapnya. Ironisnya, anak keduanya yang bernama Siswanto pun menderita sakit. Satipah tidak dapat mengingat, kapan si bungsu yang kini berusia 25 tahun tersebut mengeluh sakit kepala. "Siswanto sempat menyelesaikan sekolah dasar. Awalnya dia mengeluh pusing berkepanjangan. Kemudian oleh suami saya, dia sempat dibawa ke sebuah rumah sakit di Magelang. Kondisinya lumayan membaik. Namun tak berapa lama, dia kembali mengeluh sakit. Dia kini hanya berbaring saja, tidak dapat beraktivitas," tuturnya. Kehidupan Satipah semakin memprihatinkan selepas ditinggal pergi sang suami, Darjo, dua tahun lalu. Semua beban hidup pun ditanggungnya sendiri. Wanita tegar itu harus berjuang membesarkan kedua anaknya, di tengah kondisi yang serbakekurangan. Hasil dari berjualan tahu, tak cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari. "Dari penjualan tahu, sehari saya mendapatkan Rp 3.000. Tidak setiap hari saya berjualan, bocah-bocah ndak bisa ditinggal. Berkat welas para tetangga, saya dapat bertahan hingga kini," ujarnya. Perawatan di rumah sakit sepertinya hanyalah sebuah mimpi baginya. Bayangan biaya rumah sakit yang menjulang membuat wanita berusia senja itu mengurungkan niatnya. Selama ini, untuk keperluan berobat kedua anaknya, dia harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Janda yang telah berusia lanjut itu kini hanya pasrah. Dia mengaku belum pernah memperoleh perhatian dari pemerintah. Namun bantuan subsidi langsung tunai (SLT) yang diterimanya beberapa waktu lalu, sedikit menjadi angin surgawi baginya. (Satryani Kartika Ningrum-54n) |