logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 10 Desember 2005 MURIA
Line

Cari Kantor Kecamatan Tersesat di Kandang Kerbau

PADA 1990-an, seorang pegawai salah satu dinas di Pemkab Kudus dibuat pusing tujuh keliling, saat mencari sebuah tempat di Kecamatan Undaan. Lokasi yang dituju, sebenarnya bukan tempat yang namanya terlalu asing di kawasan lumbung beras Kota Kretek itu.

"Saya mencari kantor Kecamatan Undaan," kisah seorang pegawai dari Dinas Pertanian Kudus itu.

Pencarian pun dilakukan di sepanjang Jl Raya Kudus - Purwodadi. Akhirnya, abdi negara tersebut menemukan akses yang dicarinya, seorang mantri peternakan yang dipikirnya pasti akan bertugas di kantor kecamatan.

"Ternyata, si mantri tersebut berkantor di sebuah bangunan dekat sebuah kandang kerbau," ujarnya sambil terkekeh.

Setelah ditelusuri, ternyata, kantor camat tersebut memang tak cukup besar untuk ditinggali semua pegawainya. Satu catatan lagi, kantor tersebut juga tak cukup rapat atapnya, sehigga pada musim hujan ada saja komputer milik kecamatan yang terkena tetesan air dari genteng. "Pada 1993, kantor kami bahkan terendam air setinggi satu setengah meter," kata Camat Undaan, Ali Rifai.

Secara berseloroh, Ali juga menyatakan, banyak pihak yang kesulitan untuk mencari kantor Kecamatan Undaan. Sebab, selain reyot, kondisi gedungnya juga kalah dibanding Balai Desa Undaan Tengah, yang mungkin merupakan salah satu balai desa termegah di Kota Kretek.

Namun, cerita tentang kumuh dan sesaknya kantor Kecamatan Undaan itu kini sudah tidak ada lagi. Sebuah bangunan berlantai dua, sejak 5 Agustus 2005 telah berdiri megah di lokasi tersebut.

"Sabtu atau Minggu ini, kami akan mengumpulkan warga untuk syukuran kantor baru. Bangunan itu merupakan kebanggaan kami," katanya.

Berbekal dana Rp 528.611.400 dari APBD 2005, bangunan seluas 14,5 m x 17 m itu kini telah megah berdiri. Bukan hanya itu, semua pegawai, baik dari kecamatan maupun dari dinas, total berjumlah 26 orang, sudah dapat berkumpul di bawah satu atap. "Hal itu akan memudahkan pelayanan kepada masyarakat," tandasnya.

Hanya, persoalan baru pun muncul. Semula, di gedung lama yang tak seberapa luas itu, memang tak memiliki banyak perabot. "Kalau belum bisa membeli, terpaksa harus memakai perabot yang lama. Atau, tak masalah jika kalau harus menggelar tikar untuk para tamu," ujar Ali. (Anton Wahyu Hartono-50a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA