| Sabtu, 10 Desember 2005 | KEDU & DIY |
30 Tahun Bergelut dengan Kerupuk RambakAWALNYA Pawit alias Taryono (60), warga Dusun Swaran, Desa Mekarsari, Kecamatan Kutowinangun, Kebumen, penjual es keliling. Pada 1970-an, dia beralih menjadi penjual kerupuk rambak. Setelah kurang lebih setahun sebagai kuli ngloper kerupuk milik Sukadar, juragan asal Tasikmalaya, Jawa barat, Pawit mulai bertanya cara membikin kerupuk. Meski tak tamat SD, Pawit muda yang anak buruh ini memutar otak bagaimana bisa memproduksi kerupuk. Dia kemudian menikahi Sumini, tetangga desa. Praktis suami-istri ini lalu sama-sama keliling jualan kerupuk ke pasar-pasar desa. Dia masih ingat, berangkat mengambil kerupuk dari Sukadar di Kutowinangun pukul 04.00 pagi. Dengan dipikul, dia berangkat ke pasar-pasar desa jalan kaki, sedangkan istrinya menggendong kerupuk. Keduanya mencari nafkah jualan kerupuk ke Pasar Ambal, Mirit, Buluspesantren, Kutowinangun, dan sekitarnya. Berbekal tekad bisa mandiri, sedikit demi sedikit Pawit menerapkan pepatah ''sembari menyelam minum air''. Dia ''mencuri ilmu'' dari teman pekerja ataupun juragannya. Sejak 1973, dia memproduksi sendiri kerupuk rambak untuk beberapa jenis. Mula-mula dia hanya mampu membikin dengan bahan baku 0,5 kg, lalu meningkat satu kilogram dan seterusnya. Kini, ayah lima anak dan kakek dua cucu ini merupakan salah seorang juragan kerupuk ''pribumi'' (maksudnya bukan orang asal Tasikmalaya, Jabar), yang masih mampu bertahan di tengah persaingan ketat usaha lauk pauk kesukaan banyak orang itu dan tingginya harga bahan baku. Pawit memiliki sekitar 10 pekerja, dengan produksi kerupuk rata-rata sehari tiga kuintal. Para pekerja terbagi tiga orang untuk mengaduk bahan baku tepung tapioka, tiga orang memasak dan mencetak bahan kerupuk di mesin, seorang menggoreng serta sisanya buruh menjemur dan mengiris kerupuk mentah. Bahan bakar untuk penggorengan kerupuk memakai sekam, karena lebih irit dibandingkan dengan minyak tanah. Sehabis digoreng, kerupuk dimasukkan plastik tiap satu kilogram. Dia menjual rata-rata kerupuk rambak Rp 6.400 dan kerupuk putih Rp 7.000/kg. Praktis, hidupnya dia habiskan untuk bergelut dengan usaha kerupuk. Kerupuk yang dia produksi antara lain jenis rambak biasa, rambak kotak, kerupuk putih hingga rambak kolong. Dia juga memberi merek kerupuknya ''Rahayu'', Mekarsari Kutowinangun. Beli Tanah Masa keemasan dirasakan Pawit pada era 1980-1990-an. Pemasaran kerupuk begitu lancar, saingan belum banyak. Sementara, harga bahan baku dari tepung tapioka, minyak goreng hingga bumbu-bumbuan masih terjangkau. Waktu itu dia mampu membeli sebidang tanah di Dusun Swaran seluas sekitar 100 x 50 meter. Kini rumah yang dia tempati sekaligus untuk pabrik. Rumah induk untuk tempat tinggal, di samping barat untuk usaha pengolahan, mesin cetak, dan tungku penggorengan. Halaman depan yang luas untuk menjemur kerupuk basah. Suka duka Pawit juga telah dialami sekitar 30 tahun ini bergelut dengan usaha kerupuk. Hasilnya, dua anaknya kini bisa kuliah. Anak keduanya, Rohmatudin malah sudah tamat D3 Ekonomi Unsoed Purwokerto. Adiknya, Waik Widianto duduk di semester VII Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Dia mengaku sejak kenaikan harga BBM, harga tepung tapioka ikut melonjak tajam. Semula satu sak tepung Rp 80.000, kini menjadi Rp 170.000. Padahal harga kerupuk sulit dinaikkan secara drastis. Namun, lelaki lugu ini tetap rileks menjalani kehidupan dari usaha kerupuk. ''Ahamdulillah, saya diberi rezeki dari usaha ini.'' (Komper Wardopo-39s) |