| Sabtu, 10 Desember 2005 | BANYUMAS |
Terimbas Isu Flu Burung, Perajin Sangkar Sepi PesananPerajin sangkar burung di Desa Banjarsari Kecamatan Ajibarang, Banyumas kini sepi pesanan. ''Sejak ada berita mengenai flu burung, pesanan sangkar menurun drastis selama tiga bulan terakhir ini,'' kata pedagang Achmad Aris, kemarin. Dalam kondisi normal, setiap dua hari bisa kirim 350 set sangkar ke Jakarta. Satu set berisi dua sampai tiga sangkar dengan ukuran berbeda. ''Juragan di Pasar Pramuka Jakarta, sejak bulan Ramadan lalu sudah tak ada yang pesan lagi,'' ujarnya. Stok sangkar hasil produksi selama tiga bulan, menurutnya, kini menumpuk di gudang. Pemasaran kecil-kecilan dilakukan ke pasar Ajibarang, Pasaar Wage Purwokerto dan Purbalingga. Mau menghentikan produksi, kasihan pada para tenaga kerja dan para perajin yang setor kepadanya. Selain isu flu burung, musim hujan juga membuat pasaran burung sepi yang berakibat pada penjualan sangkar ikut sepi. Dikatakannya, dia menerima setoran sangkar setengah jadi dengan harga Rp 6.000,- kemudian dicat dengan ongkos Rp 1.000 / sangkar dan tenaga kerja Rp 500 / sangkar. Sangkar tersebut kemudian dijual Rp 9.000 / buah, sehingga bisa mengantongi keuntungan bersih antara Rp 500 sampai Rp 1.000/ sangkar. Sambilan Menurut Kepala Desa Banjarsari, Sutarto, penduduk desanya yang meliputi 1.700 keluarga, 700 di antaranya bekerja sebagai perajin sangkar. Sedang yang 1000 KK bertani, tetapi juga bekerja sambilan membuat sangkar. ''Anak kelas VI SD di sini sudah bisa bikin sangkar,'' ujarnya. Bagi perajin sambilan, satu keluarga dalam sehari bisa menyelesaikan dua buah sangkar. Hasilnya disetorkan ke pengepul untuk makan sehari-hari. Tetapi dengan lesunya pasaran sangkar, menurut Sutarto, mereka kini sudah tak bisa lagi mendapat penghasilan tambahan. Sebelum membuat sangkar, semula para perajin membuat caping. Harga caping yang Rp 6.000 membuatnya lebih sussah dan pemasarannya terbatas, sehingga beralih ke pembuatan sangkar burung. Masalah utama para perajin sangkar adalah permodalan. Menurut kepala desa setempat, dulu pernah ada tawaran kredit dari Pemklab. Semua perajin sudah didata, tetapi sampai sekarang kredit untuk tambahan modal itu tak kunjung datang. (Didi Wahyu-36) |