| Kamis, 08 Desember 2005 | SALA |
''Warna Aslinya Punya Makna''KOTA - Panitia pemugaran Masjid Agung Surakarta diharapkan segera melakukan evaluasi terhadap renovasi masjid bersejarah itu, selagi prosesnya belum rampung. Menurut Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Surakarta, Joko Pratikto, evaluasi di tengah jalan perlu dilakukan agar renovasi tidak salah langkah.''Soal perubahan warna biru pada kerangka masjid yang akan diganti warna asli kayu, misalnya, bisa dibahas dulu dengan pihak-pihak terkait, seperti Keraton Surakarta, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3), dan IAI, pada evaluasi itu,'' katanya, kemarin. Demikian pula dengan lantainya yang selama ini sebagian berlapis marmer kuno dan lainnya berupa pelester, yang akan diganti dengan granit dari luar negeri. Melalui forum evaluasi tersebut, lanjut dia, pihak panitia pembangunan bisa bertemu dan memberikan klarifikasi kepada kalangan Keraton Surakarta yang merasa tidak dilibatkan. Padahal, masjid itu dibangun Keraton pada masa Sinuhun Paku Buwono II dan terus dikembangkan oleh para penerusnya hingga Sinuhun Paku Buwono X. Joko mengemukakan, renovasi terhadap bangunan kuno bersejarah memang perlu dilakukan. Namun dia menekankan, kalau dalam renovasi itu digunakan bahan-bahan modern, jangan meninggalkan bentuk, warna, dan ornamen-ornamen aslinya. Apalagi, Masjid Agung sudah termasuk dalam bangunan cagar budaya yang harus dilestarikan keberadaannya. ''Warna asli masjid pasti punya makna, juga ornamen-ornamen yang melengkapinya. Pembuatnya dulu memberi warna tertentu, pasti dengan arti tertentu pula,'' tandasnya. Untuk menelusurinya, kata dia, semestinya Keraton sebagai pendiri dan pemilik sejak awal tempat ibadah tersebut punya dokumen-dokumen. Kajian atas dokumen-dokumen, diharapkan bisa menjadi pegangan untuk merampungkan renovasi. Sebagaimana diwartakan (SM, 3/12), warna biru yang selama ini menjadi ciri khas Keraton Surakarta di Masjid Agung dihilangkan. Panitia pemugaran masjid mengembalikan warna natural pada sejumlah kayu, tanpa melapisi cat warna biru seperti semula. Kayu-kayu untuk pilar, dinding, kerangka atap, maupun usuk yang dilapisi pelitur maupun resin itu, tampak kecokelatan. Selain itu, lapisan lantai belakangan ini juga akan diganti dengan batu granit.(D11-42a) |