logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 08 Desember 2005 SEMARANG
Line

Vaksin Masih Diteliti

SEMARANG - Hingga saat ini, penelitian mengenai virus dengue yang menyebabkan penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih berlanjut. Di seantero dunia, vaksin untuk melumpuhkan virus itu masih diteliti dan belum ditemukan. Di Kota Semarang, varian virus yang kerap ditemukan adalah virus dengue jenis 1, 2, 3, dan 4.

Menurut staf infeksi anak di RS Dokter Kariadi, dokter Dyah Hapsari SpA, virus yang paling berbahaya biasanya virus dengue jenis ketiga (den-3). Berbeda dari virus HIV/ AIDS, patologi penyebab DBD masuk dan hilang dalam lima hari.

Virus tersebut mengakibatkan tubuh membentuk antibodi. ''Jika aktivitas pembentukan antibodi berlebihan, pembuluh darah bisa bocor. Satu-satunya cara mengobatinya dengan memberikan cairan tambahan,'' tutur Hapsari, di sela-sela rapat koordinasi DBD, di Balai Kota Semarang, Senin (5/12).

Dokter spesialis anak itu menegaskan, belum ada varian baru dari virus dengue. Kendati demikian, vaksin DBD hingga kini masih diteliti. Penelitian itu, lanjut dia, dikembangkan di Singapura untuk mencari vaksin yang mampu melumpuhkan keempat jenis virus dengue.

''Penelitian hingga sekarang belum membuahkan hasil karena ada empat jenis virus yang coraknya berbeda. Vaksin baru itu mestinya bisa mengadang keempat jenis virus. Kalau cuma satu per satu, tidak akan efektif,'' imbuhnya.

Waspadai Demam

Mengantisipasi DBD, Hapsari mengimbau masyarakat mewaspadai demam tinggi. Masa inkubasi DBD berlangsung 2-7 hari terus-menerus. Apabila selama tiga hari berturut-turut seseorang demam hingga 38 derajat Celcius, Hapsari mengimbau agar korban segera diperiksakan ke dokter.

Demam tinggi penderita DBD biasanya disertai muntah, pusing, lemas, dan pegal-pegal. Bintik-bintik merah di bawah kulit tidak akan ditemukan jika pasien masih dalam tahap awal DBD. Bintik-bintik itu, biasanya muncul jika ada pendarahan pembuluh darah.

''Pada hari pertama atau ketiga, bintik-bintik biasanya hanya terlihat dengan manipulasi atau harus ditekan dengan alat pengukur tensi.''

Mengenai jumlah trombosit, Hapsari ingin meluruskan kesalahpahaman yang selama ini terjadi di masyarakat. Selama ini, masyarakat mengira penderita DBD harus mendapat transfusi darah karena jumlah trombosit turun drastis. Pada kondisi normal, jumlah trombosit lebih dari 150.000/mm darah. Namun parameter lain yang patut diwaspadai sebenarnya kekentalan darah. Semakin kental cairan darah menunjukkan bahwa pembuluh darah sudah pecah akibat inveksi virus. (H5,H9-56n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA