| Kamis, 08 Desember 2005 | INTERNASIONAL |
Disiksa saat Diculik, Warga Jerman Gugat CIAWASHINGTON - Pelanggaran yang dilakukan Dinas Intelijen Pusat AS, CIA, terus terkuak. Seorang pria Jerman, Selasa (6/12), menggugat mantan Direktur CIA George Tenet dan pejabat dinas intelijen AS lainnya atas tuduhan memenjara dan melakukan penyiksaan secara keliru. Langkah itu merupakan tantangan hukum langka bagi CIA, yang memindahkan diam-diam tersangka teroris ke negara lain untuk diinterogasi. Gugatan itu diajukan atas nama Khaled al-Masri oleh Persatuan Kebebasan Sipil Amerika (ACLU). Langkah itu dilakukan saat Menlu Condoleezza Rice bertemu Kanselir Jerman Angle Merkel di Berlin. Pertemuan itu diadakan di tengah kegusaran Eropa atas perlakukan terhadap tawanan dalam ''perang global melawan teror'' pimpinan AS. Gugatan itu, yang diajukan di pengadilan federal di Alexandria, Virginia, menuduh para pejabat CIA melanggar aturan HAM AS dan dunia. Masri mengatakan dia menjadi korban tak berdosa atas praktik yang dikenal sebagai ''rendition''. Masri (42) menyatakan dia diculik di Makedonia pada 31 Desember 2003, diseret, dipukuli, dan kemudian diterbangkan ke Afghanistan. Di negara itu dia mengalami penyiksaan lagi. Gugatan hukum itu menggambarkan perlakuan terhadapnya sebagai perpanjangan penahanan sewenang-wenang, penyiksan dan kekejian lain, tidak manusiawi, atau perlakuan yang menghinakan. Gugatan itu juga menuduh CIA membebaskannya lima bulan kemudian dengan membuangnya di Albania, setelah menyadari dia tidak bersalah. Kebijakan ''Rendition'' Menurut kebijakan ''rendition'' CIA, para tersangka terorisme ditangkap dan dibawa ke negara lain untuk diinterogasi. Para penyokong HAM menyatakan para tersangka sering disiksa di negara-negara Timur Tengah dan negara lain. Keprihatinan juga diperburuk oleh laporan Washington Post bulan lalu bahwa CIA mengelola penjara rahasia di Eropa timur. Presiden George W Bush, Selasa (6/12), membantah AS memindahkan tersangka terorisme ke negara-negara yang menerapkan penyiksaan. Rice mengatakan kepada wartawan yang menyertainya ke Eropa bahwa ''rendition'' itu merupakan alat vital terhadap terorisme. Masri, warga Jerman keturunan Lebanon yang lahir di Kuwait, menuntut permintaan maaf dan penjelasan apa yang terjadi dengannya dari Tenet dan pejabat AS.(rtr-niek-26) |