| Kamis, 08 Desember 2005 | EKONOMI |
Inflasi Kota Tegal TertinggiTEGAL-Kenaikan harga barang dan jasa, bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, terbukti membuat inflasi Kota Tegal tetap tinggi. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Tegal mengalami inflasi 1,68 persen. Kasie Pelayanan Publik BPS, Drs Budi Supriyanto Rabu (7/12) mengatakan, inflasi November 2005 sudah diprediksikan sejak awal. "Kami memang memperkirakan inflasi masih tinggi, setelah kenaikan BBM. Namun, inflasi tidak sebesar bulan Oktober yang mencapai 8,05 persen," tutur dia. Dijelaskan dia, pada tahun 2004 bulan yang sama, yakni November, terjadi inflasi sebesar 1,20 persen. Sehingga, jika dibandingkan, inflasi yang terjadi bulan November 2005 (1,68 persen) dan bulan November 2004 (1,20 persen) hampir sama. Perbedaannya, inflasi yang terjadi pada 2004 hanya dipengaruhi perayaan Idul Fitri. Sedangkan pada November 2005, selain disebabkan perayaan Idul Fitri, juga dipicu kebijakan kenaikan harga BBM. Dari tujuh kelompok yang dijadikan acuan dalam penghitungan inflasi, kelompok makanan mengalami perubahan angka indeks tertinggi sekitar 3,05 persen. Diikuti kelompok makanan jadi yang mengalami perubahan angka indeks sekitar 2,54 persen. Untuk Kota Tegal, inflasi November 2005 terbesar dibandingkan dengan tiga kota lain di Jawa Tengah. Kota Semarang angka inflasi mencapai 0,76 persen, Surakarta 0,35 persen dan Purwokerto 0,86 persen. Sedangkan secara nasional yang dihitung dari 45 kota, inflasi tertinggi terjadi di Bandung dengan angka sekitar 3,37 persen. Hal yang patut diwaspadai, menurut Budi, keadaan pada bulan Desember ini, yang didalamnya terdapat perayaan Natal dan Tahun Baru 2006. "Hal itu juga memicu terjadinya inflasi," kata dia. Apalagi efek kenaikan BBM diprediksikan masih terasa pada bulan itu dan bulan selanjutnya. Oleh karena itu, dia mengharapkan adanya koordinasi semua pihak, baik dari pemerintah maupun swasta serta masyarakat agar ketersediaan dan distribusi barang tetap terjaga. (lei-33) |