| Selasa, 06 Desember 2005 | PANTURA |
Tugas Sukarelawan PKBI Berat SekaliSEPERTI apakah tugas keseharian sukarelawan Aksi Setop AIDS/Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (ASA/PKBI)? "Berat. Berat sekali. Kami harus benar-benar rela mengorbankan waktu dan tenaga," tutur Rosita (27), salah seorang sukarelawan organisasi itu, kemarin. Menurut keterangan dia, upaya keras organisasinya dalam memberikan pemahaman dan pengetahuan soal bahaya penularan human immunodefieciency virus (HIV) dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) memang butuh waktu yang khusus. Karena itu, waktu wanita berjilbab yang kerap mondar-mandir di lokalisasi Gang Sempit di Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, sering dia habiskan untuk bertatap muka dengan puluhan wanita penjaja seks. Dengan banyaknya pertemuan itu, dia berharap akan banyak hasil yang dia peroleh. "Dengan demikian, semakin banyak waktu kita berada di lokalisasi akan banyak pula wanita penjaja seks yang akan kami temui. Ini memang sudah risiko sukarelawan. Bila tidak ada yang mau beraktivitas kerja seperti ini maka penularan HIV/AIDS dan penyakit kelamin lain akan sulit terkendali," papar Rosita yang telah bergabung dengan ASA/PKBI daerah itu sejak 2003. Program Pendampingan Sukarelawan yang setiap hari berada di lapangan, ujar dia, mendapat beban melaksanakan program pendampingan. Program itu merupakan kelanjutan atas sosialisasi soal pemahaman dan pemberian pengetahuan bahaya penularan penyakit itu. Dia menuturkan, saat di lokalisasi ditemukan tanda-tanda keterjangkitan penyakit infeksi menular seksual (IMS), dirinya langsung memberi saran agar periksa ke klinik PKBI Mitra Sehat Sejahtera 2 di dekat lokalisasi tersebut. "Kalau saran lisan kurang mereka tanggapi, saya harus merelakan diri untuk mendampingi dan mengantar ke klinik ini. Ya, kami boncengan naik motor. Tugas sukarelawan ya seperti itu," ungkap dia. Hasil pemeriksaan di klinik itulah, lanjut dia, kemudian dirujukkan ke rumah sakit untuk menentukan kondisi kesehatan si pasien. Apakah dia positif terserang penyakit tersebut atau hanya rawan terkena penyakit kelamin yang umum? Tugas demikian, dia nilai jauh lebih berat daripada sekadar memberikan sosialisasi. Dia menyebutkan, banyak contoh kasus ketika wanita penjaja seks yang awalnya bersedia menandatangani kesediaan diperiksa kesehatannya, kemudian menolak saat akan diperiksa pada hari yang telah ditentukan. Karena itu kegiatan pemeriksaan penapisan (pemilahan) terhadap kelompok risiko tinggi (KRT) 2006, ujar dia, akan dilanjutkan dengan meningkatkan program voluntary consult test (VCT). Yaitu pemeriksaan secara sukarela dari klien atau pasien dengan memberikan identitas secara sukarela pula. Selanjutnya dilakukan pengobatan dan perawatannya sebagai bentuk kepedulian dari aktivitas orang peduli HIV atau AIDS. "Dalam melaksanakan program ini, kami ingin tunjukkan langkah-langkah yang lebih manusiawi ke wanita penjaja seks, pelanggannya, dan kelompok risiko tinggi," kata dia.(Riyono Toepra-52j) |