logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 06 Desember 2005 OLAHRAGA
Line

Sepatu Imelda Bikin ''Sakit ng Ulo''

SAKIT NG ULO. Itulah kalau orang Filipina mengatakan sakit kepala atau pusing. Sembilan belas tahun silam, rakyat Filipina dibikin puyeng oleh bukti yang menguatkan fakta kehidupan jetset keluarga Ferdinand Marcos. Revolusi People Power dengan simbol seorang perempuan ibu rumah tangga, Corazon ''Cory'' Aquino yang kesohor itu menumbangkan sang diktator pada 1986.

Di antara temuan istimewa di Istana Malacanang adalah koleksi kemewahan sang maharani, Imelda. Siapa saja yang menjadi saksi sejarah - lewat pemberitaan media massa ketika itu - tentu geleng-geleng kepala mengetahui bagaimana cara Ny Marcos melampiaskan hedonismenya. Dari koleksi sepatu, hingga gaun dan aneka fashion-nya!

Tujuh tahun silam turis mancanegara masih bisa menyaksikan ruangan penuh sepatu dan kamar lain penuh gaun sembari menapaki ruang demi ruang istana kepresidenan yang hebat itu. Barang-barang bersejarah itu kini sudah dipindahkan ke Museum Marikina di timur laut Manila.

Pada 1991, para partisipan SEA Games Manila dengan mudah bisa datang dan berkunjung ke istana.

Tujuan terpenting, apa lagi kalau bukan menyaksikan koleksi fashion Ny Marcos di salah satu ruangan keluarga yang sangat mewah di Malacanang? Kini aturan kunjungan ke istana di dekat Sungai Pasig itu sudah berubah.

''Harus mendaftar dahulu lima hari sebelum Anda datang kemari. Jadi, mohon maaf kami tidak dapat memberikan izin,'' kata seorang petugas perempuan bernama Illardio DM di sela-sela antrean kunjungan anak-anak sekolah di pintu masuk istana, kemarin pagi.

Padahal dengan bersemangat, karena sadar SEA Games Ke-23 tinggal satu hari, banyak partisipan yang ramai-ramai ingin ke Malacanang. Sejumlah orang dari kepanitiaan SEA Games pun tidak menyinggung-nyinggung soal keharusan mendaftar lima hari itu ketika saya menanyakan banyak hal tentang Malacanang. Yang dinyatakan hanya jam buka mulai 08.00-16.00, hari Sabtu hanya sampai jam 12.00, dan Minggu tertutup untuk kunjungan. Ternyata aturan itu membuat banyak yang kecele!

Dari tempat parkir mobil di sebuah gang, kami mencoba bertanya dari pintu ke pintu penjagaan. Aturan ketat dijalankan. Seorang petugas yang berasal dari Mindanao, Nur Fitre mencoba bersikap ramah. Dia ''menghibur'' kami dengan meminta kami berfoto dari luar istana. Tetapi apa artinya tanpa bisa keliling istana yang legendaris itu? Malah bikin tambah sakit ng ulo!

Tujuan Wisata

Tumbangnya rezim Ferdinand Marcos yang memerintah sepanjang 1971-1986, meninggalkan ''warisan'' yang membuat penasaran banyak orang. Dan, rasa penasaran itu ternyata dapat dikelola sebagai potensi wisata yang luar biasa. Nah, kalau Anda akan bepergian ke Filipina, yang ada di benak banyak orang, salah satunya tentulah jangan sampai tidak meluangkan waktu menengok koleksi sepatu Imelda.

Cory Aquino yang memerintah dalam satu periode, tidak mau tinggal di istana, antara lain karena trauma tempat tersebut pernah didiami Marcos yang merupakan lawan politik Benigno ''Ninoy'' Aquino, suaminya yang tewas ditembak. Namun karena latar belakang kehidupan keluarga Marcos yang penuh kontroversi itulah, Istana Malacanang justru menjadi salah satu tujuan dalam paket unggulan wisata di Negeri Peso tersebut.

Koleksi sepatu Imelda, yang dipublikasikan secara internasional setelah istana ''dibedah'' pada 1986, merupakan temuan sensasional. Kehidupan jetset keluarga Marcos memang sudah diketahui publik dan menjadi konsumsi pemberitaan masyarakat internasional. Tetapi deretan sepatu yang seperti toko, juga pajangan gaun yang bak department store tetap saja membuat heboh. Seruangan penuh dengan berbagai model, warna, yang tentu saja semua berbalut merek-merek elite. Belum lagi gaun mewah yang memenuhi satu ruangan besar tersendiri.

Satu ''pesan'' yang ingin disampaikan oleh publikasi media pada waktu itu adalah kebiasaan hidup mewah sang ''ratu''. Kemewahan Imelda telah menjadi bagian dari sinisme publik. Rata-rata orang Filipina akan tersenyum manakala kita menyinggung soal koleksi mahal itu. Ada citra aneh yang tersembunyi di balik gaun dan sepatu sang ratu.

Eugeno, seorang petugas Panitia SEA Games Ke-23 (Philsoc) di Philippine International Convention Center (PICC) cepat menyinggung soal sepatu itu ketika saya menanyakan tentang benda-benda koleksi Ny Marcos.

''Ha, Anda tentu ingin melihat koleksi Imelda kan? Tidak ditemukan di negara lain, kekayaan yang ditinggalkan seorang penguasa negara kemudian bisa dieksploitasi sebagai aset turisme,'' kata ahli sosiologi yang mengaku berasal dari Mindanao, Filipina selatan itu.

Itulah bukti betapa ''sinisme'' publik pun menjadi salah satu elemen penting turisme yang bisa ''dijual'', seperti kalau kita menyusuri jejak sejarah lewat monumen-monumen peninggalan para penguasa (yang sebenarnya) lalim. Makin lama, warisan Ny Marcos itu diperkirakan bakal makin bernilai sebagai bagian dari saksi sejarah perjalanan dinamika demokrasi Filipina yang kini dapat disaksikan di Museum Marikina.

Dapat dipahami pula jika kisah sepatu dan gaun ketika itu membuat sakit hati rakyat Filipina.

Bandingkan dengan apa yang terpapar di sejumlah bagian Metro Manila. Ya, hanya di Manilanya, belum di provinsi yang lain. Di balik gebyarnya, metropolitan yang mengklaim diri berlabel ''surga entertainment'' itu masih dipenuhi kaum miskin kota dengan perjuangan hidup yang nelangsa.

Maka patutlah koleksi benda-benda yang bersifat ''matre'' di Museum Marikina itu menjadi peringatan bagi siapa pun yang sedang berkuasa: jangan bikin rakyat sakit ng ulo jika tidak mau menanggung akibatnya!

(Amir Machmud NS, dari Manila-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA