logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 06 Desember 2005 OLAHRAGA
Line

Sampai Jumpa di Thailand

  • ''Rasa Sayange'' di Penutupan

MANILA-Usai sudah perhelatan SEA Games Ke-23, pesta olahraga terakbar dua tahunan se-Asia Tenggara yang diselenggarakan di Manila, Bacolod, dan Cebu, Filipina, sejak 27 November hingga kemarin.

Penutupan dilakukan oleh Presiden Gloria Macapagal Arroyo di Quirino Grandstand, Luneta Park, Manila, kemarin petang. Seperti pembukaan, dalam upacara penutupan yang diliputi mendung pekat kemarin, tidak ada atraksi spektakuler. Semua serbasederhana. Sajian pesta kembang api, orkestra, dan tari-tarian tradisional dari negara-negara peserta menjadi tanda perpisahan.

Sebuah parade militer juga dilakukan untuk memberikan penghormatan kepada para atlet yang berprestasi. Selain itu, beberapa lagu dari seluruh negara peserta dinyanyikan. Di tengah upacara itu, mengalunlah ëíHalo-Halo Bandungíí dan ëíRasa Sayangeíí yang disambut riuh oleh kontingen Indonesia.

Panggung penutupan tetap memanfaatkan eks panggung pembukaan di Luneta Park, sebuah taman luas yang tepat berada di sisi Pantai Manila yang bersih dan rimbun oleh penghijauan. Anak-anak sekolah, mahasiswa, dan polisi serta tentara yang sengaja didatangkan menjadi -andalan- Philsoc (Panitia Penyelenggara SEA Games Filipina) untuk membuat suasana menjadi riuh.

Sebuah layar raksasa yang menampilkan tayangan-tayangan ulang prestasi sejumlah atlet Filipina di SEA Games Ke-23 berdiri kukuh di sisi kiri panggung, hanya beberapa meter dari pelabuhan Manila Bay yang sibuk oleh aktivitas bongkar muat kapal-kapal besar.

Pesan Persaudaraan

Arroyo, presiden yang tengah sibuk menghadapi tuntutan pemecatan oleh kelompok oposisi di parlemen, dan Jose ''Peping'' Cojuangco Jr dalam pidato singkat penutupan berpesan SEA Games hanyalah sebuah sarana untuk mempererat tali persaudaraan antarsesama negara ASEAN. Karena itu, keduanya berharap yang paling dikedepankan dalam event itu haruslah persaudaraannya, bukan persaingan yang justru bisa merusak persahabatan; One Heritage, One Southeast Asia (Satu Warisan Budaya, Satu Asia Tenggara).

Keduanya juga mengucapkan sampai jumpa di Thailand pada SEA Games 2007 mendatang. Negeri Gajah Putih, berdasarkan rapat Komite Eksekutif SEA Games, telah ditetapkan sebagai tuan rumah untuk event yang ke-24.

Pesan Arroyo dan Cojuangco Jr itu, tampaknya, terkait dengan kritik PM Thailand, Thaksin Shinawatra, yang meragukan kemampuan atlet-atlet Filipina. Thaksin dalam wawancaranya yang menghebohkan dengan AFP, Selasa (30/11) lalu mengatakan, emas yang diraih oleh atlet-atlet Filipina bukan karena prestasi, melainkan lebih karena ''dukungan'' wasit dan hakim yang memberikan penilaian terhadap jalannya pertandingan.

Kritik itu disampaikan Thaksin - dari negara yang akan menjadi tuan rumah SEA Games 2007 - dalam wawancara nonformal, sebuah langkah yang langsung memicu protes dan unjuk rasa di Filipina. Meskipun kemudian kritik Thaksin itu diralat -akibat media salah kutip-, hubungan tidak harmonis sempat mewarnai persekawanan kedua negara tersebut. Wakil PM Thailand, Suwat Tantalapong bahkan sampai merasa perlu datang ke Filipina dan bersama Presiden Philsoc Jose Cojuangco Jr, melakukan konferensi pers untuk melakukan klarifikasi. (*- 22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA