logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 06 Desember 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Asuransi Garda Oto

Bila sejenak mengamati tayangan iklan asuransi Garda Oto, umumnya pasti terbuai dan membayangkan kemudahan yang ditawarkan. Saya pemilik mobil Mitsubishi T120 SS No AA 7666 BB yang diasuransikan ke Garda Oto. Tanggal 23 September 2005 mobil kecelakaan rusak cukup lumayan.

Esok harinya saya memberitahu ke asuransi perwakilan Yogyakarta yang memuaskan serta langsung merespon dengan datang membawa mobil derek. Mereka menderek mobil saya dan membawa ke bengkel yang mereka tunjuk.

Saat itu saya merasa puas atas pelayanannya. Namun pada tahap klaim pembiayaan, rupanya pihak asuransi mulai membuat jengkel dan kecewa. Sebab sudah hampir dua bulan mobil dibiarkan mangkrak dan terkatung-katung di bengkel yang ditunjuk.

Setiap saya tanyakan ke perwakilan, jawabannya selalu sama yaitu menunggu survai dari Jakarta. Begitu juga jawaban dari bengkel. Sebetulnya mereka perusahaan asuransi kendaraan bermotor khusus derek atau bukan. Mohon yang berkompeten memberi penjelasan.

Darminto
Kaloran Rt 1/Rw 4, Temanggung

***

Saham Bank Muamalat

Menanggapi surat Bapak H Sajogjo, Randukuning VII/457A Pati yang dimuat 29 November 2005 tentang saham Bank Muamalat kami jelaskan sbb: informasi mengenai saham disampaikan lewat dua media cetak di Jakarta

Merujuk SK Bapepam No Kep-60/PM/1966 tanggal 17 Januari 1996 tentang Rencana dan Pelaksanaan (RUPS), Bank Muamalat selalu menyampaikan pengumuman rencana RUPS beserta hasilnya melalui media cetak tersebut.

Bank ini telah membagikan dividen kepada pemegang saham sejak praoperasi 1992 s.d tahun buku 1996. Untuk tahun buku 1997 s.d 2001 berdasarkan keputusan RUPS, tidak membagikan dividen, Dividen dibagikan kembali untuk tahun buku 2002, 2003 dan 2004.

Khusus saham jamaah haji, berdasarkan Kepres No 52 tahun 1996, keuntungan atau dividen dikelola Badan Pengelola Dana Ongkos Naik Haji Indonesia (Pasal 5 ayat 1 point d). Sehingga pemegang saham haji tidak menerima dividen atas sahamnya secara langsung.

Bila Bapak tidak berkenan/keberatan dengan pengalihan dividen tersebut dapat menghubungi: Depag RI cq Dirjen Bimas Islam & Urusan Haji Jl Lapangan Banteng Barat 3 - 4 Jakarta telp 021 - 3800200, 021 - 38002078.

Rachmat Santosa
Public Relations & SKDU

***

Dilematisnya BBM

Banyak yang mengeluhkan kenaikan BBM tapi banyak pula yang biasa saja. Sebagian merasa pemerintah tidak adil kepada rakyatnya terutama kelas bawah. Sebagian lagi merasa itu memang harga yang harus ditetapkan untuk BBM seiring naiknya harga minyak dunia.

Saat pemerintahan Megawati sebenarnya sudah ada kenaikan tapi rakyat protes, demo dan akhirnya harga BBM pun kembali ke harga semula. Para demonstran merasa menang yang berarti pemerintah harus memberi subsidi. Saya yakin perlu angka rupiah yang tidak sedikit untuk subsidi itu.

Siapa yang senang, rak-yat-kah?. Ya,. kelihatannya memang rakyat yang senang untuk keputusan itu dan bangga karena pemerintah memenuhi tuntutan rakyat. Sebenarnya ada yang lebih bangga atas menurunnya harga waktu itu. Mereka itu para konglomerat bermobil mewah yang 'meminum' BBM.

Ketika rakyat demo konglo-merat malah duduk manis di kursi empuknya. " Ayo... terus jangan menyerah, kalau kalian senang saya juga senang, kalau kalian susah saya tetap senang''. Selain itu secara tidak sadar kita dijajah produk luar .

Hasilnya dapat dilihat makin menjamurnya kendaraan baik roda dua atau roda empat.Tempat parkir pun 'menyempit'. Secara logika makin banyaknya kendaraan yaang dikonsumsi rakyat. makin banyak pula kebutuhan BBM-nya. Jika sudah demikian, siapa yang salah, siapa yang patut disalahkan, siapakah yang harus tersalahkan?. Mari renungkan, pikirkan dan cari jalan ke luar-nya.

N Huda
Kertoharjo Rt 1/Rw 4, Pekalongan

***

Pengalaman Belanja di Alfa Semarang

Sungguh pengalaman yang tidak menyenangkan ketika saya berbelanja bulanan di Alfa Semarang 29 Oktober 2005 dengan menggunakan kartu kredit BII sebesar Rp 529.400. Awalnya saya sanksi saat melihat kasir menggesek kartu 2 kali di mesin debit. Saya cek saldo lewat ATM dan ternyata berkurang 2 x Rp 529.400.

Saya melapor ke kepala kasir/informasi di toko tersebut. Petugas menjawab saya harus cek lagi dengan print out buku tabungan. Pada 31 Oktober 2005 di print out terbukti terdebet 2 x Rp 529.400. Saya lapor lagi ke Alfa dan dijawab: ''Tunggu, karena akan ditanyakan ke BNI card centre''.

Dua hari kemudian mereka memberitahu kalau saya harus melapor ke BII (menyelesaikan sendiri di BII) yang tentu perlu menyisihkan waktu dan uang. Sampai tulisan ini dibuat (25 November 2005), uang saya belum dikembalikan.

Pihak Alfa seolah tidak mau tahu kerugian saya. Ini kan bukan kesalahan saya kenapa harus repot ke sana ke mari. ''Apakah bila tidak lapor, uang saya tidak kembali?''. Bagi saya, uang itu besar nilainya. Mereka mengklaim kejadian tersebut karena mesin gesek ATM yang bermasalah.

Saya tidak mau tahu karena seharusnya ada antisipasi secepatnya terhadap kejadian seperti itu. Bukan justru saya disuruh mengurus sendiri. Mohon penjelasan dari pihak Alfa, BII atau BNI.

Catur Agus Joko Widodo
Jl Singa VI/1IA, Semarang

***

Pramuniaga Robinson

Tanggal 7 November 2005 pukul 16.45 saat saya dan keluarga berbelanja di Robinson Mal Ciputra Semarang, anak saya mengalami kejadian yang tidak simpatik dari salah satu pramuniaga di Kassa Fashion. Seperti umumnya saat pembayaran di kasir, pelanggan dituntut berlaku tertib dengan antre.

Setelah memilih busana, kemudian diberi bon pembelian oleh pramuniaga. Karena cukup panjang, saya suruh anak saya mengantre dulu. Ketika giliran dia, pramuniaga meminta bon pembelian untuk diantrekan di meja kasir. Mestinya yang di depan langsung memperoleh pelayanan.

Tetapi ini justru 4 pembeli di belakangnya yang didulukan. Saat anak saya protes, pramuniaga menjawab: ''Tadi bonnya diminta enggak diberikan. Kalau harus mencari barangnya dulu kan lama''. Saya yang baru datang menghampiri anak saya jadi kaget.

Masa sudah capai mengantre, bon diminta enggak diberikan. Karena nggak mau ribut saya diamkan. Baru kali ini saya mengalami model demikian, mestinya kalau sudah mengantre, pelayanan diberikan sesuai urutan orang, bukan barang.

Apalagi yang memberikan bon dulu yang didulukan walau orang tersebut belum sampai di depan kasir. Tidak ada alasan seorang pramuniaga mengatakan kepada customer butuh waktu lama untuk mencari barang yang sudah dibeli. Apalagi disampaikan dengan tidak ramah.

Sangat disayangkan Robinson yang telah punya nama di Kota Semarang, memiliki pramuniaga kurang bisa memberikan service excellent. Saya kapok berbelanja di tempat itu.

Dra R Kusmardani SH
Jl Jati Raya G/6, Semarang

***

Klarifikasi Kru PO Safari

Saya sopir bus PO Safari mengklarifikasi tulisan Sdr Antonius Utoro di Surat Pembaca 1 Desember 2005. yang mengatakan telah terjadi pelecehan terhadap istri Sdr pada saat bus berhenti di Sukamandi. Ini tidak betul. Yang benar, jujur saja saya hanya ingin mengingatkan untuk tidak melakukan aktivitas di kamar kecil bus (toilet), pada saat bus berhenti.

Pada saat bus berhenti yang namanya toilet tidak boleh digunakan untuk buang air kecil atau apa saja. Sebab dapat membuat kotor di arena pemberhentian bus, apalagi waktu itu ada di halaman parkir rumah makan.

Karenanya begitu melihat ada yang mau memakai toilet pada saat bus berhenti, secara spontan saya tarik tangan orang tersebut yang kebetulan istri Sdr. Belum sempat saya jelaskan sudah salah sangka dulu. Dari pada ribut saya mengalah.

Berkaitan dengan itu saya minta maaf dan klarifikasi ini dapat memberi pengertian kepada semua penumpanig bus malam angkutan jarak jauh. Semoga Sdr Antonius Utoro bisa memahami .

Samuri
Kp Kanalsari Barat 3B/73, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA