logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 06 Desember 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Gedung Sekolah Butuh Perhatian

- Sebagian siswa SD Latak II Grobogan mengungsi karena gedung sekolah rusak parah. Berita seperti ini sudah amat sering kita dengar, tetapi tampaknya persoalan ini belum akan tuntas dalam jangka pendek. Berbagai daerah, bukan hanya di Jawa Tengah, melainkan juga di Indonesia, menghadapi persoalan yang sama. Tidak hanya langit-langitnya yang lapuk, tetapi juga genteng, tiang penyangga, lantai, bahkan bangku sekolah banyak yang tidak layak. Betapa menyesakkan dada bahwa di tengah situasi seperti itulah diberlangsungkan pendidikan dan pengajaran untuk mempersiapkan masa depan.

- Kerusakan gedung sekolah tentu saja dilatarbelakangi oleh berbagai sebab. Misalnya, memang gedung sudah terlalu tua dan tidak pernah direnovasi. Kenapa? Karena tidak ada dana, baik dari pemerintah daerah, pusat maupun internal sekolah. Semula kerusakan kecil-kecil saja, namun karena tak segera diperbaiki lalu membesar. Tentu saja nasib seperti ini kebanyakan terjadi di sekolah-sekolah pedesaan, sedangkan di perkotaan biasanya sekolah bernasib lebih baik. Perbedaan itu sekaligus membuktikan, sekolah perkotaan mudah sekali disentuh berbagai pendanaan.

- Sekolah yang bisa menghimpun siswa lebih banyak, mempunyai potensi pendanaan lebih besar. Kebanyakan siswa datang dari kelas menengah perkotaan yang memungkinkan dimintai sumbangan pembangunan dan renovasi gedung. Tidak mengherankan, sekolah-sekolah negeri di perkotaan dengan mudah membangun gedung baru dengan kelengkapan fasilitas berbagai alat peraga pengajaran, komputer, dan sebagainya. sekolah-sekolah ini mampu berkembang lebih baik sehingga berpotensi mengembangkan peserta didik lebih baik pula.

- Sekolah-sekolah pedesaan tidaklah demikian. Kemampuan menghimpun siswa tidaklah terlalu besar. Para siswa pun datang dari keluarga pas-pasan. Dengan demikian, kemampuan menghimpun dana pembangunan juga terbatas. Mudah diduga, pengajaran yang dilakukan juga dengan fasilitas terbatas. Keadaan seperti ini sering kali ditambah dengan persoalan kualitas SDM guru-gurunya. Lebih fatal lagi jika pemerintah daerah tidak memiliki apresiasi yang memadai terhadap pengembangan pendidikan. Maka, persoalan menjadi semakin rumit, bukan sekadar persoalan gedung rusak parah.

- Sementara itu disadari bahwa pendidikan merupakan modal paling awal untuk mengembangan kemampuan sumber daya manusia. Tidak ada seorang pun yang membantah hal ini. Namun, pengakuan seperti ini sangat jauh dari cukup. Karena sebenarnya, yang dibutuhkan adalah komitmen dan aksi pemerintah serta masyarakat terhadap pengembangannya. Pendidikan dan pengajaran juga bukan hanya persoalan pembangunan gedung, melainkan juga bagaimana mempersiapkan pengajar yang baik, trampil, dan berkemampuan. Jika persyaratan itu semua tercukupi, masih juga harus dilihat bagaimana kondisi peserta didik.

- Rasanya semakin diperlukan para bupati/wali kota yang mau memperhatikan lebih dalam aspek-aspek pendidikan dan sarana pendukungnya. Anggaran pendidikan harus mendapatkan alokasi cukup agar mampu menciptakan proses pembelajaran yang baik. Jika murid-murid merasa nyaman dalam belajar di tengah hujan dan angin lebat sekalipun, mereka tidak merasa perlu pulang lebih awal karena takut tertimpa atap yang runtuh. Maka, pendataan menyeluruh mengenai keadaan sekolah yang sangat mengkhawatirkan menjadi hal pokok supaya bisa dilakukan pembenahan. Kesegeraan itu penting sebelum terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan bersama.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA