| Selasa, 06 Desember 2005 | NASIONAL |
Melongok Markas Peterpan (2-Habis)Sering Didatangi Ibu-ibu Hamil
JIKA sedang reses, anggota Peterpan gampang ditemui di markasnya, Jalan Lombok 1A Bandung. Ada jaminan, para sahabat -sapaan penggemar grup tersebut- bisa berbicara bebas dengan para personel. Tak ada jarak seperti halnya saat grup itu menggebrak pentas lewat sejumlah karya. Ketemu langsung, pasti. Bahkan, mereka bisa meminta nomor ponsel pribadi tiap-tiap personel. Kalau waktu memungkinkan, personel Peterpan tidak keberatan diajak jalan-jalan. ''Tak hanya itu, informasi terbaru yang diperoleh sahabat dari setiap personel dijamin lebih cepat dari kabar yang diembuskan tayangan infotainment,'' kata Manajer Basecamp Dwi Kurniawan. Sejumlah kisah pun bermunculan dari basecamp yang baru ditempati 3,5 bulan tersebut. Ada anak kecil yang belum mau pulang ketika bertamu jika tidak bertemu langsung dengan keenam pemuda yang laris di industri musik nasional itu. Hal yang mengherankan, ada anak yang sakit tiba-tiba sembuh sekembalinya dari markas. Ada juga anak yang kelihatan hiperaktif tetapi begitu ketemu Ariel, langsung seperti orang kesambet, diam dan ketakutan. Kejadian itu dilihat pada sebuah foto yang terpajang di ruang tamu. Ariel terlihat ceria, namun sang anak memalingkan muka dan berlindung pada tubuh ibunya. Ariel masih menjadi sosok yang paling laris ditanggap para penggemar meskipun dari data yang disampaikan petugas basecamp, sahabat Peterpan terdistribusi kepada seluruh personel. Termasuk, memenuhi permintaan para ibu hamil dengan alasan ngidam. Dengan senang hati, pemuda kelahiran Pangkalan Brandan itu melayani. Itu pun dengan catatan, selama waktu memungkinkan. Sebab tak jarang, ada ibu yang ngidam-nya berupa makan bersama di luar area basecamp. Ariel, Andika, Uki, Loekman, Indra, dan Reza bebas diajak berkomunikasi meskipun ngalor ngidul. Tapi bagi keenamnya, kesempatan itu dimanfatkan pula untuk bertukar pikiran. Termasuk menjejaki minat penggemar dan sahabat berkaitan dengan pengisian materi lagu-lagu pada album berikutnya. Para sahabat juga mengerti jika keenam personel itu harus mendekam di studio demi mencari inspirasi agar tercipta harmoni yang pas pada satu komposisi. Mereka dengan setia akan menunggu di ruang tamu. Toh ada televisi di sana atau setidaknya mengobrol di antara sesama. Personel Peterpan tidak terlalu ''jaim'' jika sudah harus menggarap lagu. Jika pikiran lagi mentok, Ariel malah ke luar dan menemui sahabat. Tak hanya itu, dia kadang ke luar dengan menenteng gitar. Di teras basecamp, suaranya terdengar mengalun di tengah koor para fans. Ibaratnya, sahabat mendapat konser gratis. Kondisi itu memang terlihat indah, mengingat Peterpan tengah berada di puncak. Semoga saja, perjalanan waktu tidak membuat mereka berubah. Toh, penggemar bagaimanapun adalah napas sebuah band. ''Kalau berubah kan para sahabat bisa kaget,'' kata Diwan dan Dwi, pengurus basecamp. (Setiady Dwie-14m) | ||||