logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 01 Desember 2005 SALA
Line

Harga BBM Naik, Usaha Cuci Mobil Merana

''SEBELUM kenaikan harga BBM, sehari paling tidak 50-60 mobil masuk. Sekarang, meskipun musim hujan, paling banyak 10-15 mobil yang dicuci. Orang-orang memilih mencuci sendiri. Pelanggan yang dulu sering ke sini, sekarang hanya sesekali mencucikan mobilnya.''

Begitulah keluhan Yanto, salah seorang pegawai usaha cuci mobil, yang berlokasi di belakang Sriwedari. Dampak kenaikan harga BBM mengakibatkan omzet usaha tersebut menurun.

Tahun-tahun kemarin, jika musim hujan tiba, bak musim emas bagi usaha cuci mobil. Sehari bisa 60 lebih mobil masuk. Saat kemarau, paling sedikit 30-an mobil. Sekarang, setelah makin sedikit mobil yang dicuci, kecil pula omzet yang diterima.

''Dulu, para pegawai di sini rata-rata bisa memperoleh Rp 50.000 sehari di luar makan siang. Sekarang paling besar Rp 15.000. Itu sudah bagus, karena yang punya usaha ini baik hati,'' lanjut Yanto, bapak satu anak yang masih balita itu.

Penghasilan sebesar itu pantas dia keluhkan. Dia pun ikut-ikutan menyalahkan pemerintah, yang dianggap semena-mena menaikkan harga BBM.

Dia merasa dizalimi lewat kenaikan harga BBM itu. Sudah penghasilan menurun drastis, harga-harga kebutuhan pokok ikut-ikutan melonjak.

''Saya tidak habis pikir, apa alasannya menaikkan harga BBM begitu tinggi. Apa pemerintah tidak memikirkan kami yang hanya bisa bekerja seperti ini?'' ujarnya, yang mengaku tidak mendapat subsidi langsung tunai Rp 100.000 per bulan, karena tidak masuk kriteria miskin.

Menjamur

Usaha cuci mobil di Solo, meski menjamur di mana-mana, sebelum harga BBM naik dua kali tahun ini, masih lumayan menguntungkan.

Dengan tarif bervariasi Rp 15.000-Rp 25.000 sekali cuci, sehari paling tidak bisa menghasilkan pemasukan bersih antara Rp 750.000 hingga Rp 1 juta. Usaha itu bisa menghidupi sepuluh pekerja dengan upah harian lumayan, apalagi jika masih lajang.

''Kalau sehari membawa pulang Rp 50.000, kan sudah besar untuk lajang seperti saya. Bisa mencukupi kebutuhan sendiri, malah bisa menabung,'' kata Narno, salah seorang pekerja usaha cuci mobil di Palur.

Namun, itu dulu, ketika harga BBM belum naik. Begitu harga BBM naik, banyak orang memilih naik sepeda motor, sehingga pengguna mobil pun turun drastis. Jika mobil kotor, pemiliknya memilih mencuci sendiri di rumah.

''Paling ke tempat cuci mobil sebulan sekali atau dua kali, sudah cukup. Kalau dulu bisa seminggu sekali,'' terangnya.

Ketika usaha cuci mobil juga kena dampak lonjakan harga BBM, Yanto, Narno, dan pekerja lain yang menggantungkan hidupnya dari berbasah-basah mencuci mobil hanya bisa termenung.

''Sampai kapan hidup kami bisa lumayan lagi seperti dulu? Para pejabat itu dipilih karena berjanji menyejahterakan rakyat. Kenapa hidup kami tambah melarat?'' keluh Narno.

Tarif cuci mobil sebenarnya sudah dinaikkan, meski tidak begitu besar. Dulu, cuci komplet (bodi, mesin, oli plastik) Rp 21.000, sekarang naik menjadi Rp 25.000. Tarif itu bervariasi antara satu tempat cuci mobil dengan tempat lainnya, meski tidak berbeda jauh.

''Tapi hal itu tidak menolong, karena mobil yang datang makin sedikit. Ya pokoknya tidak bisa seperti dulu lagi. Sekarang payah dan payah,'' cetus Narno.

Kini ia dan teman seprofesinya berhemat. Tak hanya mengurangi menu makan untuk keluarga, tetapi juga transportasi. Mereka memilih naik sepeda onthel. Berhemat untuk mencukupkan uang dan tak berharap bisa menabung. (Joko Dwi Hastanto-27h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA