| Kamis, 01 Desember 2005 | WACANA |
HIV / AIDS dan RemajaOleh Mochamad WidjanarkoSEJAK dicanangkan 1 Desember 1988 sebagai Hari AIDS, sampai hari ini permasalahan mengenai HIV/AIDS belum semakin membaik. Bahkan menurut WHO, jika penanganan tidak ditingkatkan, Indonesia akan menjadi salah satu negara endemi AIDS. Golongan umur orang dengan HIV/AIDS (ODHA) terbanyak di Indonesia umur 20 - 29 tahun berjumlah 1809 (Depkes RI, Juli 2005). Fakta ini menunjukkan penderita AIDS masih usia produktif. Jika masa inkubasi HIV/AIDS 5 - 10 tahun maka bisa diprediksi mereka tertular HIV sejak berumur 15 - 20 tahun. Ini termasuk dalam usia remaja. Sindroma yang merontokkan sistem kekebalan tubuh atau acquired immune deficiency syndrome - AIDS, hingga saat ini masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Kendati jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia kelihatannya masih sedikit, namun angka ini tidak menjamin kondisi yang sebenarnya. Seperti fenomena gunung es, data yang muncul hanya menggambarkan situasi di permukaan, sementara kasus yang tidak diketahui jauh lebih banyak. Kumpulan Gejala Penyakit AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah sistem kekebalannya dirusak virus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini menyerang sel-sel darah putih yang dikenal sebagai limfosit, yang bertanggung jawab atas sistem imunitas tubuh dan melindungi tubuh terhadap infeksi. Limfosit yang terinfeksi dirusak oleh HIV sehingga sistem imunitas menjadi rusak. Pada saat sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah seorang pengidap HIV akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS dan kondisinya akan terus memburuk sehingga ajal menjemput. Orang yang telah terinfeksi HIV tetap tidak akan menunjukkan gejala untuk beberapa tahun. Fase ini disebut terinfeksi HIV. Karena ketahanan tubuh pengidap HIV menurun, akhirnya penyakit yang tadinya tidak berbahaya dapat berakibat fatal (mematikan) bagi orang tersebut. Fase ini disebut AIDS. HIV dapat menular kepada siapa pun melalui cara tertentu. Cairan tubuh yang dapat menularkan adalah darah, sperma dan cairan vagina. Cairan tubuh yang tidak dapat menularkan HIV adalah keringat, air mata, air ludah, kencing dan air liur. HIV bisa menular lewat tiga jalur. Pertama, melalui hubungan seksual dengan seorang pengidap HIV tanpa memakai kondom. Kedua, melalui darah yang sudah terinfeksi HIV lewat transfusi darah atau alat-alat yang telah tercemar HIV seperti pengguna narkoba jarum suntik (IDU: Injecting Drug Users) yang menggunakan jarum suntik yang tidak steril, bekas dipakai orang lain. Perilaku tersebut sangat berisiko sebagai salah satu cara penularan HIV/AIDS. Ketiga, melalui ibu pengidap HIV. Ia menularkan kepada janin yang dikandungnya . Remaja & Informasi Mengingat korban AIDS terbanyak pada usia remaja, maka informasi menyeluruh tentang HIV/AIDS perlu dimasyarakatkan, agar memberikan kewaspadaan bahaya penyakit tersebut. Kewaspadaan akan memotivasi remaja untuk berperilaku seksual yang sehat. Untuk itu, perlu adanya penanaman pendidikan kesehatan reproduksi sejak kecil yang nantinya akan membentuk perilaku seksual yang sehat. Informasi perilaku seksual di kalangan remaja tidak dapat dipungkiri, memprihatinkan. Baik di kota besar misalnya Jakarta kemudian Bandung, Medan, Bali, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, ataupun di kota kabupaten. Kenapa ? Bisa jadi karena informasi dan kegiatan mengenai perilaku seks yang negatif telah menyeruak sampai pada kawasan pedesaan yang relatif masih menghormati norma kesusilaan. Remaja di kota sering diasumsikan mempunyai kesempatan lebih besar untuk membina hubungan antarjenis karena kurang ketatnya pengawasan yang diberikan oleh orang tua (Sarlito, 1981); akan tetapi semakin luasnya fasilitas yang mendukung informasi mengenai seks maka kecenderungan terakhir menunjukkan bahwa remaja desa pun akhir-akhir ini menunjukkan gejala yang tidak kalah aktif dalam hal hubungan antarjenis dibandingkan dengan remaja kota (Faturochman dan Soetjipto, 1989). |