| Kamis, 01 Desember 2005 | WACANA |
tajuk rencanaMelindungi Murid dari Keracunan- Entah sudah berapa puluh, bahkan ratusan kali murid-murid keracunan makanan di sekolah. Ada yang keracunan makanan dan minuman yang dijual di lingkungan sekolah atau justru ketika sedang menikmati jatah program perbaikan gizi. Selalu berulang-ulang setiap waktu. Kita memiliki catatan sejarah yang panjang mengenai anak-anak yang keracunan di sekolah. Hampir setiap kali terjadi kasus seperti itu, tetapi peristiwanya berulang. Jumlah korban juga bukan satu-dua, tetapi dalam jumlah cukup banyak seperti yang terjadi di SD Negeri Kawenangan, Ungaran. - Peristiwa yang berulang-ulang itu menunjukkan bahwa kesadaran para produsen untuk membuat makanan-minuman higienis masih dari jauh harapan. Bukan hanya produsen rumahan, melainkan juga produsen besar. Produsen rumahan sering kali alpa terhadap upaya penjagaan keamanan makanan dari berbagai jenis bakteri, misalnya membuat es tanpa merebus air lebih dulu. Membuat makanan tanpa mencuci bahannya lebih dulu. Di samping persoalan proses yang tidak aman, juga tempat penyajian yang sering kali lupa diperhatikan tingkat kebersihannya. - Pembuat jajanan sekolah yang (maaf-Pen) datang dari kalangan tertentu di masyarakat, sering kurang sadar akan faktor higienitas makanan yang dihasilkan. Proses pembuatan berlangsung sederhana, dengan bahan-bahan yang murah agar bisa dijual murah kepada anak-anak sekolah. Seandainya harus menggunakan gula, bukan gula beneran, juga penggunaan pewarna yang berlebihan agar makanan menjadi menarik. Bahkan, ditemukan pula bahan pengawet yang sebenarnya bukan untuk pengawet makanan. Jika kita perhatikan, apa pun yang dijual di lingkungan sekolah laris manis dan anak-anak pun terlihat menikmatinya. - Padahal, kita amat tahu bahwa makanan-minuman yang tidak diproses secara higienis, berbahan baku seadanya serta tingkat pewarna dan pengawet berlebihan, mempunyai efek merusak tubuh. Pada saat yang sama, pembuat makanan seperti itu masih jauh dari pengawasan kualitas. Siapa yang mengawasi mereka? Tidak ada! Dengan demikian, masyarakat terutama anak-anak itu tidak pernah mengetahui, bahkan mungkin tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang menimbun racun di tubuhnya. Jika mereka di SD, enam tahun sepanjang mengonsumsi makanan seperti itu, selama itu pula anak-anak sedang menimbun racun. - Tanpa mengurangi hak berproduksi dan berjualan, sebaiknya para orang tua murid semakin sadar bahwa kian sulit untuk mendapatkan makanan higienis di lingkungan sekolah. Para orang tua tidak serta-merta hanya memberi anak-anak uang jajanan, tanpa mengontrol jajan apa yang akan dikonsumsi mereka di sepanjang waktu sekolah. Akan lebih baik tentunya, manakala para orang tua menyediakan makan/sarapan pagi bagi anak-anaknya yang akan berangkat sekolah. Ini lebih baik untuk mengamankan anak-anak dari kemungkinan keracunan. Paling tidak, mempersiapkan secara dini agar mereka tetap sehat. - Lebih jauh untuk melindungi anak-anak kita, sebaiknya para pembuat makanan/jajanan anak di sekolah mendapatkan berbagai bimbingan dan penyuluhan dari pihak-pihak tertentu. Seperti dinas kesehatan, dinas pendidikan, dan sekolah agar bisa berproduksi makanan sehat. Anak-anak juga harus dijauhkan dari makanan-minuman yang kedaluwarsa. Apa artinya program pemberian makanan tambahan anak sekolah, jika yang diberikan sudah kedaluwarsa. Justru sebaliknya, sebelum makanan-minuman diberikan kepada anak-anak harus melewati kontrol yang ketat dari aspek higienitasnya. Waktunyalah kita untuk lebih memperhatikan anak-anak demi masa depan mereka. |