logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 29 Nopember 2005 NASIONAL
Line

BIN Perlu Tekan Islam Radikal

  • Untuk Berantas Teroris

JAKARTA- Penetrasi ke dalam kelompok Islam radikal perlu dilakukan Badan Intelijen Negara (BIN). Walaupun sulit, tapi hal tersebut penting dalam rangka pemberantasan teroris. Sementara itu, pemberantasan selama ini tidak dilakukan di bawah tekanan negara asing atau kelompok-kelompok tertentu.

Pemberantasan teroris tersebut demi ketertiban umum, dan melindungi keselamatan dan keamanan masyarakat.

Demikian dikatakan Kepala BIN Syamsir Siregar dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR (Bidang Pertahanan), Senin (28/11), di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta.

Menurutnya, BIN penetrasi ke dalam kelompok Islam radikal itu untuk menceraiberaikan kekuatan pada kelompok itu dengan cara melakukan perpecahan internal. Ini salah satu dari strategi yang dimiliki BIN dalam rangka memberantas terorisme.

''Kegiatan kontra terorisme terus dilakukan sebagai upaya kolektif nasional untuk mempertahankan kedaulatan nasional, teritorial, dan kepentingan nasional. Pemberantasan teroris juga dilakukan tanpa pandang bulu, dan tidak mengarah pada penciptaan image negatif kepada kelompok-kelompok masyarakat,'' katanya.

Prinsip tidak pandang bulu, kata dia, dilakukan untuk menghindari aksi SARA. Karena itu, BIN berkoordinasi antara instansi terkait dan komunitas intelijen. Hal ini perlu, agar pemberantasan teroris dapat dilakukan secara komprehensif.

''Sebagai instansi intelijen tertinggi di Indonesia, BIN memiliki wewenang untuk mengoordinasikan kegiatan intelijen dalam rangka memberantas terorisme. Selain itu, BIN juga memberikan peringatan dini pada berbagai kemungkinan ancaman teroris yang mungkin timbul,'' ujarnya.

Syamsir mengatakan, strategi lain yang digunakan BIN dalam meredam radikalisme dan terorisme adalah dengan menerapkan demokrasi dalam kehidupan masyarakat. ''Masyarakat dapat menyalurkan aspirasinya secara positif, sesuai dengan koridor hukum,'' tandasnya.

Strategi demokrasi, kata dia, bisa diimbangi dengan partisipasi masyarakat. ''Embrio radikalisme bisa mati, bila berhadapan dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya kehidupan yang aman dan tertib. Jika ini terjadi, dapat meredam faktor yang dapat dieksploitasi sebagai alasan pembenaran tindakan teroris,'' jelasnya.

Menurutnya, menjaga masyarakat Islam yang moderat merupakan hal yang penting. ''Dengan mengikutsertakan kiai yang telah dididik dengan pemahaman tentang Islam yang benar dan moderat, maka arti jihad yang sebenarnya akan dapat dipahami dengan baik pula.''

Langkah lain yang dilaksanakan BIN adalah dengan melakukan kerja sama intelijen dengan negara lain dan mengirimkan beberapa agen intelijen Indonesia untuk mengikuti pendidikan.

Sementara itu, anggota Komisi I, Ali Mochtar Ngabalin, mengatakan, BIN bukan eksekutor, melainkan hanya mendeteksi, mengamati, mencatat, dan melaporkan ke Polri. Karena itu, dia tidak sependapat dengan strategi BIN untuk penetrasi ke dalam kelompok Islam radikal.

''Dalam pemberantasan teroris itu, bukan berarti BIN bisa bertindak langsung. Kalau deteksi dan pengamatan tidak dilakukan dengan baik oleh BIN, maka dapat melumpuhkan Polri sebagai eksekutor. Akibatnya, semua orang akan menuding Polri tidak bisa melakukan tugasnya,'' katanya.(sas-48t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA