| Senin, 28 Nopember 2005 | OLAHRAGA |
''Keeltjes Jangan Terbawa Arus Publik Jepara''JEPARA -Dalam mengakomodasi pemain lokal Jepara, pelatih Persijap Rudy William Keeltjes diingatkan agar tidak larut pada tuntutan publik bola. Sebaliknya, asas profesionalisme dalam membawa pasukannya pada musim kompetisi mendatang, tetap dijunjung tingggi. ''Boleh-boleh saja memenuhi tuntutan mengakomodasi pemain lokal, asal tidak mengabaikan tuntutan sepakbola profesional,'' tegas Punto Wiyono, anggota Komisi pelatih Persijap, di Kantor Perwakilan Suara Merdeka Jepara semalam. Kehadiran pemain asli Jepara disebutnya memang sangat diharapkan publik bola Kota Ukir. Fanatisme penonton akan tampak lebih bergairah, manakala menyaksikan produk lokal menjadi andalan di lapangan. Contoh nyata, ketika Persijap berlaga di Kompetisi Liga Indonesia (KLI) VII Tahun 2000/2001. Tampilnya sejumlah pemain yang pernah membela Persijap Yunior, terasa memiliki daya sedot tinggi. Selain itu, bergabungnya sejumlah pemain dari daerah sekitar, seperti Pati, Kudus, Blora, dan Semarang pun mampu menyedit penonton dari daerah tersebut ikut memadati Stadion Kamal Djunaidi, ketika ''Laskar Kalinyamat'' menjamu lawan. Komposisi tim Persijap berbeda jauh dibanding ketika tampil lagi di kompetisi divisi utama 2004/2005. Di jajaran pemain inti -yang siap tampil sebagai starter- tidak ada produk asli Jepara. Memang ada sejumlah pemain muda, yang sesekali tampil sebagai pemain pengganti, atau tidak main full time. Selebihnya, ada pemain berstatus magang. Tampilnya sejumlah pemain bintang dan bergaji mahal, dirasakan hambar oleh penonton, karena tidak seimbang dengan prestasi tim. Kesebelasan kebanggaan orang Jepara itu hanya di peringkat ke-12 -dari 14 tim wilayah timur. Masih beruntung selamat dari degradasi, karena hanya dua tim dari Wilayah Timur, dan dua tim Wilayah Barat yang terlempar ke divisi I. Masa Depan ''Tuntutan masyarakat yang ingin melihat pemain yang pernah dibesarkan di Jepara itu sangat wajar. Hanya saja, memang tidak mudah untuk memenuhinya. Pemain Jepara yang saat ini bermain di tim lain, juga belum tentu mau pulang walau dengan iming-iming gaji yang tak kalah dari tim lama,'' tambahnya ''Ini eranya sepakbola pro, pemain bebas memilih tim yang menjanjikan masa depan lebih bagus, atau merasa lebih sreg jika main di luar kota,'' lanjut pria yang pernah membela klub Galatama Warna Agung Jakarta pada awal 1980-an. Untuk itu, jika memang Persijap masih kesulitan memulangkan produk lokal yang berkualitas, tidak usah dipaksakan. (kar-22) |