| Senin, 28 Nopember 2005 | WACANA |
tajuk rencanaSEA Games sebagai Sasaran Antara-Sebagai pesta olahraga di kawasan Asia Tenggara, SEA Games memang mampu menancapkan eksistensinya. Ajang dua tahunan itu relatif bisa digelar sesuai dengan jadwal, yang menyisakan banyak kenangan akan keketatan persaingan. Status juara umum yang pernah jadi milik Indonesia beberapa kali, kini berpindah. Posisi Thailand pun digeser. Pada SEA Games 2003 di Vietnam, tuan rumah berhasil keluar sebagai juara umum. Akankah dalam SEA Games XXIII di Filipina yang dibuka Minggu besok (27/11), kembali tuan rumah bakal menjadi pengumpul medali terbanyak? Kecurigaan pihak penyelenggara bakal memanfaatkan celah-celah yang bisa diterobos untuk keuntungan atlet negaranya memang menjadi isu sentral dalam setiap SEA Games. -Pintu masuk bagi negeri pelaksana untuk mengangkat gengsi olahraganya biasanya berupa pencantuman cabang-cabang yang memang menjadi keunggulannya dalam daftar pertandingan. Tak heran bila sering ada cabang-cabang yang sama sekali tidak populer di luar negeri justru diperlombakan. Itu juga terjadi dalam SEA Games kali ini, antara lain lewat penyelenggaraan arnis dan lawn bowl. Cabang dansa yang relatif belum berkembang di Indonesia, juga bakal digelar di Filipina. Titik-titik kritis lain tertuju pada cabang-cabang yang memiliki subjektivitas tinggi dalam penilaian. Apalagi memang banyak cabang olahraga yang memiliki karakteristik demikian. Tetapi, kecurigaan-kecurigaan itu bisa dipandang aspek positifnya, bila memang SEA Games benar-benar dikehendaki sebagai upaya meningkatkan persahabatan dan mengangkat prestasi negara-negara anggota ASEAN. -Sebenarnya ada sejumlah cabang olahraga yang memang benar-benar asli Asia Tenggara, seperti sepak takraw dan pencak silat. Ketika Indonesia memasukkan pencak silat di SEA Games saat menjadi tuan rumah, tentu negara lain memandangnya sebagai salah satu kiat untuk keluar sebagai juara umum. Dalam perkembangannya ternyata pencak silat telah berkembang di banyak negara, bahkan lintas benua. Dalam SEA Games dua tahun lalu di Vietnam, keperkasaan Indonesia malah tak tampak. Penyebaran cabang olahraga yang merupakan warisan budaya leluhur suatu bangsa, dengan demikian bisa pula dilakukan lewat SEA Games. Bila masih ada cabang lain yang perkembangannya masih terbatas, asal memang merupakan kesepakatan bersama di antara bangsa-bangsa Asia Tenggara, penyelenggaraannya di SEA Games tentu bukan masalah. -One Heritage, One Southeast Asia (Satu Warisan Budaya, Satu Asia Tenggara) yang menjadi moto penyelenggaran kali ini, bisa diperluas maknanya ke arah kebersamaan akan berbagai persoalan. Kecurigaan-kecurigaan pada kecurangan tuan rumah yang muncul pada setiap penyelenggaraan, menunjukkan masalah profesionalisme memang masih persoalan laten di kawasan ini. Di luar dimensi geografis, historis, dan kultural, negara-negara Asia Tenggara sebenarnya juga relatif punya kesamaan dalam prestasi olahraga. Mereka jelas masih di bawah Asia Timur dalam persaingan di berbagai tingkat. Dengan demikian, SEA Games bisa dijadikan pula sasaran antara untuk secara bersama-sama mencapai jenjang yang lebih tinggi. Asian Games dan Olimpiade merupakan bidikan yang dituju secara kolektif. -Periodisasi baru pelaksanaan SEA Games menjadi faktor strategis untuk dibahas, karena rentang waktu yang sekarang diberlakukan rasanya kurang memberikan ruang bagi munculnya gereget khusus. Makna rutinitas lebih menonjol dalam penyelenggaraan yang dua tahun sekali seperti sekarang. Apalagi frekuensi kejuaraan di sejumlah cabang sudah makin meninggi, seiring dengan makin populernya cabang itu dan dalamnya penetrasi bisnis pada dunia olahraga. Memang penyelenggaraan pada tahun ganjil membuat SEA Games tidak berbenturan dengan Asian Games dan Olimpiade. Namun, waktu dua tahun sekali agaknya bukanlah rentang yang ideal. Tiga tahun sekali bisa menjadi alternatif, sekalipun setiap satu dari dua penyelenggaraannya berbenturan tahun dengan pelaksanaan Asian Games ataupun Olimpiade. -Pelaksanaan yang tiga tahun sekali relatif memberi ''bantalan'' yang kuat untuk membuat pelaksanaannya lebih profesional. Terlebih faktor prasarana dan sarana olahraga memang masih memprihatinkan di kawasan ini. Lihat saja bagaimana repotnya Filipina sekarang. Acara sampai harus disebar ke tiga kota besar, yaitu Manila, Bacolod, dan Cebu. Dulu Brunei Darussalam pernah minta penundaan mengingat belum siapnya mereka menjadi tuan rumah untuk pelaksanaan pada 1997. SEA Games harus pula dimaknai sebagai kesempatan untuk memeratakan prasarana olahraga, supaya tidak hanya tersebar di kawasan tertentu. Thailand telah sukses dengan menjadi negara pertama yang memusatkan penyelenggaraan SEA Games di luar ibu kota. Memang SEA Games harus direvitalisasi, agar tidak hanya menonjolkan aspek rutinitas semata. |